Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
ulang tahunku


__ADS_3

Alex tidak perduli dengan adiknya yang mendesis sambil mengelus pantatnya yang berciuman keras dengan kursi. Alex menghela nafas berat, ia menatap sang adik dengan tajam.


"Katakan!"


"Katakan apa?" Nuwa mengerucut bibirnya dengan kedua alisnya tertaut.


Sebenarnya Alex juga bingung dengan apa yang ingin dia tanyakan, ia memijit pelipisnya. Kepalanya seperti mau pecah memikirkan ini. Alex menengadahkan kepalanya, memejamkan matanya sambil mengambil nafas dalam.


Setelah merasa sedikit tenang. Ia kembali menurunkan kepalanya. Menatap sang adik dengan lesu.


"Apa kau tau apa yang kakak iparmu marah?"


Tau, aku yang menyuruhnya.


"Kakak ipar? tidak. lagi pula dia terlihat baik-baik saja saat aku ke rumah pagi ini."


"Dia marah hanya padaku, Arie bahkan tidak ingin bicara padaku."


"Mungkin Keke memang pantas mendapatkannya," sindirnya pada Alex.


"Kau, bukannya membantu. Awas saja kau!" ancam Alex.


"Hii.. takut. Aku tidak tahu kenapa kakak ipar marah, tapi coba Keke belikan sesuatu untuk kakak ipar, perempuan kan suka di suka kalau di kasih hadiah, termasuk aku. Hehehehe...."


Alex diam sambil memangut mangutkan kepalanya. Sepertinya ide Nuwa tidak buruk.


"Kau ikut aku." Alex menarik tangan Nuwa.


"Eh...kemana?" langkah Nuwa terseret mengikuti langkah lebar sang kakak yang menariknya keluar dari ruangan itu.


"Tentu saja membeli hadiah untuk kakak ipar."


Nuwa menghentikan langkahnya lalu menghentak tangannya agar terlepas dari genggaman Alex. Alex segera menoleh ke belakang saat Nuwa melepaskan tangannya.


"Aku tidak bisa ikut, Ke."


"Kenapa?"


Kenapa aku harus di rumahlah bantu kakak ipar.


"Aku ada janji dengan Daniel, lagipula Keke harus memilih hadiah itu sendiri agar lebih spesial," cerocos Nuwa.


"Baiklah pergi sana!"


"Udah kelar aja ngusir, week." Nuwa menjulurkan lidahnya berjalan melewati Alex.


Alex pun segera melanjutkan langkahnya. Sambil memikirkan hadiah yang akan dia berikan untuk meluluhkan hati sang permaisuri.


Rumah.


Langit malam bertabur bintang. Malam ini terlihat begitu indah dengan purnama yang berhias di langit malam. Semua orang tanpa sibuk di halaman belakang.


"Bagaimana mana semua sudah siap?" tanya Arie dengan raut wajah yang cemas.


"Tenanglah semua sudah sempurna, lagi pula apa yang kau cemaskan. Rileks saja." Nana merangkul bahu adik iparnya.


"Tidak tau kak, aku hanya takut dia marah."


"Sudahlah kakak ipar, Keke tidak mungkin marah. tinggal aku berikan sentuhan terakhir." Nuwa mengambil ponselnya dan bersiap menghubungi Kakaknya.


Setelah telepon di angkat dan Nuwa mengatakan sesuatu pada Alex. Nuwa pun segera menutup telfonnya.

__ADS_1


"Nuwa, kau jahat!" seru Arie sambil memukul pelan bahu adiknya yang sedang menyengir kuda.


"Biarin kapan lagi bisa gituin Keke," sahut Nuwa tanpa rasa bersalah.


-


-


Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Setelah mendapatkan telefon dari adiknya Alex langsung bergegas pulang dari kantor.


Setelah cukup lama berkendara dengan menerobos lampu merah Alex akhirnya sampai di rumah. Ia bergegas turun dari mobil, berlari masuk ke dalam.


Rumah besar itu gelap, Alex merasa heran tak satupun lampu rumah yang di nyalakan. Namun, ia terus melangkah masuk.


"Kenapa gelap sekali, kemana perginya semua orang?"


"Sayang!" pekik Alex memanggil istrinya.


"Bi Asih, Ning, Joko!" teriakannya memanggil semua asisten. Tapi tak ada satupun yang menjawab panggilannya.


Tiba-tiba seorang wanita cantik berdiri di


"Happy birthday...to you. Happy birthday to you Happy birthday... Happy birthday... Happy birthday to you," Arie bersenandung kecil sambil berjalan mendekat ke arah sang suami yang tergugu melihatnya.


Alex membeku, ia menatap masih berusaha mencerna apa yang ada di hadapannya. Baru saja ia mendapat kabar kalau Arie jatuh dari kursi rodanya dan sekarang. Apa? istrinya malah berdandan dengan cantik, berdiri sambil membawa kue ulang tahun di hadapannya.


"Apa ini?" tanya Alex dengan herannya.


"Surprise," ucap Arie dengan senyum manisnya.


"Tapi ini bukan hari ulang tahunku."


"Memang bukan, tapi ini ulang tahunku," jawab Arie.


