Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Kabar gembira


__ADS_3

Mobil yang di di tumpangi Tama pun akhirnya sampai di rumah sakit tempat ia bekerja. Ia segera bergegas turun, lalu membuka pintu belakang mobil dan segera meraih tubuh istrinya dalam dekapannya. Kaki kecil Naoki pun tak lepas mengikuti langkah Papanya.


Setelah menutup pintu mobil dengan satu kakinya. Tama segera membawa Siska ke ruang UGD. Beberapa perawat menghampiri Tama sambil mendorong brankar yang tersedia di sana.


Pria berlesung Pipi itu membaringkan tubuh istrinya di atas brankar dengan perlahan. Setelah itu ia beralih mengendong Naoki, yang sejak tadi berlari mengejar langkahnya.


"Maaf ya, langkah Papa terlalu cepat," ujar Tama sambil mengangkat tubuh kecil Naoki dalam gendongannya. Pria kecil itu hanya mengangguk.


Tatapan Naoki tertuju pada para perawat yang mendorong Mamanya masuk ke dalam ruang UGD.


"Tenanglah, Mama akan baik-baik saja." Tama menyandarkan tubuh Naoki di bahunya.


Tama pun segera melangkahkan kakinya mengikuti para perawat itu. Setelah menyelesaikan administrasi. Tama mendudukkan dirinya dan Naoki di kursi tunggu yang tersedia di sana.


"Apa kau haus? apa ku ingin makan sesuatu?" cerca Tama kepada Naoki, anak itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Mama, sakit lagi ya, Pa?" tanya Naoki, anak itu menatap pada Tama dengan penuh tanya.


"Lagi? Maksud OKI, Mama pernah seperti ini?" Tama balik bertanya pada anaknya.


Naoki mengangguk.


"Kalau paman itu dateng ke rumah, Mama suruh Nao sembunyi di kamar. Tutup mata, tutup telinga, dan jangan keluar sampai Mama ke kamar," Naoki menceritakan semua yang di perintahkan sang ibu kepadanya secara detail.


Tama semakin merasa ingin tahu tentang paman yang di maksud Naoki. Apakah dia orang yang sama, yang menyakiti istrinya. Tama mengepalkan tangannya. Ia sungguh menyesal meninggalkan sang istri sendirian saat di taman.


"Mama pasti sakit kalau paman itu datang." celetuk Naoki lagi.


"Sakit seperti sekarang?"


Naoki mengangguk cepat. " Iya, muka Mama pasti biru biru sama ada merahnya."


Naoki sibuk memainkan kedua kakinya yang di ayunkan secara bergantian.


Seorang dokter keluar dari ruangan tempat Siska di periksa. Tama pun langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dokter?"

__ADS_1


"Lho, itu istrinya Dokter Tama." Dokter itu tiba-tiba saja meraih tangan Tama dan menepuk pundaknya.


"Selamat Dokter, istri anda hamil," ucap Dokter itu.


Seperti bunga yang seketika mekar di tengah gurun pasir. Tama yang tadinya mencemaskan keadaan sang istri, kini mendapat kabar yang luar biasa membahagiakan.


"Tapi, saya mohon untuk menjaga kandungannya. Apa lagi sepertinya, istri anda baru saja mengalami kekerasan fisik," ucap Dokter itu dengan tatapan penuh selidik pada Tama.


"Iya, Istriku di sakiti orang yang ingin menjabretnya. Aku datang terlambat," ucap Tama dengan penuh penyesalan.


"Hemm.. saya mengerti, anda bisa menemui istri anda setelah kami memindahkannya ke ruang rawat.. Sebaiknya dia di rawat inap dulu di sini."


"Baik, tolong berikan yang terbaik untuk istri saya."


"Tentu, Dokter." Dokter itu pun berlalu kembali masuk.


Tama kembali menghampiri Naoki yang tengah duduk sambil menatap ke arahnya. Mata kecil Naoki terus mengekor pada papa sambungnya itu. Tama mendudukkan dirinya di sebelah Naoki. Dengan tersenyum Tama mengelus kepala pria kecil itu.


"Mama baik-baik saj, tapi Mama harus menginap di sini dulu. Nao, mau di sini sama Mama atau pulang ke rumah?"


"Nao, bisa tidur di sini juga, Pa?" tanya Naoki dengan wajah berbinar.


Naoki langsung memeluk tubuh Papa sambungnya itu. Ia begitu nyaman berada dalam pelukan Tama. Pelukan seorang Ayah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Naoki dan Siska menjalani hidup yang tidak mudah. Dodi sang Ayah kandungnya hanya datang untuk menghajar dan merampas semua uang yang Siska punya. Kadang Siska melawan. Namun, dia lebih memilih mengalah karena Dodi terus mengancam akan menyakiti Naoki jika ia tidak menuruti kemauannya.


