
Mata Arie terasa berat, akhirnya dia malah terlelap dalam pelukan Alex, dengan hati hati Alex meletakkan kepala Arie yang semula bertumpu di lengannya, perlahan Alex bangkit dan duduk di tepi ranjangnya, dia segera mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Halo, Tuan Alex" jawab Chiko dengan nada tinggi, dia terkejut mendapatkan telepon dari atasannya.
"Hmm.. bisa kau kecilkan suara mu"
"Maaf Tuan"
"Segera periksa semua cctv di kantor, setelah itu laporan hasilnya padaku, secepatnya"
"Baik, Tuan"
Alex memutuskan sambungan teleponnya, Arie mengeliat , menggerjapkan matanya.
"Alex, apa kau butuh sesuatu?" ucap Arie saat mendapati suaminya yang duduk di tepi ranjang.
"Aku hanya ingin mengambil minum,"
"Aku akan mengambilnya" Arie langsung bangkit dari tempat tidurnya, bergegas ke dapur mengambil segelas susu untuk suaminya.
"Minumlah" Arie menyodorkan segelas susu. Alex mengeryitkan dahinya.
"Aku ingin air putih saja"
"Ini saja, aku mau lihat kamu minum ini"
"Kenapa,"
"Ga tau pengen aja, ayolah cepat minum"
Alex pun menuruti kemauan istrinya, Arie tersenyum sambil memperhatikan jakun Alex yang naik turun menelan cairan putih yang di bawanya, setelah minum itu tandas wajah Arie tampak kecewa.
"Ya habis, lagi ya"
"Aku sudah tidak haus lagi,"
__ADS_1
Penolakan Alex membuat mata Arie berkaca kaca, sambil mengigit bibir bawahnya, menahan bendungan di matanya agar tidak jebol, Alex merasa tidak tega melihatnya, akhirnya Alex mengalah.
"Baiklah segelas lagi, ok" wajah Arie langsung berseri, dengan segera dia meraih gelas kosong di tangan Alex, berlari kecil menuju dapur dan mengisinya dengan penuh.
"Ini" Arie menyodorkan lagi segelas penuh susu kepada Alex, dengan senyum yang dipaksakan Alex menerima gelas itu dan segera meminumnya. Arie terlihat sangat antusias melihat Alex menghabiskan susu yang ia bawakan.
"Haaaeekk"
Alex bersendawa dengan begitu keras setelah menghabiskan gelas ke dua.
"Sudah cukup" Alex merasa begah, perutnya terisak penuh hanya dengan meminum dua gelas besar susu yang di berikan Arie.
Melihat raut wajah Alex yang meringis seperti kesakitan membuat Arie merasa iba, tapi dia juga sangat melihat Alex meminum susu lagi.
"Satu gelas lagi"
"Tidak, perutku sudah penuh"
"Satu saja , please"
"Alex jahat" tangan Arie mengepal, cairan bening kini sudah meleleh di pipinya, Dengan langkah yang di hentakan ia meninggalkan kamar Alex.
Alex segera menyusul istrinya, dengan susah payah dia berjalan, badannya masih terasa lemas, dengan langkah terseret sambil memegang tiang infus, Alex mencari keberadaan istrinya.
Setelah mondar mandir akhirnya Alex menemukan Arie duduk di balkon, seperti kebiasaan lamanya saat menunggu Alex pulang dari kantor, Arie duduk di lantai memeluk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di atasnya. Arie menangis, Alex bisa tau dari punggung Arie yang bergetar naik turun, perlahan Alex mendekati Arie, membelai pucuk rambutnya, namun segera di tepis oleh Arie.
"Pergi" lirih Arie dengan suara yang bergetar. Alex terkejut dengan tingkah Arie.
Ada apa dengannya, apa dia sedang stres karena masalah kantor tadi, atau dia sedang datang bulan, aku harus membawanya ke seorang psikiater, Alex masih penasaran Kenapa hal sekecil ini bisa membuatnya menangis, Alex mengusap wajahnya kasar dengan satu tangannya.
Sabar Alex sabar, gumam Alex dalam hati.
"Arie, ayo masuk" ucap Alex lagi, mengelus pucuk rambut Arie lagi. Arie menggeleng cepat.
"Apa kau lapar, mau makan sesuatu" bujuk Alex lagi. mendengar kata makan membuat Arie bersemangat , dia mengangkat wajahnya, mengusap pipinya yang telah basah.
__ADS_1
"Aku ingin makan duren," ucap Arie manja.
"Duren" Alex mengerutkan keningnya, nama buah yang asing di telinganya.
"Iya Duren, D-U-R-I-A-N" ujar Arie yang sekarang sudah bangkit dari duduknya.
Mulut Alex ber o ria, tunggu durian, buah dengan seribu duri dan bau yang sangat sangat menyengat, buah dari segala buah, oh no.
"Bisa buah yang lain " ucap Alex sambil memasang senyum termanisnya, Arie kembali mengigit bibir bawahnya, tanggulnya sudah mau jebol lagi.
"Ok .. ok.. kita akan makan durian, tapi kita pesan makanan lain dulu, ga baik makan durian kalau perut lagi kosong" bujuk Alex. Arie pun mengangguk pelan.
"Yes" Alex bersorak dalam hati, Alex harap setelah makan Arie bisa lupa soal durian.
Alex memesan beberapa makanan dari restoran ternama, setelah setengah jam, makanan pun di kirim dan sampailah dengan selamat di atas meja makan Apartemen Alex.
Mata Arie berbinar saat melihat berbagai menu yang ada di hadapan, aroma dari makanan itu benar benar membangkitkan selera makannya, Arie menyantap makanannya dengan lahap, seperti orang yang tak pernah makan, Arie memasukkan makanan ke dalam mulutnya meski dia belum selesai mengunyah.
"Pelan pelan, Alex mengusap ujung bibir Arie dengan tissue, Arie tak menggubrisnya di terus makan dengan caranya, Alex sendiri menikmati makanannya dengan tenang.
Drrrt... drrrt..
Ponsel Alex bergetar, ia menghentikan aktivitas makannya, mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya. sebuah notifikasi pesan masuk, sebuah pesan dari sekretarisnya, Alex tersenyum puas, sebentar lagi dia akan mengetahui siapa yang mencuri tanda tangannya.
"Alex mana duriannya, aku sudah selesai makan" ucap Arie sambil membersihkan bibirnya.
Ya Tuhan dia masih ingat, gumam Alex dalam hati, sambil memijit pelipisnya.
Alex segera mengirimkan pesan untuk Chiko.
"Sebentar lagi, Chiko masih membelikannya" ujar Alex sambil menaruh kembali ponselnya.
Di tempat lain Chiko sedang menghela nafas panjang.
"Bukankah Nyonya bilang, ini hari liburku, kenapa malah jadi petugas lapangan begini" oceh Chiko pada debu jalanan, tak bisa di bantah, Alex masih Boss baginya. Bagi Chiko yang berhak memecat dirinya hanya Alex, tak ada seorangpun yang berhak selain Tuan sipit itu, Chiko segera memacu mobilnya mencari si raja buah.
__ADS_1