Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
kecewa


__ADS_3

Arie memutar bola matanya malas, melihat Adik iparnya yang sedari tadi merengek pada Alex.


"Ayolah Ke...anterin aku, aku bosan" Nuwa terus merengek dan mengelayut di lengan Alex.


"Lex udahlah anterin aja, kasih adik kamu" sahut Arie tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi, sebelum Alex dan Arie tengah menikmati waktu mereka di ruang tengah, sekedar nonton TV bersama, sebelum Nuwa datang dan merengek satu jam yang lalu.


"tapi Rie," Alex sedikit kecewa Arie berkata seperti itu, karena Alex sengaja libur agar bisa menghabiskan waktu bersamanya.


"tuch Kakak Ipar, aja ngebolehin"


rengek Nuwa.


"ga papa, lagian aku juga mau pergi kok" sahut Arie lagi.


"kemana?" ucap Alex dingin.


"ketemu temen, tenang aja aku di anter Ipul kok" Arie pun bangkit dari sofa, " ya sudah aku mau siap siap dulu". Arie pun melangkah menuju kamarnya.


"jadi kan Ke, nganterin aku ke Mall"


"oke, Keke ganti baju dulu"


"ok, Nuwa tunggu ya" Teriak Nuwa pada Alex yang berlalu meninggalkannya.


yesss bisa berdua ma Keke. batin Nuwa bersorak gembira.


Tak lama Arie keluar kamarnya, memakai celana jeans robek, kaus putih polos di padu dengan jaket demin. Alex memakai celana pendek dan kaos polos.


"Arie sebenarnya kamu mau ketemu siapa" tanya Alex dengan penuh selidik.


"teman, udahlah keppo banget sich, adik kamu udah nungguin tuh entah marah lagi" ujar Arie sambil berjalan mendahului Alex.


"aku keluar dulu ya bye" Arie melambai tangan tanpa menoleh ke belakang.


"pergi aja ga usah balik sekalian" lirih Nuwa hampir tak terdengar.


setelah sampai di basement nampak Ipul sudah menunggu di luar mobil Avanza warna hitam, yang biasa di pakai mengantar Arie ke pasar.


"wiiihhhh.... mlete Mba Boss" ( keren Mba bos), Ipul sedikit terkejut dengan penampilan Nyonya nya hari ini yang nampak seperti kece badai. tak menjawab dengan kata Arie hanya berdecak dengan mengarahkan dua telunjuk tangan ke arah Ipul dan mengedipkan matanya.


"Arep nangdi Mba Boss" ( mau kemana Mba Boss) tanya Ipul saat mereka sudah sampai di mobil, Arie duduk di sebelah Ipul, dia tidak suka duduk di bangku belakang sendirian.


"Ngolek seng seger seger Pul" (cari yang segar segar Pul) jawab Arie santai.

__ADS_1


"oke"


mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang, tak seperti hari biasa, hari ini Arie nampak diam tak banyak bicara, Ipul pun tak berani bertanya. setelah beberapa lama mobil melaju, Akhirnya Arie menyuruh Ipul menepikan mobilnya di taman kota.


"wes Pul, awakmu bebas tugas" ujar Arie seraya keluar dari mobilnya.


"lho maksud e piye Mba Boss, lha pena engko ya opo"( lho maksud nya pa Mba Boss, terus bagaimana dengan anda nanti)


"aku gampang, wes husss husss" Arie mengibaskan tangannya menyuruh Ipul pergi, Ipul pun pasrah, dia pun melaju pergi.


*****


Arie menghirup nafas panjang menikmati udara segar, berjalan mengelilingi taman kota yang hijau yang di penuhi muda mudi yang menghabiskan waktu mereka, Arie pun memutuskan menikmati segelas es cendol di seberang jalan, sibuk mengaduk isian esnya, Arie di kaget seseorang menyentuh pundaknya.


"Arie... Arieta Wulandari"


"mba Yuli, Ya Allah mba" Arie pun menaruh esnya, kedua berteriak histeris dan berpelukan sambil melompat lompat, tak perduli mereka jadi pusat perhatian sekitarnya.


