Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Melamar part 1


__ADS_3

Alex duduk di kursi kebesarannya, sambil memangku sang kekasih yang menyadarkan kepalanya di bahu Alex. Dengan satu tangannya tuan sipit itu terus mengelus rambut Arie sementara satu tangan lainnya menarikan jemari tangannya di atas keyboard.


"Aku turunnya. Nanti kerjanya nggak selesai selesai lho. Kalau aku duduk kayak gini terus." Arie mulai bergerak turun dari paha suaminya.


Namun, tangan Alex segera memeluknya erat. Menghentikan pergerakan sang istri.


"No! tetap seperti ini!" tegas Alex.


Arie mengalungkan tangannya di leher Alex. Ia tersenyum kecil ia mulai menggosokkan hidung minimalisnya ke leher Alex.


"Sayang. Aku harus berkerja." Alex memejamkan matanya, merasakan kecupan kecil di area lehernya.


Arie menarik wajah lalu beralih mencium pipi suaminya.


"Sayang."


"Hem."


"Kau apa sedang menggodaku?"


Arie hanya tersenyum dan mengecup bibir Alex. Ia hanya menempelkannya saja. Namun, tuan sipit itu segera melu*at dan menyusupkan lidahnya. Arie yang awalnya hanya iseng kini turut larut dalam permainan gulat lidah mereka.


Ponsel Alex terus bergetar. Namun, tidak membuat pasangan suami istri itu melepaskan tautan mereka. Arie memukul dada Alex saat ia mulai kehabisan nafas.


Alex tersenyum kecil setelah melepaskan tautan mereka. Dengan ujung jempolnya ia mengusap lembut bibir Arie yang basah.


"Mau lanjut?"


Arie mengelengkan kepalanya, lalu menyandarkannya lagu di bahu suaminya.


"Ponselmu." ucap Arie sambil menggambar abstrak dengan telunjuknya di dada Alex. Wanita hamil itu sekarang lebih irit bicara.


"Iya."


Dengan malas Alex meraih ponselnya yang terus bergetar. Namun, sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat melihat nama yang tertera di layar pipih itu.


"Wei.."


"Hallo..Tuan, semuanya berjalan seperti yang anda harapkan," ucap seorang pria di ujung telepon.


"Bagus. urus semuanya. Dan harus selesai Minggu depan."


"Tentu tuan."


"Baik, terima kasih."


Alex menutup sambungan teleponnya lalu menaruhnya kembali ke nakas.


"Siapa sayang?" tanya Arie dengan heran. Wajah suaminya terlihat berbinar seperti habis menang undian setelah menerima telepon tadi.

__ADS_1


"Rekan bisnisku, aku berhasil mendapatkan sebuah perusahaan untuk cabang baru kita," ucap Alex penuh semangat.


"Wah.. selamat sayang. Suamiku memang hebat!" Arie memeluk Alex erat.


Kau akan terkejut saat tahu itu adalah perusahaan milik ayahmu sayang.


"Apa aku akan mendapatkan hadiah?"


Arie melepaskan pelukannya lalu menatap intens pada wajah suaminya.


"Hadiah apa? kau mau aku belikan apa?" tanya Arie bingung. Suami sipitnya itu sudah punya segala-galanya.


Alex tersenyum lalu mendekatkan wajahnya hingga pipi mereka saling menempel. Hembusan nafas hangat menyapu leher jenjang Arie, membuatnya meremang.


"Aku ingin kamu," bisik Alex tepat di telinga istrinya.


Arie tertawa kecil. Suaminya itu sungguh tidak bisa membiarkannya istirahat. Dia akan terus mencari kesempatan untuk memakannya.


"O.. jadi aku di ajak ke kantor untuk di itu. Dasar suami mesum." Arie mencubit gemas perut suaminya.


"Aduh.. awas ya," Alex mengelitik tubuh istrinya.


Ibu hamil itu pun terpingkal dan mengeliat kegelian di atas pangkuan Alex. Tawa keduanya mengema jelas terdengar sampai ke luar ruangan. Beberapa karyawan yang mendengar pun turut menaikkan bibir mereka.


"Sudah.. Hahahaha.. perutku sakit," ucap Arie sambil menyeka sudut matanya yang berair.


"Bersiaplah sebentar lagi kita akan pergi," titah Alex sambil menciumi wajah Arie. Ia tak pernah bosan untuk menghujani wajah Arie dengan kecupannya.


"Kemana?" tanya Arie mengeryitkan keningnya heran.


"Mandi dulu sana, aku sudah menyiapkan baju ganti di kamar."


Arie mencebikkan bibirnya. Bukannya menjawab pertanyaannya. Alex malah menyuruhnya mandi. Arie pun turun dari paha suaminya dan mulai berjalan menjauh.


