
"Alex.... Alex.. keluar kau bajingan," seorang wanita dengan berkacak pinggang dan mata yang basah, membuat keributan di depan Apartemen Alex. dia memencet bel pintu sampai berkali-kali, mengedor pintu yang tak bersalah.
"Iya, iya sebentar," Arie yang baru selesai merapikan makan siang untuk Alex, segera bergegas membuka pintu.
"Kau siapa, dimana bajingan itu," wanita itu terlihat marah.
"Saya Arie, Mba cari siapa?" Arie berusaha tenang menghadapi wanita di depannya.
"Oh... jadi kau istri dari bajingan itu, katakan dimana dia sekarang. cepat katakan," ucap wanita itu sambil berderai air mata.
"Mari masuk dulu, Mba kita bicarakan di dalam," Arie mempersilahkan wanita itu masuk. wanita itu pun mengikuti langkah Arie masuk kedalam apartemen.
"Silahkan duduk Mba."
"Mba..Mba.. Nona Siska,"ucap wanita itu dengan pongah.
"O.. Mba Siska," Arie mendudukan diri di sofa dengan anggun, melipat kedua tangannya, dan menumpukan satu kaki di atas kakinya yang lain.
Tatapan Arie nampak berbeda, Arie yang tadi dengan sopan mempersiapkan wanita bernama Siska itu masuk, sekarang menatap wanita itu dengan dingin. sepertinya wanita itu bisa merasakan perbedaan yang terjadi pada Arie.
"Kenapa berdiri, duduk," ucap Arie dengan tegas. Siska pun patuh dan duduk di sofa berhadapan dengan Arie.
"Siapa Anda, berani menyebut suami saya bajingan," Suara Arie terdengar datar.
"Oria itu Alex, dia telah menghamili ku."
"Jadi Anda menuduh suami saya menghamili Anda."
"Aku tidak menuduh, aku punya bukti," Siska mengeluarkan beberapa lembar foto, nampak Alex duduk dengan merengkuh Siska di sampingnya, dan foto lainnya Alex tidur di ranjang dengan Siska, di samping nampak Alex telanjang dada dan Siska memakai selimut sampai lehernya.
Arie menghembuskan nafas panjang, menggelengkan kepalanya.
"Anda kira ini cukup sebagai bukti Nona."
Siska menelan ludahnya kasar, seharusnya bukan begini, seharusnya Arie menangis, marah, melihat semua foto mesranya dengan Alex, bukankah dia istri sahnya, kenapa dia tidak marah saat Siska mengatakan bahwa dia hamil anak suaminya. Siska hanya diam.
"Baiklah kalau kau merasa Alex benar benar menghamili mu, ayo ikut aku," Arie beranjak dari duduknya tangannya mengulur mengandeng lengan Siska.
"Kita .. mau kemana," tanya Siska dengan raut wajah yang terlihat gugup.
"Kemana lagi, ke rumah sakit trus ke kantor polisi," jawab Arie enteng.
"Ngapain... ke sana.." Siska mulai takut, saat Arie menyinggung soal polisi.
"Hmm.. kau ini bodoh atau apa, apa kau hanya bisa jual diri tapi ga punya otak, kita tes DNA, kita cocokan DNA anakmu dengan Alex, lalu kita buat laporan ke polisi, mudahkan."
"La..por..po..li..si.." Siska tergagap jelas dia sangat takut, wajahnya nampak pucat.
__ADS_1
"Iya kenapa, kau takut," Arie melepaskan tangannya dari lengan Siska. kembali duduk di tempatnya semula.
"Jau pikir aku akan percaya tanpa bukti yang kongkrit Nona, jujur siapa yang menyuruhmu."
Arie menatap tajam pada Siska yang menunduk, dia meremas ujung rok pendek yang di pakainya.
"Aku tidak akan menuntut Anda, jujurlah dan aku akan membantumu."
Lidah Siska terasa kelu, keringat dingin mulai membasahi tangannya.
"Cepatlah aku tidak punya banyak waktu," desak Arie.
"Iya baik" Siska mengambil nafas dalam dia tidak punya pilihan lain, dia tidak mau berurusan dengan polisi.
"Saya di suruh seseorang untuk mengaku, kalau saya mengandung anak dari Alex."
"Siapa yang menyuruhmu."
"Saya tidak tahu, saya hanya di beri informasi tentang Alex, dan sejumlah uang sebagai imbalannya," Siska tak berani menatap Arie, dia tertunduk menatap kakinya sendiri.
"Dia hanya bilang, kalau saya harus membuat istri Alex percaya dengan apa yang saya ucapkan. dan dia akan memberi imbalan lebih saat pekerjaan ini selesai."
"Hemh... kenapa kau melakukan ini," mendengar suara Arie merendah, Siska mulai mengangkat wajahnya.
"Aku terpaksa, aku butuh uang itu, kau tahu aku seorang janda aku butuh uang untuk menghidupi anakku," Mata Siska berkaca kaca. jujur Arie merasa iba sebagai sesama manusia dia tahu bagaimana kerasnya kehidupan di kota ini.
