Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Derita sang asisten


__ADS_3

Pov Chiko.


Pagi yang melelahkan. Aku harus terus berkutat dengan berkas berkas bedebah ini. Andai saja gaji yang ku terima tidak besar, aku akan meninggalkan semuanya dan pergi berlibur ke Bali, mencuci mata melihat bule berjemur. Persetan dengan angka dan data sialan ini.


Semua karena uang dan kehormatan. Ya aku di hormati sebagai tangan kanan tuanku. Seorang CEO mesum yang membuat mata dan telingaku sakit dengan semua tingkah labilnya.


Aku memang cukup pintar, ya paling 10-12 sama atasan mesum ku. wajahku lumayan ganteng. Bisalah di bandingkan dengan artis ibukota, tapi sayangnya aku terbatas waktu. Makanya jadi jomblo akut sampe sekarang. Gara gara tuan sedeng yang selalu ngasih aku kerjakan seabrek.


Mataku sudah panas sedari pagi harus memeriksa data perusahaan yang baru saja menjadi bagian dari Albied. Tuan Alex memang hebat, dia bisa dalam sekejap saja menjadikan SS Group miliknya, hanya dalam hitungan hari. Akan tetapi tentu saja semua itu tak lepas dari kerja kerasku.


Aku akui dia memang jenius dan murah hati, walaupun dia suka seenaknya jidatnya sendiri memberikan perintah. Terutama saat menyangkut kepentingan wanita kesayangannya itu.


Aku memejamkan mataku sejenak. Memberikan waktu istirahat pada jari tanganku.


Aku berdecak kesal saat mendengar suara notifikasi email di laptopku. Dengan malas aku kembali menyentuh papan keyboard di hadapanku.


"Gila!"


Rasanya aku mau jungkir balik saking senangnya. Email itu berisi sebuah kabar yang pasti akan membuatku menerima bonus besar bulan ini. Mungkin aku bisa membeli Lamborghini Gallardo hanya dengan bonus yang aku terima nanti.


"Hahaha.. ini benar benar bulan penuh berkah selain ramadhan," aku tertawa dengan keras. Mungin kalau aku berada di ruangan staf biasa aku akan jadi bahan perhatian karena tawaku yang mengelegar.


"Ah... senangnya Lamborghini Gallardo tunggu aku," ucapku dengan lantang.


Aku bangkit dari kursi penyiksaan yang menghasilkan dolar dan rupiah ini. Dengan langkah seribu semangat perjuangan aku melangkah pergi. Tujuanku satu ruangan CEO sipit mesum itu.


Aku mendorong pintu dengan kuat, mungkin aku terlalu bersemangat karena membayangkan Lamborghini idamanku.


"Tuan ada yang haru-


Ucapan ku terhenti.


'Edan! Apa mereka tidak punya tempat lain untuk melakukan hal itu,' umpatku dalam hati.


Tuan Alex memiringkan kepalanya agar bisa melihatku. Dia menatapku dengan tatapannya yang seperti siap mengulitiku hidup hidup. Aku hanya bisa menelan ludahku dengan kasar. Di sudut bibir Tuan Alex ada noda lipstik dan rambutnya yang terlihat acak-acakan. Permainan apa sebenarnya yang mereka mainkan? Sementara Nyonya duduk di atas meja kerja Tuan sambil sibuk merapikan bajunya. Walaupun dia memunggungi ku. aku bisa merasakan rasa gugupnya. Dia pasti sangat malu sekarang.


Argh.. sial! aku masuk di waktu yang salah. Bukannya dapat bonus bisa bisa hajiku di potong habis bulan ini," gumamku dalam hati, mana berani aku mengucapkannya langsung. Bisa di geprek aku.


Tuan Alex terus menatapku. Seperti mengisyaratkan agar aku segera pergi. Aku pun menunduk hormat.


"Maafkan saya Tuan," ucapku lalu aku membalikkan tubuh dan segera mengambil langkah seribu keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Sial kenapa mereka melakukannya di kantor, apa tidak bisa di rumah saja. Badanku jadi ikut meriang melihat adegan panas itu. Enggak bisa, aku ga bisa seperti ini terus, aku harus segera menikah!"


Setelah sampai di ruanganku, aku pun segera membuka aplikasi online di ponselku. Setelah memasukkan data diri dan kriteria pasangan. Tak lama ada kemudian terdapat pesan bahwa satu dari kandidat mereka 99% cocok dengan kriteria ku. Aku pun tersenyum lebar.


"Ini saatnya aku melepaskan masa jomblo ku. semoga sangkar ini cocok dengan burung milikku."


Setelah menjadwalkan tanggal kencan pertamaku, aku pun meletakkan ponsel di nakas. Sebenarnya aku sudah enggan mengerjakan pekerjaan sialan ini. Sudahlah, yang penting cukup buat modal nikah, walaupun lelah asalkan rekeningku terus di kasih makan porsi besar sama atasan mesum yang laknat itu.


POV Chiko off.


*******


Suara des*han terdengar bersahutan dari dalam ruangan itu. Arie merapatkan tubuhnya yang bergetar saat akan mencapai puncaknya. Nafasnya terengah-engah merasakan gelombang kenikmatan datang menghantam.


