Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sah beneran


__ADS_3

Kaki kecil itu terasa berat melangkah masuk ke dalam kamar yang super mewah dan nyaman untuk versinya. Bagaimana tidak, sebuah ranjang king size super empuk berlapis kain warna maroon. Sofa panjang yang tampak manis ada di sudut ruangan, dari sana kau bisa melihat jelas ke arah luar dari jendela kaca besar. Tidak ada lemari hanya ada dua pintu di sana.


Bagaimana selama ini suaminya bisa bertahan hidup bersamanya. Tidur di kasur kapas yang sudah keras. Bahkan luas kamarnya tidak lebih dari seperempat kamar ini. Siska tertunduk lesu, ia merasa bersalah kepada suami.


Tama menutup pintu, lalu memeluk erat tubuh istrinya dari belakang. Menopangkan dagunya di bahu mungil istrinya.


"Bagaimana apa kau suka?" bisik Tama di telinga Siska.


"Mas, maafkan aku," ucap Siska lirih.


Tama mengeryitkan keningnya, Ia melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Siska sehingga mereka berdua berhadapan. Tangan kekar itu mengapit dagu kecil istrinya, sedikit mengangkatnya ke atas. Kini keduanya saling menatap, Mata Siska tampak berkaca-kaca. Sekali berkedip saja air bening itu akan jatuh.


Tama mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bertemu. Siska memejamkan matanya saat belahan kenyal itu mulai mel*mat lembut bibirnya. Air matanya langsung meleleh membasahi pipinya yang mulus.


Dengan terisak Siska membalas ciuman suaminya. Begitu lembut dan dalam. Keduanya saling memagut menyesap rasa manis dari bibir pasangannya. Tama sedikit menarik bibirnya ke atas melepaskan tautan mereka. Dua kecupan besar mendarat di kelopak mata Siska yang masih tertutup.


"Kenapa kau minta maaf?"


"Aku....


Mas pasti tersiksa saat tinggal di rumahku. Maaf ya mas. Seharusnya aku tidak menahanmu lebih lama," ucap Siska mengusap pipinya yang basah. Tama masih menatap sang istri dengan heran.


Tama melepaskan pelukan, lalu ia lembut tangan sang istri mengajaknya duduk di tepi ranjang. Ia pun menarik tubuh sang istri agar lebih merapat.


"Kenapa kau minta maaf?" tanya Tama lembut.


"Mas pasti merasa tersiksa selama hidup denganku di rumah kontrakan itu. Rumahnya kecil, kasurnya keras, ranjangnya berderit, atapnya suka bocor kalau ujan. Apa lagi kamar mandinya. Pasti mas Tama nggak nyaman kan," cerocos Siska.


Pft...


Tama berusaha menahan tawanya. Ia tak menyangka kalau hal itu yang membuat istrinya merasa bersalah. Siska mendongakkan kepalanya menatap Tama dengan bibirnya yang mencebik masam.


"Kenapa ketawa?"


"Kau lucu," ucap Tama sambil mencubit gemas kedua pipi Siska.


"Apa yang ada di otak kecil mu itu. Aku merasa nyaman di mana pun asal ada kamu." Tama mendorong kening Siska dengan telunjuknya.


"Tapi mas."


"Tapi apa. Dengar sayang, di manapun kita akan tinggal, aku akan merasa nyaman asalkan kita selalu bersama. Jangan pikirkan lagi. Mau aku mandiin nggak," ucap Tama sambil menaikkan kedua alisnya.


"Aku bisa sendiri kok," Ujar Siska seraya bangkit dari duduknya.


Namun, langkahnya terhenti karena Tama memegang erat tangannya. Siska pun menoleh kearah suaminya.


"Aku yang mau di mandiin," rengek Tama manja.


"Astaga mas! aku geli dengar kamu ngomong kayak gitu."


"Ayo dong mandiin," rengek Tama sambil mengayunkan kedua kakinya.

__ADS_1


"Mas!" pekik Siska sambil tertawa melihat wajah suaminya yang di buat memelas.


