Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Ancaman


__ADS_3

Alex mencoba apa yang di katakan Tama, sengaja weekend ini dia memanjakan Arie dengan segala tingkah dan permintaan konyolnya, Alex beranggapan bahwa Arie sedang butuh perhatian, karena tak bersamanya selama tiga hari di tinggalkan olehnya. Alex lebih memperhatikan kebutuhan dan keadaan Arie, agar Arie cepat sembuh dari rasa stresnya, seperti saat ini tengah malam Arie membangunkan Alex dari tidurnya.


"Sayang, bangun," ucap Arie sambil menggoyangkan tubuh kekar di sampingnya.


"Emh... ada apa" rasanya malas sekali untuk Alex membuka matanya.


"sayang," mata Alex langsung membulat mendengar kata suamiku, ya sejak Arie bertingkah aneh, kata itu akan keluar sebelum bencana datang.


Alex bangun dari tidurnya, dan mendudukkan dirinya, kantuknya hilang entah kemana berganti dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Alex terus memperhatikan bibir Arie, harap harap cemas kata apa yang akan keluar dari sana.


"Aku pingin makan rujak" ucap Arie sambil memilin jari kokoh Alex.


Alex bernafas lega, setidaknya ini hanyalah sebuah makanan, bukan menyuruhnya berlaku aneh seperti pagi tadi, memaksanya ikut joget ala ala oppa korea, sungguh memalukan.


"Aku akan menyuruh Chiko membelinya," Alex meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, dan segera menghubungi asisten pribadinya, kini Chiko bukan hanya sekertaris Alex, melainkan Asisten pribadi yang harus siap 24 jam kapanpun Alex membutuhkannya.


"Ck... kenapa lama sekali" setelah berkali-kali nada sambung, akhirnya Chiko mengangkat telponnya.


"Halo Tuan," suara serak khas orang bangun tidur.


"Chiko, belikan rujak untuk Istriku"


"Apa Tuan, rujak dimana Tuan?"


"Itu masalahmu, o iya kata Arie cabenya 15 biji, jangan pake lama"


"Tuan, di mana saya harus beli rujak jam segini" ucap Chiko setengah menangis.


"Aku bilang itu masalahmu, minta bantuan Ipul jika perlu" Alex menutup sambungan teleponnya.


"Bagaimana, kapan datang rujaknya" rengek Arie.


"Sebentar lagi, hemm.. tidurlah nanti saat mereka datang aku akan membangunkan mu," Alex mengecup singkat bibir Arie, dan merengkuhnya untuk kembali tidur.


Alex sudah berlayar ke pulau kapuk, sedangkan Arie gelisah membolak-balikkan badannya, matanya tak bisa terpejam membayangkan makanan dengan bumbu petis dan kacang yang pedas dengan aneka sayuran, membayangkannya saja membuat air liur Arie menetes.


Ting tong..


Suara bell pintu selalu membuat Arie bersemangat, Arie melompat kecil turun dari ranjangnya, segera bergegas berlari membuka pintu utama.


"Selamat malam Nyonya" Chiko menyapa dengan muka kusutnya, Arie tak memperdulikan sang Asisten dia merampas kantong kresek yang ada di tangan Chiko dan segera menutup pintunya.


"Ya Tuhan gini amat jadi asisten ya," Chiko berjalan gontai sambil menangis dalam hati.

__ADS_1


Dalam kamar, Arie dengan semangat empat lima membangunkan lagi suaminya.


"Suamiku, ayo bangun" Arie e


terus menggoyangkan tubuh Alex. Alex mengeliat dan bangun lagi, kali ini dia bangkit dan duduk di tepi ranjang.


"Ada apa lagi, sudah ada rujaknya" tanya Alex sambil mengucek matanya.


"Iya, ayo makan aku suapi" ucap Arie dengan mata berbinar.


Alex menelan ludahnya kasar, bagaimana bisa dia memakan, makanan berwarna hitam kecoklatan itu, entah apa rasanya, Alex menatap piring Arie dengan aneh.


"Ayolah," Arie mengoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Alex memijit pelipisnya, sepertinya dia sudah tidak sanggup.


"Arie dengarkan, semua ini sudah cukup, aku sudah menuruti semua apa yang kau inginkan, tapi untuk kali ini aku tidak bisa, aku tidak akan memakan makanan aneh ini" ucap Alex sambil memegang erat kedua lengan Arie.


"Makan, atau tidak ada jatah untukmu mulai malam ini" tegas Arie.


