Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Hati yang samar


__ADS_3

Tama duduk di samping brankar Naoki, matanya melihat wajah mungil itu, tapi dalam benaknya terbayang wajah ibunya, sungguh membuatnya pusing.


"Sial."


Tama segera bangkit dari duduknya, berjalan keluar kearah ruang kerja para perawat. Beberapa dari perawatan yang bertugas sempat terkejut dengan kedatangan dokter muda itu.


"Ada yang bisa saya bantu Dokter?" tanya seorang perawat senior yang bertugas malam.


"Tolong tugaskan satu perawat untuk menjaga anakku di kamar nomer 3, aku harus pergi."


"Baik Dokter, saya sendiri yang akan menjaganya," jawab Perawat itu.


"Terima kasih."


"Sama sama."


Tama pun segera pergi dengan langkah lebarnya.


"Dokter Tama tadi bilang, anaknya,?"


"Bukankah dia belum menikah?"


"Hah, patah sudah hatiku," celetuk salah satu suster.


"Sudah diam, apa kalian pikir aku tidak patah hati," ujar perawat senior yang akan menjaga Naoki.


"Senior, berkurang sudah idola kita."


Tama segera mengendarai mobil, mengamati GPS, yang dia sambungkan diam diam ia sambungkan ke ponsel Siska. Tak berapa lama Tama pun sampai di club tempat Siska berkerja.


Tama menggulung lengan kemejanya sampai ke siku, membuka dua kancing kemejanya. Tama segera turun dari mobilnya, dan segera masuk ke dalam club.


Dentuman musik DJ menyambut Tama, mata dokter muda itu memindai ke seluruh ruangan yang penuh dengan hiruk pikuk manusia yang sedang menikmati malam mereka.


Matanya terhenti saat melihat seseorang wanita yang sedang melayani, beberapa pria, mereka terlihat tertawa bersama, sekali pria itu mengelus lengan Siska. Tangan Tama mengepal kuat, dia merasa tidak suka melihat pemandangan itu.


Siska terhenyak saat sebuah tangan tiba-tiba menariknya, tubuh Siska sempat akan terjatuh karena tidak bisa mengimbangi langkah pria yang ada di depannya. Pria yang terus berjalan dengan cepat, Siska hanya bisa memandang punggung pria itu.


"Apa yang Anda lakukan," Siska berusaha melepaskan tangannya, tapi tangan itu dengan kuat mencengkramnya.


Tak menghiraukan Siska yang terus meronta, pria itu hanya terus berjalan sampai di tempat yang lebih sepi. Tama menghempaskan tubuh Siska, hingga membuat punggung wanita itu menabrak dinding dengan keras. Alih-alih merasakan sakit, Siska malah di buat takut dengan sorot mata pria yang mengunci pergerakannya.

__ADS_1


"Dokter," lirih Siska, Tama tersenyum miring dengan sorot matanya yang tajam.


Siska menelan ludahnya, tatapan pria itu seakan-akan ingin mengulitinya hidup hidup, baru kali ini Siska melihat amarah di wajah yang ada di hadapannya.


"Masih memanggil ku Dokter, Hem."


"Ma-maafkan saya, Mas," jawab Siska terbata-bata.


"Apa yang Dok-, maksud saya Mas Tama lakukan di sini," tanya Siska memberanikan dirinya.


"Aku, kau bertanya tentang aku, bagaimana kalau aku yang bertanya, apa yang seorang istri lakukan si tempat seperti ini?"


"Ini pekerjaan saya, di sini saya mencari uang untuk hidup saya, apa ada yang salah dengan itu,"


"Jelas itu salah, apa kau tidak sadar dengan status mu sekarang, kau istri dari seorang Dokter, ingat itu," hardik Tama. mengingat saat laki-laki itu memegang lengan Siska membuat Tama semakin marah


"Jika Dokter merasa malu dengan perkerjaan yang saya lakukan, silahkan Anda pergi."


Lebih baik seperti ini, pergilah sebelum aku mengenalmu lebih, sebelum aku bergantung padamu, pergilah pergi dari hidupku.


"Tidak semudah itu, setelah menjebakku, kau ingin aku melepaskan mu begitu saja, jangan harap," Tama semakin geram, dia mencengkeram kedua lengan Siska dengan kuat.