Tama pun tersenyum, ia pun berdiri dan mengangkat tubuh kecil istrinya dalam gendongannya. Tawa Siska reda seketika, berganti rasa gugup bercampur malu. Jantungnya terasa berdegup dua kali lipat lebih dari biasanya. Ia pun bisa mendengar detak jantung suaminya yang sama kencangnya.


"Ayo mandi." Tama melangkahkan kakinya menuju sebuah pintu yang tidak jauh dari tempat tidur mereka. Siska hanya mengangguk kecil dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Tama.


Antara malu dan mau. Ah sudahlah nikmati saja. Toh apa yang akan mereka lakukan di ruangan itu hanya mandi. Kalau lebih pun mereka tidak akan dosa kan udah nikah.


Cukup lama pasangan pengantin yang bisa di bilang baru itu menyelesaikan ritual mandi plus plus mereka. Tama pun menuntun tangan istrinya untuk berjalan ke sebuah ruangan khusus tempat baju dan segala keperluan mereka di simpan.


Lagi lagi Siska di buat terkesima dengan fasilitas yang tersedia di sana. Lemari kaca yang dipenuhi oleh tas wanita dan sepatu high heels yang jelas tidak murah. Baju baju yang bagus dengan bahan terbaik berjajar rapi di lemari sebelahnya.


"Mas ini punya siapa?" tanya Siska heran.


Apa ini punya mantan mas Tama ya? gumam Siska dalam hatinya.


"Ini semua punya kamu. Aku sendiri yang membelinya."


"Mas beli sendiri?"


"Dari mana mas tau ukuran bajuku? lalu ini mas!?" Mata Siska terbelalak, wajahnya merah padam karena malu.


Siska membuka laci lemari yang berisikan pengaman milik wanita dengan berbagai model dan itupun sesuai dengan ukurannya. Dengan tergesa-gesa ia menutup laci itu.


"Kenapa malu?" ujar Tama yang melihat wajah istrinya yang memerah.


"Iy-iyalah malu. Mas beli ginian apa nggak malu?"


Siska berusaha mendorong tubuh suaminya. Namun, tenaganya kalah kuat.


"Cepat pakai bajumu, atau aku akan memakanmu lagi," bisik Tama dengan suaranya yang berat.


"Eh...kan tadi udah mas. Apa mas nggak capek?," ucap Siska yang lolos begitu saja. Ia pun segera menutup mulutnya dengan tangan.


"Kau meragukan ku?" ucap Tama dengan mengeryitkan keningnya.


Siska mengelengkan kepalanya cepat.


"Mas keluar dulu sana aku mau ganti baju." Siska mendorong tubuh suaminya dan Tama pun membiarkannya agar pelukan mereka terlepas.


Jujur Tama pun tidak bisa menahan dirinya saat berdekatan dengan Siska. Libidonya akan segera naik begitu ia melihat istrinya, apalagi keada Siska sekarang yang hanya memakai handuk buang melilit tubuhnya.


Setelah memakai pakaian lengkap. Siska pun keluar dari tempat baju. Ia melangkah mendekati suaminya yang duduk di tepi ranjang.


"Mas," panggil Siska lirih.


Bukannya menjawab Tama malah menarik tangan istrinya, sehingga membuat wanita itu jatuh dan duduk di pangkuannya. Tama pun mengeluarkan kotak yang sama yang ia berikan kepada petugas tadi. Kotak itu ia letakkan di atas pangkuan istrinya.


"Bukanlah," titah Tama sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Siska.


Dengan rasa penasaran yang besar. Siska membuka kotak itu dengan kasar. Pupil matanya melebar, tangan lentik itu gemetar saat melihat isi dari kota itu.

__ADS_1


Dua buku kecil yang menyatakan mereka sah secara suami istri di mata hukum. Dengan perlahan Siska membuka buku kecil itu. Air matanya meleleh dengan anggun di pipinya. Rasa haru dan bahagia meletup letup dalam hatinya.


"Mas ini," Siska tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya Ia sudah menangis dan terisak dalam pelukan suaminya.