Berbeda dengan Alex yang masih bermain di belakang Arie. Memilin ujung berwarna pink yang sangat ia sukai.


"Su- sudah ya aku sudah lelah," lirih Arie dengan suaranya yang terbata.


"Sekali lagi, ok."


"Dari tadi juga bilang begitu!" ketus Arie. Ia merasa begitu lelah karena Alex tak henti memenuhi intinya dengan cairan lava miliknya.


Alex menyeringai, ia memang tak pernah puas dengan hanya dengan sekali pelepasan saja. Alex mencabut miliknya dari inti istrinya. Ia mengendong tubuh Akan yang sudah kelelahan itu, lalu membaringkan di atas ranjang. Memulai lagi permainan panas di siang bolong.


Arie terlelap tanpa busana, meringkuk dalam selimut memunggungi suaminya. Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Arie, membuatnya mengeliat kecil. Alex tersenyum puas melihat Arie yang kelelahan karena ulahnya.


Jam dinding menunjukkan pukul tiga sore. Sudah lewat beberapa jam sejak mereka memulai permainan ranjang. Setelah membersihkan dirinya Alex pun keluar dari kamar, ia berjalan ke arah mejanya dan segera merai gagang telepon.


"Keruang ku sekarang." ucap Alex singkat lalu meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya.


Tak selang berapa lama. Chiko masuk ke ruangan Alex, dengan mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia takut ternoda lagi melihat adegan panas bosnya.


"Apa yang ingin kau sampaikan tadi." Alex menopangkan dagunya di atas kedua jemari tangannya yang saling bertaut.


"Mr.Huang memberikan kabar baik tuan. Bright corp sudah di ambang batas. Hutang mereka sudah melebihi harga saham mereka sendiri," ucap Chiko dengan mantap. Senyum lebar mengembang di wajahnya.


"Berapa saham yang kita dapat, jika mereka tidak bisa melunasi hutang-hutangnya."


"Hampir 65 % persen belum termasuk bunga seperti yang tuan syaratkan."


"Bagus...bagus, selesaikan semua dengan baik, aku ingin keluarga Sasongko merangkak, mengemis maaf padaku," tukas Alex dengan senyum smirk yang mengerikan.

__ADS_1


Chiko sedikit ngeri melihatnya. Ia memang tidak tahu, apa kesalahan keluarga Sasongko pada tuannya. Sehingga membuat Alex ingin balas dendam dan menghancurkan semua bisnis mereka.


"Saya dapat bonus kan tuan," ucap Chiko dengan mata berbinar.


"Bonus! jangan harap. Apa kau tidak merasa bersalah, setelah mengganggu kesenanganku!" hardik Alex geram.


Wajah sang asisten pun seketika berubah layu. Hilang sudah Lamborghini idamannya.


"Maafkan saya tuan."


"Ck, maaf. Makanya jangan jadi lalat jomblo terus, bisanya ganggu orang seneng. Nikah Sono!"


"Maunya juga begitu tuan, tapi di suruh tuan kerja terus mana ada waktu buat cari cewek," lirih Chiko memelas pada dirinya sendiri.


Alex yang mendengar hal itu pun geram sekaligus merasa lucu. Sebenarnya ucapan Chiko benar juga.


"O, jadi kau menyalahkan aku karena ke jombloan akutmu itu. Gajimu bulan depan ku potong 30%!"


"Jangan tuan."


"40%."


"Tuan saya mohon."


"50%."


Chiko pun diam menunduk, karena semakin dia membantah semakin habis gajinya.


"Sayang kenapa berisik sekali, aku capek pingin tidur," rengek Arie dari pintu penghubung antara ruang kerja dan tempat istirahat Alex.


Alex langsung bangkit dari duduknya, berjalan menghampiri Arie yang berdiri di ambang pintu. Dengan baju yang di pakai sekenanya. Rambutnya masih semerawut, leher dan dadanya penuh bercak merah keunguan.


"Kenapa kau bangun?" Alex berdiri di depan Arie, ia menjadi tubuhnya sebagai penghalang agar asistennya tidak melihat kerah baju istrinya yang tidak di kancingkan dengan baik.


"Kalian berisik sekali aku tidak bisa tidur. Tapi aku juga lapar. Kau tega membiarkan istrimu kelaparan setelah memakanku," ucap Arie manja dengan bibirnya yang di manyunkan.


"Maafkan aku, masuklah aku akan membelikan makanan untukmu," ucap Alex lembut, sambil merapikan rambut istrinya yang berantakan. Arie mengangguk kecil lalu kembali masuk ke kamar.


Alex membalikkan badannya dan menatap Chiko yang sedang menunduk dengan tajam.


"Tidak ada gaji bulan depan. Dan cepat beli makan siang untuk istriku!" titah Alex.

__ADS_1


"Baik tuan!"


Dengan langkah gontai Chiko keluar dari ruangan Tuannya. Jauh sudah Lamborghini idamannya, dan bagaimana dengan kencan buta nya. Chiko hanya bisa menangis dalam hati. Ternyata Alex bukan hanya seorang CEO mesum tapi juga diktaktor kejam yang tidak berperi kebawahan.


__ADS_2