
"Kakakmu dalam perjalanan menuju solo."
"Haaaaaaaaaaaah?!" Adinata dan Arie terkejut mendengar ucapan Alex, begitu juga Puspa yang baru saja keluar dari tempat persembunyiannya di balik pintu ruang tamu. Apalagi kalau bukan untuk menguping pembicaraan mereka.
"Sayang kamu beneran, nggak bohong?" tanya Arie penuh selidik.
"Alex apa yang kau katakan ini, Nak. Arow sedang berkerja mana mungkin dia pergi ke solo," Adinata bicara dengan tergagap, ia sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan menantunya.
Puspa hanya diam dan memperhatikan. Ia menaruh es jeruk nyang dia buat di atas meja tanpa berniat ikut andil dalam pembicaraan mereka. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik dan menyusun rencana. Setelah meletakkan minuman buatannya, Puspa duduk agak jauh dari mereka, tapi masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas.
Bagaimana anak itu ke solo, mobilnya pasti akan ngadat, jika di ajak berjalan begitu jauh. Lalu jika benar dia ke sana, bagaimana dia menghadapi mertuanya. Sedangkan perekonomian kami masih carut marut seperti ini.
"Tenang saja Ayah, Kak Arow pergi mengunakan mobil saya. Tentu lengkap dengan sopirnya," ucap Alex yang seolah mengerti dengan wajah cemas sang mertua.
"Benarkah itu Alex." Alex mengangguk. Adinata tersenyum lebar.
"Ini semua keinginan istriku Ayah, dia ingin mengundang kalian semua datang makan malam ke rumah keluarga Wang besok malam, dan formasinya harus lengkap. Jadi saya menyuruh sopir saya menjemput kak Arow di tempat kerja dan langsung mengantarkannya ke solo. Untuk menjemput istrinya."
Arie menatap Alex dengan penuh arti. Dengan secepat kilat ia menarik tengkuk suaminya, lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya yang seksi. Tidak perduli dengan kedua tetua yang ada bersama mereka.
"Aku mencintaimu, terima kasih."
"Aku juga mencintaimu."
Arie begitu bahagia. Alex begitu mengerti apa yang menjadi keinginannya tanpa Arie harus bertindak lebih jauh.
Saat mereka sarapan tadi pagi, dia hanya mengatakan pada Alex ingin makan bersama seluruh anggota keluarganya, dan lihatlah. Tuan sipit itu langsung bergerak mengabulkan impiannya. Bagaimana Arie tidak jatuh cinta berkali kali pada tuan sipit ini.
"Ehem.. kalian sebaik pulang dan beristirahat. Ayah akan datang memenuhi undangan makan malam, saat Arow dan Nana pulang."
Deheman sang mertua membuat sejoli itu tersadar. Namun, Arie seperti tidak perduli. Ia masih asik bergelayut manja di lengan suaminya.
"Ayah mengusir kami?" tanya Arie dengan pipinya yang sudah mengembung.
"Tidak seperti itu, Nak. Ayah hanya tidak ingin kau terlalu capek. Perjalanan dari sini ke kota cukup jauh. Apalagi kau sedang hamil besar, jadi kau harus banyak istirahat."
Adinata mengusap lembut perut Arie, jika bisa dia ingin terus bersama dengan putrinya. menghabiskan waktu bersama seperti ini. Akan tetapi Adinata tidak ingin egois. Dia tidak ingin anaknya ikut tinggal di gubuk reyot ini. Arie pantas tinggal sebagai ratu di istana Alex.
__ADS_1
Dalam hati Arie membenarkan ucapan ayahnya. Apalagi pinggangnya juga terasa sakit. Semester terakhir kehamilan memang sangat membatasi pergerakan Arie. Dia semakin gampang capek.
"Baiklah Ayah. Kalau begitu, aku akan mengajak istriku pulang." Alex bangkit dari duduknya, lalu membantu sang istri untuk berdiri.
Kedua menyalami tangan Adinata, dan mengecup punggung tangannya.
"Jaga baik-baik anakku. Bahagiakan dia selalu."
"Tentu Ayah."
Keduanya lalu menghampiri Puspa yang duduk agak jauh dari Adinata. melihat kedua cucunya mendekat Puspa cepat membersihkan tangannya dengan baju yang ia kenakan.
Arie berdiri di hadapan Puspa menengadahkan satu tangannya. Puspa pun segera meraih tangan Arie. Namun di tepisnya.
"Mana nek?" tanya Arie langsung. Ia merasa jengkel karena Puspa tidak kunjung memberikan apa yang ia mau. Puspa mengerutkan keningnya bingung.
