Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sakit


__ADS_3

Jantung Arie terasa merosot ke lambungnya, sama seperti kakinya yang gemetar melihat pemandangan yang dilihat matanya, Arie berjalan menjauh dari daun pintu tempat dia mencuri dengar. Sambil menutup mulutnya dia pergi dari lorong itu, berusaha menahan suara tangis yang hendak keluar dari kerongkongannya. meskipun air mata mulai berderai, sampai di sebuah sudut taman belakang, tangis Arie pecah, namun Arie segera menghapus air matanya, lalu meraih ponsel dalam tas kecilnya.


"Halo, Nyonya,"Sahut seorang pria di ujung telepon.


"Dimana Tuan mu," tanya Arie to the point.


"Tuan sedang bertemu klien di sebuah restoran, kelihatan mereka meeting dan akan langsung makan siang bersama," ujar Chiko menjelaskan.


Arie tersenyum kecut mendengar ucapan Asisten pribadi suaminya.


"Lalu kenapa kau tidak ikut," ucap Arie dengan nada tegas.


"Saya, ada perkejaan lain yang harus saya selesaikan Nyonya,"


"Hemm, baiklah," Arie langsung menutup telfonnya sepihak.


"Sial, apa mereka bersekongkol membohongi ku," ujar Arie kesal. Arie berjalan kesal.


Sebenarnya tak ada kebohongan yang Chiko ucapkan, Alex memang menemui klien di sebuah restoran sesuai jadwalnya hari ini, sedangkan Chiko harus menyelesaikan persiapan peringatan ulang tahun perusahaan. Chiko sendiri tak tahu menahu soal keberadaan Tuannya di rumah sakit.


Brakk


Arie menutup pintu mobil dengan kasar, membuat Ipul terjingkat.


"Onok opo Mba Boss," [ ada Mba Boss]. ucap Ipul sambil mengelus dadanya.


"Ga, po po," [Ga pa pa] elak Arie sambil sambil memijit pelipisnya.


"Pul kalau di suruh milih, awakmu milih sopo, Aku opo Alex?," [ kami pilih siapa Aku atau Alex ] tanya Arie begitu saja, sambil menatap keluar jendela mobil.


"Pilih sing akeh duite,"[ pilih yang banyak uangnya] ujar Ipul sambil terkekeh namun segera Ipul menutup mulutnya saat Arie menatap tajam padanya.


Sepertinya Arie tidak dalam mode bercanda, tidak seperti biasanya. Arie kembali menatap ke arah luar. Hening, tak ada suara candaan seperti biasa dari Boss wanitanya yang biasanya selalu bersemangat dan selalu bising dengan celotehannya.


Setelah sampai di apartemen Arie langsung berlalu begitu saja, tanpa embel-embel apapun seperti biasanya, eits jangan mikir yang aneh aneh ya, bisanya Arie akan selalu menyuruh Ipul membeli sesuatu yang jauh di mato, dan membuat sang supir harus putar balik. Akan tetapi hari ini senyap, Ipul hanya memandang punggung sang Boss yang berlalu.


"kesambet opo Mba Boss," [ kesambet apa Mba Boss ], gumam Ipul yang merasa heran dengan sikap diam Arie hari ini.


Drtt..


Ponsel Ipul bergetar, dengan segera dia mengambil ponselnya, terpampang di layarnya.


Mba Boss calling.


"Alhamdulillah normal," gumam Ipul sebelum menggeser layar ponselnya.


"Pul, kamu boleh pulang, hari ini aku ga kemana mana," ucap Arie di ujung telepon dan langsung di tutup.


"Ya Allah, kesambet temen Boss ku iki," [ ya Allah, Boss ku beneran kesambet hati ini]. Ipul pun pulang sesuai dengan perintah Arie.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar, Arie Mondar-mandir seperti setrikaan, bayangan adegan suaminya di ruang rawat rumah sakit terus berulang di otaknya.


"Da***k," Arie mengumpat dengan lantang, meluapkan kekesalannya.


Dia tak ingin menangisi pria yang bahkan berani berbohong padanya, membiarkan dia sendiri saat hamil seperti ini, Bahkan harus memeriksa kehamilannya sendiri, bukan masalah besar jika Alex benar benar sibuk dengan dengan pekerjaannya, tapi melihat kenyataan yang ada di hadapannya tadi, membuat Arie meradang.


"Akan ku beri kesempatan untukmu, jika kau tidak jujur," Arie tak melanjutkan ucapannya, hanya tersenyum dengan pantulan dirinya dalam cermin.


Bulan sabit telah terbit di atas langit, seperti biasa Tuan sipit pulang terlambat hati ini, bahkan lebih lambat, jarum pendek pada jam dinding udah menunjukkan pukul dua dini hari, dan langkah kaki Alex baru terdengar memasuki ruang kamarnya, Arie yang tak bisa memejamkan matanya, hanya pura pura berbaring memunggungi pintu. terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, tak lama Arie merasakan tangan yang dingin memeluk dari belakang.


Matahari sudah terbit, tangan kekar itu masih berada di atas tubuhnya, sedangkan bumil itu tak bisa terpejam sama sekali, dia sudah mencoba semua, menghitung domba, minum susu hangat dan berbagai cara lain agar dia bisa tidur. Namun, hati dan otaknya yang sudah traveling dengan apa yang terjadi saat di rumah sakit, membuatnya benar benar tidak bisa terpejam.