Kalau saja ia tahu ini adalah ulang tahun istrinya Alex tentu akan merayakannya dengan sangat meriah. Alex hendak mengambil kue yang ada di tangan Arie. Namun, ditahan oleh istrinya itu.


"Kita tiup dulu lilinnya," pintanya dengan manja. Alex pun mengangguk.


Keduanya sedikit menunduk lalu meniup satu lilin kecil yang ada di atas kue tart berbalut krim berwarna putih dan pink, serta bertabur sprinkel beraneka bentuk warna gold. Simpel namun terlihat elegan.



Aku berharap aku bisa menghabiskan sisa umurku untuk terus bersama dan mencintaimu suamiku.


Aku ingin mencintaimu dan menjadikan kau menjadi istriku, di kehidupan ini dan kehidupan yang akan datang jika memang itu ada.


fuh.


Lilin pun padam. Alex mencium kening dan kedua pipi istrinya.


"Selamat ulang tahun permaisuriku," ucap Alex.


Dor


Berbagai kertas kelap kelip berterbangan di udara. Semua orang berhamburan keluar persembunyiannya. Semua lampu menyala.


"Surprise!!" teriak semua orang yang ada di sana. Mereka semua memakai baju berwarna merah sebagai dress code pesta itu.


Alex menatap tajam pada Nuwa yang berjalan mendekatinya. Gadis itu bersembunyi di belakang Kakak iparnya.


"Nuwa, berani kau membohongiku!" sentaknya pada sang adik.

__ADS_1


"Kalau aku nggak bohong nanti keke pulang telat lagi, dan menggagalkan semuanya. Iyakan kakak ipar," kilah Nuwa


"Kau-


"Sayang sudahlah. Nuwa bawa kuenya," titah Arie.


"Siap kak!" Nuwa pun secepat kilat membawa kue yang dibawa kakak iparnya, lalu segera menjauh dari di sejoli itu.


Arie melangkah mendekat mengikis jarak diantara mereka. Dengan serta merta Arie memeluk suaminya, Alex pun membalas pelukan hangat istrinya.


"Selamat ulang tahun sayang." Alex mengecup lembut pucuk rambut istrinya.


Arie melepaskan pelukannya, dengan tersenyum Arie menarik tangan Alex untuk pergi ke halaman belakang, dimana semua orang sudah menunggu mereka di sana.


"Sayang kakimu." Alex langsung mengangkat tubuh kecil Arie dalam gendongannya. "Kau belum boleh berjalan seperti ini."


"Siapa bilang? aku sudah lama sembuh." Arie mengalungkan tangannya di leher Alex.


"Apa? kapan kau sembuh?"


"Hem." Arie mengangkat bahunya acuh.


"Sayang, aku bertanya padamu," ucap Alex dengan lembut. Sementara Arie masih terus acuh padanya.


"Adikku tersayang selamat ulang tahun!" seru Arow dari kejauhan. Ia pun mengandeng Nana berjalan mendekat.


"Terima kasih kak." Arie melepaskan tangannya dari leher Alex lalu memeluk kakaknya beberapa detik kemudian melepaskannya.


"Selamat ulang tahun sayang," ucap Nana. Kedua wanita itu cipika-cipiki dengan gembiranya.


"Sayang bisa tolong turunkan aku," pinta Arie.


"Tidak!" tegas Alex.


Alex masih menatap tidak suka pada Kakak iparnya yang. baru saja mendapatkan pelukan hangat dari Arie.


"Tapi aku ingin duduk di sebelah ayah, di sana," rengek Arie.


"Aku akan mengantarmu sampai ke sana." Alex melangkahkan kakinya berjalan ke arah sang mertua yang sedang bercengkrama dengan kakek Wu


"Ayah," panggil Arie saat ia sudah dekat.


"Anakku, selamat ulang tahun." Adinata mengecup singkat kening anak perempuannya itu.


"Terima kasih. Ayah," ucap Arie penuh syukur.


"Ayah hanya bisa memberikan doa terbaik untukmu. Sayang," ucap Adinata sambil mengelus lembut rambut Arie.


"Aku sudah sangat bersyukur karena bisa bersama lagi dengan Ayah," ucap Arie dengan matanya yang berkaca-kaca.


Adinata tersenyum ia pun menatap sang anak dengan haru. Ia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan putrinya setelah sekian lama.


"Selamat ulangtahun cucuku." Kakek Wu turut mengucapkan selamat lalu mengusap lembut rambut cucunya.


"Alex apa kau tidak lelah mengendong Arie seperti itu. Turunkan dia, dan biarkan Arie menikmati pesta ulang tahunnya!" titah Kakek Wu.


"Kakek benar, Aku merasa sangat lelah. Aku akan mengajak istriku istirahat dan kalian nikmati aja pestanya." Alex membalikkan badannya dan melangkah lebar masuk kedalam. Ia tak menghiraukan Kakek Wu yang meneriakinya dengan semua umpatannya.


"Alex tapi ini ulang tahunku, aku harus ada di pesta itu," rengek Arie.


"No." jawab Alex datar.

__ADS_1


"Sayangku."


"Temani aku istirahat. Istriku!" tegas Alex.


__ADS_2