"Apa?"
"Tempat makanku lah. Sudah dicuci kan,"
"Kenapa nek, belum dicuci. Isshhh.. nenek jorok. Habis makan nggak mau cucu piring, jorok banget sih," sindir Arie dengan mengerakkan tubuhnya seolah geli terhadap sesuatu.
"Nenek ambilkan!" Puspa yang merasa sudah tidak tahan akhirnya memilih menghindar. Dia segera masuk ke dalam untuk mengambil kotak makan Arie.
Selang beberapa lama. Puspa muncul dari dalam sambil membawa kantong kresek, lalu menyodorkannya pada Arie.
"Wooaa... terima kasih Nenek sudah mencucinya dengan sangat bersih. Ternyata nenek berbakat di dapur. Kenapa nenek tidak pernah bilang sebelumnya. Kan lumayan nenek bisa membantu aku di dapur, itung-itung menghemat uang untuk mengaji asisten rumah," ucap Arie dengan senyum manisnya. Melihat ekspresi wajah sang nenek yang merah padam karena menahan marahnya. Menjadi hiburan tersendiri bagi Arie.
"Ayah aku pamit pulang dulu ya. Nenek aku titip Ayah." Arie melambaikan tangannya.
"Besok pagi aku datang lagi!" teriakannya sebelum masuk ke dalam mobil.
*****
Sementara di solo.
Arow sedang duduk di ruang tamu dengan bangku dari yang terbuat dari anyaman rotan. Rumah yang kental dengan nuansa Jawa itu terasa panas. Arie beberapa kali harus menyeka kening dan lehernya yang terus mengeluarkan keringat sebesar biji jagung.
__ADS_1
Setelah empat jam perjalanan menggunakan mobil. kini Arow berada dalam situasi yang tak kalah membuat bokongnya panas dingin.
"Jadi apa yang membuatmu kemari?" tanya Bapak Wibowo dengan menatap tajam pada menantunya.
Arow menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang terasa sangat kering. Meskipun ada teh hangat yang tersaji di hadapannya, dia sama sekali tidak punya nyali untuk menyentuhnya.
"Sa...saya ingin menjemput Nana sama Byaz, Pak," ucap Arow dengan terbata. Menghadapi sang ayah mertua sama saja dengan menghadapi macan Jawa. Mengerikan.
"Menjemput, apa kau sudah punya pekerjaan yang bagus. Bapak tidak mau anakku satu-satunya, kelaparan dan hidup susah bersamamu!"
"Pak, jangan seperti ini. Nana cinta sama papanya Byaz. Nana rela hidup susah asalkan kami bersama." Nana berlari kecil ke arah Bapaknya yang sedang menghakimi suaminya.
Nana mendudukkan dirinya di samping Arow dan mengenggam erat tangan sang suami. Arow menoleh ke arah Nana, menatap wajah cantik itu dengan penuh rindu.
"Kamu itu, anak bapak satu-satunya, Nduk. Bapak ndak mau hidup susah. Bapak bisa mencukupi semua kebutuhan kamu di sini. Bapak nyesel dulu menerima perjodohan ini, kalau akhirnya jadi seperti ini." Wibowo mendengus kesal. Kumis tebalnya bergerak naik-turun mengikuti bibirnya. Matanya merah menyala, terlihat menakutkan bagi siapa saja yang melihat.
"Tapi Nana ndak menyesal pak. Nana menerima mas Arow apa adanya!" tegas Nana.
Meskipun Nana mengucapkannya dengan bibirnya yang bergetar. Namun, nada bicaranya terdengar tegas dan tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya.
Arow merasa terharu mendengar ucapan sang istri.
"Arow janji pak, akan membahagiakan Nana dan anak kami. Selama saya masih bernafas, saya tidak akan pernah membuat Nana merasa kekurangan." Arow mengeratkan genggaman tangannya.
"Pulang besok pagi saja. Suruh supir kamu masuk dan tidur di kamar belakang." Wibowo bangkit dari duduknya, lalu mulai melangkah masuk.
"Pak, jadi Nana boleh pulang ke Surabaya sama Mas Arow?"
Wibowo mengangguk tanpa berkata apapun. Nana berlari dan memeluk sang bapak dari belakang.
"Terima kasih pak," lirih Nana sambil mengusap wajahnya di punggung sang Bapak.
"Bapak ingin kamu bahagia, Nduk. Kami Arow, aku pegang jangan kamu."
"Baik, Pak."
Arow bernafas lega, akhirnya ia bisa kembali berkumpul bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1