Arie menghela nafas, memindahkan tangan yang sedari tadi menindih perutnya.


"Sesak tau gak," ketus Arie pada pria yang masih terlelap di sampingnya.


Dengan langkah perlahan Arie berjalan keluar kamar, weekend ini sebenarnya hari yang sangat di tunggu Arie, setidaknya hanya seminggu sekali dia bisa bermanja dengan suaminya, Arie segera menyiapkan sarapan pagi untuk Alex, sebuah masakan yang sangat di sukai Alex, setelah selesai Arie kembali ke kamar untuk membangunkan Alex.


"Baiklah, aku akan kesana sekarang," ujar Alex sebelum menutup telfonnya dan meletakkannya di atas meja.


Arie tak sengaja mendengar percakapan telepon Alex, Arie menarik nafas dalam mencoba menenangkan dirinya.


"Kau sudah bangun," ucap Arie sambil membuka pintu lebih lebar.


"Iya," angguk Alex sambil menggeliatkan tubuhnya.


Katakanlah sesuatu, apapun, jelaskan padaku apa yang terjadi, gumam Arie dalam hati, sambil menatap punggung suaminya yang berlalu di balik pintu kamar mandi.


"Rupanya kau tak ingin mengatakannya," Arie tertunduk lesu.


"Baiklah sekali lagi," lirih Arie, Arie memutuskan, untuk memberi Alex kesempatan bicara, untuk jujur padanya sekali lagi.


Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Alex segera pergi keluar.


"Maaf sepertinya, aku tidak bisa menemanimu sarapan, aku sudah ada janji," ucap Alex dengan gerakan tergesa gesa saat memakai sepatunya.


"Janji dengan siapa?, bukankah ini hari minggu, kenapa kau masih terus berkerja," ucap Arie kesal.


"Maaf," Alex segera pergi keluar.


Tak menunggu lama Arie segera menghubungi seorang untuk mengikuti suaminya. Arie pun mengunakan jasa ojek online untuk menuju arah kemana Alex pergi.


"Rumah sakit," gumam Arie saat membaca pesan yang di kirimkan orang suruhannya. nama rumah sakit yang sama, hati Arie semakin tak karuan.


Arie sudah mencoba berfikir positif sejak kemarin, meskipun hatinya sudah retak, namun hari ini, Alex menolak menemaninya untuk pergi menemui seseorang disana, Arie berharap dalam hati kecilnya, semoga Alex menemui orang yang berbeda.


"Mba, mba sudah sampai," tegur mas ojol. membuat Arie sadar dari lamunannya.


"Iya Mas," Arie segera turun dari sepeda motor matic yang ditumpanginya.

__ADS_1


"Ini sekalian, buat temen Mas yang saya suruh ikut tadi," ucap Arie seraya menyodorkan lembaran kertas merah pada ojol.


"Wah banyak banget Mba,"


"Ga pa pa, rejeki Mas berdua,"


"Kalau ada apa apa, bisa minta tolong saya lagi Mba," ujar ojol itu dengan tersenyum.


"Ok, nomer Mas saya save ya, barang kali saya butuh Mas lagi,"


"Siap Mba,"


Arie pun bergegas memasuki gedung rumah sakit, langkah kaki Arie seakan sudah hafal dengan ruangan yang akan di tujuannya. Jantung Arie berdegup kencang, tak butuh waktu lama Arie sudah berdiri di ruang rawat yang sama. Arie mengatur nafasnya sebelum membuka pintu di depannya.


"Apa Anda keluarga pasien," ujar seorang suster , yang membawa nampan makanan.


"Ah bukan suster, saya ingin menjenguk teman saya tapi tidak tahu dia di rawat di ruang mana," kilah Arie.


"Anda bisa bertanya ke bagian informasi di sebelah sana," suster itu menunjukkan arah sebuah lorong di sampingnya.


"Oh iya suster," Arie berpura pura pergi ke arah yang di tunjukkan suster padanya. Arie hanya bersembunyi di balik tembok dan menunggu Suster itu keluar dari kamar rawat Vivian.


"Eh suster ketemu lagi," ucap Arie dengan senyum manisnya.


"Iya, sudah ketemu kamarnya,"


"Sudah Sus, di sebelah sana,". Arie menunjuk asal ruang rawat di sebelahnya.


"Sus, Pasien yang di kamar ini sakit apa?," tanya Arie, mencoba mengorek informasi dari suster di hadapannya.


"Dia, keguguran, sekarang dalam masa proses pemulihan,"


Deg


Arie mencoba menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Tapi untung saja, pasangannya selalu setia menemaninya," imbuh suster sebelum berlalu meninggalkannya.


Bagai belati yang di tancapkan di hatinya, rasa sakit yang begitu dalam di rasakan Arie. sakit tapi tak berdarah.


Arie berjalan gontai menyusuri lorong rumah sakit, air matanya luruh perlahan, Arie mengusap pipinya yang basah, lalu tersenyum miring melihat air mata di tangannya.


Seorang laki-laki memaki jas dokter, berlari saat melihat seseorang yang ia kenal sedang meringis sambil memegangi perutnya.


"Arie, kau kenapa?," ujar Tama panik.


"Mas Ta...ma, per..utku sa..kit," ujar Arie terbata, menahan rasa sakit di perutnya.


Tama langsung mengendong tubuh Arie, dan membawakan ke bagian kebidanan, melihat mata Arie yang hitam dan sembab, membuat tangan Tama mengepal kuat.

__ADS_1


__ADS_2