"Aku enggak suka ya pake main rahasia kayak gini," pekik Arie sebelum menutup pintu penghubung.


Alex tersenyum lebar melihat tingkah istrinya. Tuan sipit itu pun segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


Setelah beberapa lama, Arie pun keluar dari kamar istirahat. Ibu hamil itu tampak cantik memakai dress yang di siapkan suaminya. Riasan natural yang membuat Arie semakin terlihat cantik. Alex pun segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Arie.


Jemari di tangan kekar itu membelai lembut pipi istrinya yang cubby.


"Kau terlalu cantik." Alex mendorong sedikit demi sedikit tubuh Arie dengan pelukannya sehingga membuat ibu hamil itu melangkah mundur.


Langkah Arie terhenti saat betisnya menabrak pinggir ranjang. Dengan perlahan Alex membaringkan tubuh istrinya.


Alex mengungkung tubuh Arie yang sudah berisi. Sementara sang istri memanyunkan bibirnya, udah monyong lima centi.


"Mau apa?" ketus Arie dengan cemberut.

__ADS_1


"Mau makan kamu."


"Issh, katanya mau keluar. Udah dandan cantik gini masak mau di berantakin lagi sih!"


Alex terkekeh geli mendengar ucapan istrinya. Alex mencubit gemas hidung minimalis istrinya.


"Sakit tau, kalau di cubit terus ntar jadi mancung gimana?" gerutu Arie sambil mengusap hidungnya yang memerah.


Sambil tertawa Alex perlahan turun dari atas istrinya. Ia berjalan ke arah lemari kecil di sudut ruangan. Ia mengambil kaos warna senada dengan dress yang di kenakan istrinya. Perlahan Arie bangun dan duduk di tepi ranjang.


Alex pun kembali melangkah mendekati istrinya, mengulurkan tangannya membantu Arie untuk berdiri.


"Apa?" tanya Arie masih dengan ketus pada laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Bukain," jawab Alex dengan nada yang di buat manja.


Arie mengatupkan bibirnya menahan senyum. Tangan lentik itu pun mulai membuka kancing jas yang di pakai suaminya.


"Jangan manja. Nanti kalau nggak ada aku gimana. Siapa yang akan mengganti bajumu."


Alex mengerutkan keningnya. Ia menatap Arie dengan tatapan yang tidak suka.


"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak suka. Kau tidak akan pergi kemanapun tanpa aku!" hardik Alex dengan marah. Ia sangat tidak suka mendengar apa yang istrinya ucapkan.


Arie tersenyum, Setelah melepaskan jas dan kemeja suaminya. Ia pun memakaikan kaos berkerah yang di bawah Alex. Tuan sipit itu menundukkan kepalanya sejajar dengan Arie. Agar istri tidak menjinjit saat memakaikan kaos.


"Iya.. iya aku nggak akan kemana mana kok. Hanya bicara asal saja." Arie menepuk bahu suaminya pelan. Lalu sedikit menjinjit untuk memberikan kecupan besar di pipinya.


Ia mengusap lembut rahang suaminya. Dan memeluk erat tubuh kekar Alex.


"Sayang. Aku mencintaimu," ucap Arie dalam dekapan suaminya.


Alex menghela nafas panjang, lalu membalas pelukan istrinya. Ia tak bisa berkata lagi, hatinya akan selalu luluh saat kata keramat itu keluar dari mulut mungil istrinya.


"Jangan bicara seperti itu lagi. aku tidak suka!" tegas Alex. Di jawab anggukkan kecil oleh Arie.


Alex melepaskan pelukan, lalu mengandeng tangan Arie. Dengan bergandengan tangan kedua keluar dari ruangan itu.


Sepanjang jalan semua perhatian tertuju pada pasangan yang memakai baju dengan warna couple itu. Pipi Arie merona merah, ia begitu malu karena semua karyawan memperhatikan mereka.


Sementara Alex terlihat biasa saja. Ah sungguh pemandangan yang begitu manis. Jiwa para jomblo meronta. Bagaimana bisa tuan mereka menyiksa mata para jomblo akut itu.


Alex berdecak kesal. Tiba tiba ia menghentikan langkahnya.


"Tundukkan mata kalian. Siapapun yang berani melihat istriku lebih dari tiga detik, harus keluar dari perusahaan ini tanpa pesangon!" sentak Alex penuh amarah.


Semua karyawan pun menunduk memandang lantai. Sementara Arie menutup mulutnya yang ternganga dengan satu tangannya.


Alex meraih bahu Arie. lalu melanjutkan langkah mereka. Meninggalkan para karyawan yang menggerutu dan mengumpat Alex dalam hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2