Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Aman untuk dipakai


__ADS_3

"Keke, pasti senang kalau tahu Kakak sudah bisa berjalan lagi," ucap Nuwa penuh haru.


"Tolong, jangan katakan apapun pada Alex soal ini, aku ingin memberikannya kejutan."


"Hem, gimana ya? aku nggak tega kalau suruh bohongi Keke," ucap Nuwa dengan bimbang.


"Ke salon hari ini biar aku yang bayar, lakukan apapun yang kau inginkan di sana. Deal." Senyum Nuwa mekar dengan sempurna tanpa celah.


"Deal, tapi bagaimana dengan suster dan dokter yang ada di sini, bukankah mereka juga memberikan laporan pada Keke?"


"Tenang saja mereka juga sudah aku beritahu. Lagi pula sudah hampir tiga kali ini Alex tidak mengantarkanku. Jadi aku lebih mudah menyembunyikan ini semua."


Nuwa mengacungkan dua jempolnya pada sang Kakak ipar.


"Baiklah kalau begitu mari kita segera menghabiskan uang Keke, aku sudah tidak sabar untuk melakukan perawatan dari ujung kaki sampai ujung kepala," ucap Nuwa dengan semangat.


"Oke, lets go." Arie mengandeng tangan Nuwa untuk memudahkan berjalan.


Dengan segera suster yang ada di sana memberikan satu tonggak penyangga pada Arie.


"Terima kasih suster." Arie melepaskan tangannya dari lengan Nuwa, dan mengambil tongkat penyangga dari Suster itu.


"Sama sama Nyonya," ucap suster itu dengan ramah.


"Tolong bagikan semua makanan itu pada perawat yang ada di sini," titah Arie sambil menunjuk ke arah meja yang tersaji semua makanan yang di sediakan untuknya.


"Seperti biasa Nyonya, saya akan melakukannya. Nyonya Arie sudah di tunggu Dokter Lia di Ruangan untuk konsultasi. Mari saya antarkan." Suster itu berjalan mendahului Arie dan Nuwa untuk membukakan pintu untuk mereka berdua.


Ketiga wanita itu pun pergi ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari tempat Arie melakukan terapi. Seorang wanita paruh baya dengan duduk manis di balik meja kerjanya menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang Nyonya Arie, silakan duduk. Bagaimana tadi lancar kan terapinya?" sambut Dokter itu.


Arie pun tersenyum manis. Nuwa membantu Kakak iparnya untuk duduk, setelah menyandarkan tongkat penyangga di tembok, ia pun turut duduk di sebelah Arie.


"Sangat lancar Dokter, saya juga tidak lagi merasakan ngilu ataupun sakit saat mengerakkan kaki saya, hanya saya masih merasa sedikit gemetar," jawab Arie dengan penuh semangat.


"Perkembangan Anda memang sangat baik, Nyonya. Anda pasti sudah berlatih dengan sangat keras beberapa bulan ini. Kita lihat dulu hasil ronsen terakhir Anda."


Dokter Lia mulai mengecek data pada layar komputer yang ada di samping meja kerjanya. Ia mulai mencari data foto ronsen yang di lakukan Arie, sebelum ia memulai terapinya hari ini.


Dokter Lia tersenyum lebar. Ia menggeser letak layar komputernya agar Arie dan Nuwa bisa melihat gambar yang ada di layar itu dengan jelas.


"Selamat Nyonya, tulang paha Anda sudah sangat baik . Anda bisa lihat di sini, tulang kaki anda sudah tumbuh dengan baik. Begitu juga dengan panggul Anda," ujar sang dokter menjelaskan sambil menunjuk ke arah gambar yang terpampang di layar.


"Selamat ya kak." Nuwa memeluk erat tubuh Arie dari samping.

__ADS_1


"Terima kasih Dokter, terima kasih," ucao Arie dengan menitipkan air matanya.


"Saya hanya menjalankan tugas saya Nyonya. Semua ini adalah kehendak Tuhan. Atas izin-Nya lah. Nyonya bisa sembuh dengan secepat ini. Di tambah lagi kasih sayang dari keluarga dan suami Nyonya yang begitu besar. Itu semua turut mendukung kesembuhan Anda."


"Iya Dokter." Arie mengangguk, lalu menyusutkan air matanya.


"Maaf, apakah Dokter bisa membantu saya lagi. Tolong jangan berikan laporan ini kepada suami saya. Saya ingin memberikan kejutan kepadanya," ucap Arie.