Alex menatap Arie yabg sedang melotot padanya, dengan berat hati Alex membuka mulutnya menerima suapan dari Arie. Alex mulai mengunyah makanan dalam mulutnya, seketika matanya membulat, rasa rujak itu tidak terlalu buruk Namaun dominasi rasa pedas membakar Indra pengecap Alex.


"Huuuhhh... haaaah...." Alex mulai mendesis.


Keringat mulai bercucuran dari kepalanya, belum lagi cairan bening yang ikut keluar dari hidung mancungnya, mata Alex ikut meneteskan air mata, benar benar racun yang membakar tubuhnya, demi apa Alex melakukan semua ini.


"Cukup ya, please...."ujar Alex dengan wajah memelas.


"Hemmm, baiklah"walaupun sedikit kecewa namun setidaknya keinginan Arie sudah terlaksana. Alex bernafas lega, siksaan telah berlalu.


Arie memakan sisa rujak yang ada di piring, Arie terlihat menikmati makanannya. Alex hanya bisa mengerutkan keningnya heran.


"Huuh... apa kau tidak merasa pedas," ucap Alex sambil mendesis pedas, Arie hanya menggeleng sambil terus mengunyah makanannya.


"Aku akan mengambilkan susu dingin untuk mu" setelah rujak di piring tandas, Arie beranjak ke dapur, tak lama dia kembali dengan segelas besar susu .


"Minumlah,"


Alex langsung menenggak habis susu dalam gelas besar itu, rasa terbakar di mulutnya sedikit berkurang.


"Terima kasih, bisa kita tidur sekarang"


"Tidurlah, aku tidak melarang mu untuk melakukannya" ucap Arie enteng, Alex hanya bisa meremas gemas tangannya sendiri.


*****

__ADS_1


Pagi mulai menyapa Arie masih meringkuk dalam selimutnya, merasa begitu enggan untuk meninggalkan hangat peraduannya. Sementara Alex, sudah sibuk bercumbu dengan toilet bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Arie meraba sisi lain kasurnya, kosong, dia pun segera membuka matanya, lalu bangkit dari tidurnya.


Ceklek


pintu kamar mandi terbuka, seorang pria dengan wajah pucat keluar dari sana.


"Ya ampun, Alex ada apa dengan mu" Arie berjalan mendekati Alex yang lemas, dengan wajahnya yang pucat.


"Perutku sakit" ujar Alex sambil memegangi perutnya.


"Apa yang kau makan, makanya jangan jajan sembarang, lihat akibatnya" gerutu Arie.


Kau yang menyuruhku memakan racun itu, teriak Alex dalam hati. Hanya matanya yang menatap tajam pada Arie.


"Kenapa menatapku seperti itu"


"Tidak ada"


"Duduklah, aku akan memasakkan bubur untukmu" Arie berjalan ke keluar kamar, meninggalkan Alex yang meringis sambil memegangi perutnya. setelah beberapa saat Arie kembali ke dalam kamar dengan membawa semangkok bubur hangat.


Dengan telaten Arie menyuapkan sesendok bubur pada Alex, Alex menatap lekat pada wajah istrinya, raut wajah Arie nampak berbeda.


"Maaf," lirih Arie.


"Maaf aku memaksamu untuk makan rujak semalam" imbuh Arie lagi.


"Lain kali, jangan seperti itu lagi"ucap Alex dengan nada tinggi, Arie hanya mengangguk sambil terus menunduk.


Alex menghela nafasnya, lalu mengusap lembut rambut Arie


"Aku akan ke kantor hari ini" Alex melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arie, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arie.


Arie bisa merasakan apa yang di rasakan Alex saat ini, kecewa pasti, seseorang yang begitu di hormati, bisa menusuknya dari belakang, tapi itulah manusia, kau tidak akan pernah tahu apa yang ada dalam hatinya.


"Semua akan baik baik saja" Arie mengelus lengan Alex lembut, mencoba menyalurkan energi positif.


Hari ini Alex tidak berangkat sendiri, dia meminta Ipul untuk mengantarkannya.


"Ipul, siapa yang membelikan rujak untukku semalam" Tanya Alex di sela perjalanan mereka.


"Oh.. itu tidak beli Tuan, Ibu saya yang buat" jawab Ipul penuh semangat.


"Sampaikan terima kasih untuk Ibumu" ucap Alex penuh penekanan.

__ADS_1


"Siap Tuan" jawab Ipul ceria, Ipul tidak menyadari tatapan mata dari Tuannya, dari bangku belakang, Ipul hanya merasakan suhu dalam mobil yang semakin dingin mencekam.


__ADS_2