"Saya tidak pernah menjebak kamu, kau sedang mabuk dan aku hanya kasihan padamu!" bentak Siska, dengan meringis menahan sakit.


"Kasihan? jangan membuatku tertawa, apa wanita seperti mu punya belas kasih."


"Sepertiku, seperti apa maksudmu?" Siska sudah tahu Jawabannya, tapi dia masih terus bertanya.


"Seperti mu, kau mengasihani pria mabuk, dan membawa pulang ke rumahmu, iya!" bentak Tama.


Siska tertawa, tawa yang getir. Mendengar cemoohan Tama. Semua orang sama, tak ada bedanya. Wanita murahan, kata itu seperti sudah tertempel di atas kening Siska.


"Apa yang lucu kenapa kau tertawa," Tama semakin geram dengan sikap Siska yang seolah meremehkannya.


"Tebakan mu tepat sekali Dokter, karena itu aku tertawa, kau bukan pria mabuk pertama yang aku bawa pulang, dan dengan bodohnya kau menikahi aku hahahaha," tawa Siska semakin pecah, sampai air matanya menetes keluar.


Sakit hati, hati wanita malam itu sudah mati rasa saat suaminya meninggal dia begitu saja, tapi entahlah ada rasa kecewa saat pria di hadapannya kini turut menyandang kan gelar wanita murahan padanya, seorang pria yang mulai lalu lalang di kehidupannya beberapa hari ini.


Tama menatap wajah Siska yang tengah tertawa. Namun, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Tama mengendurkan cengkramnya


"Maafkan saya Dokter, saya harus melanjutkan pekerjaan saya," Siksa menepis tangan Tama yang ada di sisi kanannya.

__ADS_1


"Lebih baik Anda segera pergi, dan saya harap kita tidak akan bertemu lagi," ucap Siska dengan bibirnya yang bergetar.


Begini lebih baik, pergilah. lirih Siska dalam hatinya.


Wanita itu melangkah meninggalkan Tama, dan mengusap wajah yang basah dengan tangannya. Tama berusaha mengejarnya tapi terlambat, Siska sudah hilang dalam kerumunan manusia dalam club.


"Sial," Tama meruntuki dirinya sendiri.


Tama sendiri tidak tahu pasti apa yang di inginkan hatinya. Dia masih mencintai Arie. Namun, kehadiran Siska membuatnya lupa akan sakit hatinya, dan wanita itu membuat dia marah saat ia biarkan dirinya di sentuh oleh orang lain.


Tama terus melangkah mencari keberadaan istri sirinya, hingga menimbulkan keributan karena tamu yang merasa terganggu dengan kelakuan Tama.


Untuk ke dua kalinya Tama di seret keluar dari club itu.


"Tuan sepertinya Anda suka sekali mencari masalah di sini," ujar salah satpam satu, yang berjaga di depan pintu masuk.


"Apa maksudmu?"


"Bukankah Tuan orang yang sama, seminggu yang lalu Anda juga di seret keluar karena mabuk dan membuat keributan," jawab satpam satu.


"Eh kau benar juga, untung saja Mba Siska bawa Tuan pulang, kalau tidak entah apa yang terjadi pada Tuan," timpal satpam dua.


Tama mendengarkan percakapan dua satpam itu dengan seksama.


"Memangnya apa yang terjadi pada saya waktu itu?" tanya Tama.


"Malam itu hujan deras Tuan, awalnya Mba Siska minta tolong saya bawa Tuan pulang, tapi saya ga bisa takut istri saya marah, ya terpaksa Mba Siska bawa Tuan pulang," jawab satpam satu.


"Iya padahal Mba Siska ga pernah gitu lho ya," ucap Satpam dua.


"Ya mungkin dia kasian sama Tuan ini, lagian di sini juga rawan."


"Iya kau benar."


"Pak, apa saya bisa minta tolong?" tanya Tama pada kedua satpam yang tengah berjaga.


"Minta tolong apa Tuan?" jawab kedua satpam itu serempak.


"Saya mau semua informasi tentang Siska, tenang saya akan memberikan imbalan atas informasi yang Bapak berdua berikan," bujuk Tama mencoba meyakinkan.


Kedua satpam itu saling berpandangan, siapa yang tergiur dengan kata imbalan, keduanya pun mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2