"Sebenarnya suami mu adalah langganan di club tempat saya bekerja, dan foto foto di ambil saat dia bersama teman temannya, saat Alex mabuk," jelas Siska tegas.
"Cukup," Arie mematikan ponselnya yang merekam percakapan mereka
"Sekarang mba ikut aku," Arie menarik tangan Siska dengan lembut.
"Kemana?" Siska merasa takut.
"Udah ikut aja."
Mereka berdua keluar dari apartemen, menuju basement. Ipul yang tadi telah di hubungi Arie telah stand by di mobilnya.
dengan cekatan Ipul membuka pintu mobil untuk kedua wanita cantik itu, ipul. sejenak Ipul terpana dengan senyum manis Siska.
"Pul .. ayo."
"Eh..iya Mba Bosss." Ipul sedikit gelagapan, dia segera menutup pintu mobil untuk Siska, dan beranjak ke arah bangku kemudi.
Mobil pun melaju menembus keramaian pagi kota Surabaya yang menjelang siang ini.
"Berapa DP yang mereka berikan padamu Mba." tanya Arie singkat.
__ADS_1
"Satu juta, katanya nanti di kasih lima juta kalau berhasil," lirih Siska, dia merasa begitu bersalah kepada Arie.
"Hemnh," Arie menghembuskan nafasnya pelan.
Akhirnya mobil terhenti di sebuah supermarket, Arie meminta Siska untuk membeli semua kebutuhan yang dia perlukan untuk sebulan. awalnya Siska menolaknya, namun Arie malah mengancam akan melaporkan dia ke polisi kalau dia menolak, akhirnya Siska menuruti permintaan Arie. setelah sesi belanja selesai Arie menyuruh Siska menunggu di mobil, sedangkan dirinya pergi entah kemana.
Tak berapa lama Arie kembali ke dalam mobil.
"Pul ya opo oleh." [Pul bagaimana dapat] Arie langsung menodong Ipul dengan pertanyaan.
"Sampean iku Mba Boss, ngekei tugas dadakan. ngene koyo tahu bulat, untung koncoku akeh, beres." [Anda Itu Mba Boss memberikan tugas dadakan seperti tahu bulat. untung saja temanku banyak jadi beres.] Ipul mengacungkan jempolnya.
"Pinter."
"Mba Siska sementara ga usah kerja dulu, ini buat kebutuhan satu bulan dan sebentar lagi pindah rumah ya. Emh...saya lupa tanya, Mba Siska kontak apa rumah sendiri."
"Kontrak Mba." lirih Siska, tangan Siska gemetar saat Arie meletakkan amplop coklat di atas tangannya.
"Mba, kenapa Mba baik sama saya, saya ... " air mata Siska mulai berderai, orang yang akan dia hancurkan rumah tangganya, malah mengulurkan tangannya untuk menolong.
"Udah Mba, Mba Siska ga salah, hanya keadaannya yang kurang menguntungkan," Arie merengkuh Siska dalam pelukannya, Ipul yang memandang dua wanita cantik itu berpelukan ikut terharu.
"Udah ya mba, wes ojo nanges" [udah ya mba sedang jangan nangis] Arie menepuk bahu Siska pelan. Siska menyusutkan air matanya.
"Ipul ewangi, Mba Siska pindahan sampe mari, ok" [Ipul bantu Mba Siska pindahan sampai selesai, ok]
"Asiap Mba Boss, lha sampean ya opo?"[ Asiap Mba Boss, lalu bagaimana dengan Anda?]
"Gampang akeh ojek, barek an wes jam makan siang ko Alex ngamuk aku nek telat." [gampang banyak ojek, lagian sudah jam makan siang, nanti Alex mengamuk kalau aku telat.]
"Pingin eruh patung es ngamuk aku,"[saya ingin lihat patung es ngamuk] Ipul menutup mulutnya.
"Eh... supir ga sopan," namun Arie juga tergelak dengan ucapan Ipul.
Hampir semua orang di kantor memang bilang kalau Alex sangat dingin tak banyak bicara, dan hampir tak pernah tersenyum. namun Alex yang di kenal Arie di rumah malah sebaliknya, cerewet dan suka mengatur.
Arie pun naik ojek kembali ke apartemen untuk mengambil kotak makan siang Alex, dan naik kendaraan yang sama untuk pergi ke kantor. Tatapan Alex terus mengekor pada Arie yang baru saja masuk ke ruangannya, dan mempersiapkan makan siang di meja.
"Kenapa kau naik motor, kemana Ipul?"
"Emh.. Ipul sedang mengerjakan tugas khusus dariku," jawab Arie santai.
"Tugas khusus apa, hingga membuat mu harus naik kendaraan itu," Alex berdiri dihadapan Arie, mencondongkan tubuhnya mendekat.
"Kendaraan apa, ojek maksud mu."
"Kau tidak boleh naik itu lagi," Ada kilatan amarah di matanya.
__ADS_1
Arie diam diam mengulum senyum tipis di bibirnya, amarah itu mengisyaratkan sesuatu yang terjadi dalam hati Alex.