Yuli teman seperjuangan Arie semasa di rantau rumah majikan mereka bersebelahan, nasib Yuli lebih beruntung dia dapat majikan baik dan dapat menyelesaikan kontrak sedang kan Arie hanya setahun, nasib baik tak berpihak padanya, meskipun majikannya baik namun Adik majikannya yang tinggal satu atap sempat ingin memperkosa Arie, Untungnya Arie bisa melarikan diri, dan melapor pada pihak kepolisian, dan akhirnya Arie memilih memutuskan kontrak kerjanya.


"ya opo khabar e mba, kapan pena muleh, sampen di kene ambe sopo,pean wes rabi ta?Ya Allah aku kangen" ( bagaimana khabar mba, kapan pulang, disini sama siapa, apa kamu sudah menikah?) Arie memeluk Yuli erat.


"awakmu Rie pancet ae nek takok koyo sepur"( kamu itu dari dulu sama kali bertanya seperti kereta api)


"aku muleh wes sak Wulan Rie, arep Rabi"( aku pulang sudah ada sebulan, mau nikah) ucap Yuli tersipu malu.


"ciiiiieeeee, aku di undang ga" goda Arie sambil menaikkan kedua alisnya.


"mbuh yo, tergantung amplop"


"hahaha"


tawa mereka pun pecah, tanpa mereka sadari camera ponsel sedang merekam mereka.


"awakmu dewe yo opo?" (kamu sendiri bagaimana?)


"aki wes rabi Mba" ( aku sudah nikah) jawab Arie sendu.


"moso, trus mbok piye?"( masa, trus mbok gimana"


mendengar kata Mbok, wajah Arie semakin menunduk, hatinya terasa nyeri.


"Mbok.. ninggal mba" lirih Arie.

__ADS_1


"ya Allah," Yuli menutup mulutnya, lalu memeluk Are erat, mereka sama sama yatim piatu sejak mereka kenal Yuli sudah menganggap Arie saudaranya.


"sabar ya sayang"


"iya," Arie tersenyum, merasa bersyukur masih mempunyai teman seperti Yuli.


"elok aku Rie" (ikut aku Rie)


"Nang di Mba?"( kemana Mba)


"wes lah pokok e Elok" (sudah Ayo ikut)


Aki Arie nurut saja, setelah membayar cendolnya, Arie dan Yuli melangkah menyusuri jalan Surabaya.


******


Di Mall, Nuwa terlihat antusias mencoba beberapa baju baju branded di ruang ganti.


"Ke gimana cantik ga" Nuwa berputar putar di hadapan Alex, namun Alex hanya memandangi layar ponselnya.


"Keke liatin apa sich" Nuwa menghentakkan kakinya kesal.


"eh.. iya.. liat kakakmu, lucu sekali, kau mau lihat" Alex menyodorkan ponselnya yang menunjukkan video Arie terlihat sedang bernyanyi duet lagu koplo Jawa bersama seorang wanita.


"cih... wanita murahan gitu aja di lihatin"


"Nuwa jaga bicaramu dia istriku" ujar Alex tegas. Alex tak habis pikir kenapa adiknya begitu tak menyukai Arie.


"Ke kenapa kamu membelanya, dia memang wanita ****** yang merebut mu dari ku"


"apa maksudmu? kamu Adikku bagaimana kau bisa bilang Arie merebut ku dari mu"


"Keke jangan pura pura bodoh, aku ga mau jadi Adik mu aku mau jadi istrimu, kita bukan saudara kandung ke, apa keinginan ku salah" Air mata Nuwa mulai menetes, namun segera di usapnya dengan kasar.


Alex menghela nafas, dia bangkit dari sofa, dia memegang bahu Nuwa yang tampak enggan menatapnya.


"Nuwa lihat aku"


"lihat Aku" kali ini Alex meninggikan suaranya. Nuwa pun menatap tajam pada Alex.


"kau adalah Adikku, dan selamanya akan seperti itu, maaf Aku tak akan bisa mencintaimu selayaknya seorang pria pada wanita, aku akan selalu menyayangimu sebagai Adikku, suka atau tidak itu kenyataannya"


Air mata Nuwa mulai menetes, dia menatap kecewa pada laki laki yang begitu ia puja selama hidupnya.

__ADS_1


"aku benci Keke... aku benci" Nuwa menghentak tangan Alex, lalu berlari meninggalkannya, Alex sengaja tak mengejarnya, dia ingin memberikan ruang agar Nuwa merenung sejenak.


__ADS_2