Tama pun memeluk erat tubuh istrinya. Ia sungguh merasa beruntung bisa bertemu wanita yang kini menjadi permaisuri di hatinya. Bersamanya Tama ingin membuat lembaran baru. Melupakan masa lalunya. Ia ingin mengisi hari harinya dengan cerita bersama keluarga kecilnya.


Sementara di tempat lain.


Arie masih menikmati hembusan angin pantai di balkon kamarnya. Sayangnya matanya tidak bisa terbuka lebar menyaksikan pemandangan malam ini. Karena serangan suaminya dari belakang.


Arie mengenggam erat pagar besi yang ada di tepi balkon. Ia mengigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara yang akan menganggu penghuni kamar lainnya.


"Jangan di tahan," ucap Alex sambil terus menghujamkan batang miliknya.


"Tapi.. emh-." Arie mengigit bibir bawahnya lagi saat gelombang kenikmatan hampir datang.


"Say may name honey," bisik Alex sambil meremas kedua melon kembar kesukaannya.


"Alex," ucap Arie di sela desah*nnya.


Tubuhnya menegang saat gelombang itu benar benar datang. Wajahnya menengadah ke atas dengan mata terpejam, menikmati cairan lava yang masuk ke dalam rahimnya. Alex pun meng*rang nikmat saat intinya mulai memompanya benih yang akan menjenguk juniornya.


Alex membalikkan tubuh istrinya setelah melepaskan pagutan inti mereka. Ia menghujani wajah sayu Arie dengan begitu banyak kecupan. Rasanya tidak akan pernah cukup baginya untuk memakan istrinya. Tubuhnya serasa seperti candu bagi Alex. Nafas keduanya memburu, hangat dan saling bersahutan.


Wajah Arie terlihat lelah, Alex masih memandang wajah Istrinya yang tampak begitu cantik. wanita itu seperti magnet yang menariknya kuat. Netra kecoklatan itu seperti matahari baginya. Alex sungguh tak bisa membayangkan bila harus terpisah dari wanitanya itu.


Jemari kekar itu merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya, menyelipkannya ke belakang telinga.


"Kau sungguh cantik sayang," ucap Alex sebelum mendaratkan ciuman lembut di bibir merah muda itu.


Arie hanya membalasnya dengan senyuman tipis. Tubuhnya terasa lelah karena Alex yang terus saja mengunjungi junior dalam perutnya. Walaupun ia juga menikmati permainan suaminya. Tapi hati ini tenaganya benar benar terkuras habis.


"Gendong," rengek Arie manja. Ibu hamil itu merasakan kakinya lemas hingga tidak kuat lagi untuk berjalan.


Alex pun tersenyum.Ia segera menunduk dan membawa tubuh istrinya dalam gendongannya. Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidur, lalu membaringkan tubuh Arie dengan lembut.


Pria itu merapikan baju yang dipakai istrinya sebelum menyelimuti tubuh Arie dengan selimut. Ia pun mengecup kening Arie dengan hangat.


"Tidurlah."


Arie pun mengangguk kecil kemudian meringsek kedalam selimut yang nyaman. Alex pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah menyelesaikan ritual mandi malam Alex pun bergegas keluar dari kamar mandi.


Melihat istrinya yang masih begitu damai dalam tidurnya membuat Alex lagi lagi tersenyum lebar. Ia pun mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


"Bagaimana?" tanya Alex singkat pada asistennya di ujung telepon.


"Semua seperti yang anda inginkan, besok malam akan terjadi drama seperti yang sudah anda rencanakan tuan," jawab Chiko dengan mantap. Kali ini ia benar benar melakukan tugasnya dengan baik.


"Bagus, aku akan pulang besok pagi. Pastikan tidak ada kesalahan sedikitpun!" tegas Alex.


"Tentu tuan."

__ADS_1


Alex pun menyeringai tipis dan menutup sambungan teleponnya. Pria sipit itu merasa tidak sabar untuk menunggu matahari terbit besok. Ia akan memberikan kejutan untuk keluarga yang telah membuang istrinya. Orang yang berani membuat Arie menitikkan air mata akan menerima pembalasannya.


__ADS_2