Sampai satu saat Siska tidak punya sepeserpun yang untuk membayar kontrakan yang ia tempati bersama Naoki. Siska di usir. Keadaannya sangat rapuh kala itu, tidak ada tempat berlindung tidak ada sanak keluarga. Ia terpaksa tidur di emperan toko bersama Naoki yang kala itu masih berusia satu tahun. Sampai akhirnya Tuhan mengirim Bu sari untuk membantu Siska.


Kemudian Siska di terima berkerja di sebuah club malam. Dari sanalah akhirnya Siska bisa mulai memulai kehidupannya menjadi sedikit lebih baik. Meskipun, perkejaan Siska selalu menjadi sorotan dari para tetangga dan orang orang di sekitarnya.


Namun, Dodi masih terus saja menganggu Siska. Menghajarnya secara fisik dan mental, selalu mencela dan merendahkan martabat Siska sebagai seorang perempuan. Semua kejadian itu memaksa pria kecil itu menjadi lebih dewasa sebelum waktunya.


_________


Tama mengendong Naoki yang tertidur saat memeluknya, begitu mudahnya pria kecil itu terlelap. Mungkin dia lelah setelah menangisi keadaan Mamanya saat di mobil. Naoki menangis dalam diam sambil mengusap lembut pipi Siska selama perjalanan mereka ke rumah sakit.


Tama melangkahkan kakinya menuju ruang rawat sang istri. Tanpa sengaja ia melihat dengan Arie yang baru saja selesai melakukan kontrol di rumah sakit itu. Dengan senyum merekah Arie melambaikan tangan pada Tama. Tama pun mengangguk dan melangkah mendekati Arie.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Tama dengan ramah. Ia merasa senang melihat Arie yang sudah bisa tersenyum.


"Aku sudah lebih baik, terima kasih sudah merawat ku selama aku menginap di hotel ini," canda Arie.


"Hahahaha.. tidak lucu," Tama tertawa garing.


"Siapa itu?" Arie menunjuk pada anak kecil yang sedang di gendong Tama.


"Dia anakku," jawab Tama dengan senyum merekah di bibirnya. Seolah menunjukkan kebanggaannya pada Arie.


"Anak?" ucap Arie, ingin memekik tapi dia belum bisa berteriak, ia hanya bisa berbicara dengan suara lirih. Namun, otot-otot Wajahnya sudah bisa di gerakkan asal tidak berlebihan.


Arie belum bisa tertawa lepas atau melakukan ekspresi wajah yang lebih ekstrim dari senyuman manis. Ya dia hanya bisa tersenyum kecil. Namun, Arie sudah sangat bersyukur karena dia sudah bisa berbicara.


"Anak? kapan kau menikah?" tanya Arie lagi.


"Hem.. sudah cukup lama. Baiklah aku harus menemui istriku dulu, dia sedang di rawat di sini." Tama pun langsung melangkah lebar meninggalkan Arie.


Bukan tanpa sebab Tama ngacir begitu saja. Dari belakang Arie, Tama sudah melihat macan sipit yang sudah mengeluarkan taringnya. Tentu saja Tama lebih memilih menghindar daripada harus berdebat dengan pria bucin yang sudah tidak ada obatnya itu.


"Sayang." Alex mengecup pipi Arie dari belakang.


Arie sudah terbiasa dengan sikap Alex yang suka mencium pipinya di tempat umum seperti ini. Itu adalah salah satu cara Alex menunjukkan rasa cintanya kepada Arie.


Alex bersimpuh di hadapan Arie. Mendekatkan sebuah sedotan dari botol air mineral. Arie pun menyedot air mineral yang di sodorkan suaminya. Setelah selesai Alex mengusap lembut bibir Arie dengan tisu. Alex menumpukan tangan pada kedua pahanya untuk berdiri. Ia berjalan memutar ke belakang Arie kemudian mendorong kursi roda istrinya dengan perlahan


"Tadi aku bertemu dengan Dokter Tama," ucap Arie.


"Oh," jawab Alex malas.


"Kok Oh?"


"Sayang kita harus segera pulang, Cleo pasti sudah kangen sama kita," ucap Alex berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah, Tuan sipit ku," sahut Arie sambil menahan tawa dalam hatinya.


Kita harus segera pulang sayang. aku tidak ingin kecantikan mu menjadi konsumsi publik berlalu lama. Sial, sepertinya aku harus menganti semua tenaga medis di sini menjadi perempuan. Lalu aku kirim semua laki laki mata keranjang yang sudah berani melihat istriku ke Afrika. Ah..tidak aku kirim ke kutub utara saja, biar mereka mati membeku di sana Hahahaha.... gumam Alex dalam hati, sambil terus mendorong kursi roda istrinya.

__ADS_1


Arie tiba-tiba merasakan hawa dingin di tengkuknya.


__ADS_2