"Tentu," sahut Dokter Lia.


"Ini hasil foto ronsenya, Saya sarankan anda untuk berkonsultasi dengan Ahli gizi. Mungkin akan ada perubahan pada pola diet makan anda. Mengingatkan keadaan Nyonya yang sudah lebih baik." Dokter itu menyodorkan sebuah amplop besar berwarna putih dengan label rumah sakit mereka.


"Baik, Dokter."


"Sini Kak, biar aku yang bawa." Nuwa mengambil amplop besar itu dari tangan Arie.


"Iya, Terima kasih," ucap Arie yang di jawab anggukkan kecil oleh adik iparnya.


"Apa Nyonya ingin menanyakan sesuatu?" tanya Dokter Lia. Ia melihat wajah Pasiennya yang menahan rasa ingin tahu.


Wajah Arie terlihat bersemu kemerahan saat dokter menegurnya. Ia memang ingin sekali menanyakan sesuatu kepada Dokter Lia. Namun, ia juga Mesa sangat malu.


"Emh... apa saya sudah aman untuk di pakai, Dokter?" akhirnya Arie memberanikan dirinya untuk bertanya.


Nuwa menutup mulutnya, sambil melihat Arie dengan tidak percaya.


"Apakah saya sudah untuk melakukan hubungan suami-istri Dokter?"


Blush.


Wajah Arie sudah merah seperti tomat kematangan. Malu, akan tetapi dia juga ingin mengetahui hal itu. Rasanya tidak tega melihat sang suami yang terus-menerus menahan diri untuk tidak menyentuhnya.


Arie paham bagaimana hasrat sang suami yang begitu besar padanya. Bukan hal mudah bagi Alex untuk menahan hal itu selama ini.


Dokter itu tersenyum penuh arti.


"Silakan, asal jangan terlalu over dulu, dan lakukan gaya yang aman saja ya," jawab sang dokter.


"Memang berapa gaya sih Dok?" Seloroh Nuwa.


"Nuwa." Arie menyikut lengan adiknya.


"Apa sih kak, Nuwa kan pengen belajar ini." Nuwa mencebik bibirnya


"Nanti aku ajari di rumah," ucap Arie dengan berbisik.

__ADS_1


"Maafkan adik saya ya Dokter. Saya permisi dulu."


"Iya, silakan."


Arie berdiri dengan bantuan Nuwa, setelah memakai tongkat penyangganya Arie pun berjalan keluar dengan Nuwa. Mereka menyusuri lorong rumah sakit sambil membicarakan jurus yang di minta oleh Nuwa. Pembicaraan mereka terhenti saat seseorang menyapa Arie.


"Mbak Arie!"


Arie yang mendengar seseorang memanggilnya, pun menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sumber suara.


"Mbak Siska!"


Siska berlari kecil menghampiri Arie. Ia begitu senang bisa bertemu dengan Arie. Terakhir kali mereka bertemu, saat Siska menolong Arie malam itu.


"Mba Arie apa kabar? kaki mba Arie kenapa?" cerca Siska.


"Kabar ku baik Mbak.Ini hanya kecelakaan kecil. Mbak Siska sendiri bagaimana kabarnya? Maaf waktu itu aku belum sempat berterima kasih pada Mbak Siska," ucap Arie sendu.


"Iya Mbak, nggak apa-apa. Aku senang banget bisa ketemu sama Mbak Arie lagi," ucap Siska dengan senyum lebar mengembang.


"Iya aku Seneng banget Mbak. Ngomong ngomong Mbak Siska ngapain di sini? apa Mbak Siska sakit?"


"Enggak Mbak Aku-


Ehem.


Nuwa yang merasa diacuhkan pun akhirnya mengeluarkan suaranya.


"Ada orang lain di sini," sindir Nuwa. Arie pun menyengir kuda pada Adik iparnya.


"Maaf lupa." Nuwa mencebikkan bibirnya.


"Mbak Siska kenalin, ini Nuwa Adikku."


"Nuwa ini temanku, Siska,"


"Siska."


"Nuwa."


Dua perempuan itu saling menjabat tangan dengan senyum ramah.


"Mba Siska belum jawab pertanyaan ku lho.


Mbak ngapain di sini?" cerocos Arie lagi.

__ADS_1


"Suami saya di rawat di sini," jawab Siska dengan senyum manisnya.


"Suami? Mbak Siska udah nikah. Kapan? kenapa nggak undang aku sih," protes Arie dengan menekuk mukanya masam.


__ADS_2