Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sayang


__ADS_3

Arie masih betah berlama lama dalam kamarnya, dia duduk di atas ranjang empuknya, memakai headset yang mengalunkan lagu lawas milik band padi yang berjudul Manusia bodoh, tak perduli dengan pintu yang terus di gedor, tak perduli dengan Alex yang terus berteriak, bilang akan menjelaskan, dalam kepala Arie masih jelas memori nya saat wanita seksi itu bergelayut di lengan suaminya, dadanya kembali bergemuruh saat kenangan itu terlintas di benaknya.


Mata Arie terasa berat, tak kuasa menahan kantuk akhirnya dia berlayar ke pulau kapuk. Entah berapa lama Arie memejamkan matanya, Arie terbangun karena cacing dalam perutnya yang sudah berdendang, tak perduli dengan suasana hati yang punya lambung, intinya cacing cacing itu menuntut untuk makan.


Setelah kesadarannya cukup terkumpul, Arie turun dari ranjangnya sembari melepas headset yang melekat di telinganya, hening tak ada suara, perlahan Arie membuka pintu kamar, menengok kanan dan kirinya tak ada tanda tanda dari suami sipitnya.


Bukk..


Arie hampir saja terjungkal, gara gara tersandung benda besar yang meringkuk di depan kamarnya, Arie berjongkok melihat wajah suaminya yang nampaknya lelap, Arie mengulum senyum, dia merasa tersentuh Alex menunggu pintu kamar terbuka sampai dia tertidur di lantai.


"Capek ya Mas sipit" ucap Arie sambil mengusap lembut pipi suaminya, Arie tercengang saat menyadari suhu tubuh Alex yang tinggi.


"Alex....Alex bangun, ayo cepat bangun" Arie berusaha mengangkat tubuh suaminya yang masih terlelap, atau pingsan Arie sendiri pun tak pasti dengan keadaan Alex sekarang.


Dengan susah payah Arie membawanya Alex ke dalam kamarnya dan membaringkannya di ranjang. Arie mulai melepaskan sepatu, dasi, jas. Arie bergegas mengambil handuk dan baskom yang berisi air, Arie mulai membuka kancing kemeja Alex yang langsung menampakkan dada bidang dan jajaran roti sobek milik suaminya, membuat Arie menelan salivanya, otak Arie mulai traveling namun segera di tepisnya, ini bukan saatnya mesum ia tekankan pemikiran lurus pada otaknya yang mulai bengkok, dengan perlahan Arie mulai membasuh seluruh tubuh Alex, setelah mengganti air Arie menaruh handuk kecil basah di kening Alex, dua jam telah berlalu Arie sangat cemas karena suhu tubuh Alex yang tak ada perubahan sama sekali.


Tidak mungkin Arie membawa Alex pergi ke rumah sakit sekarang, Arie semakin khawatir karena mata Alex tak kunjung terbuka, akhirnya Arie memutuskan untuk menghubungi seseorang. Arie mengambil ponsel di atas meja, dan segera menggeserkan ujung jarinya di atas layar pipih.


"Mas Tama, bisa ke tempatku sekarang, ini darurat"


"Aku akan segera kesana"


"Aku akan share lokasi nya, terima kasih" Arie bersyukur dia sempat menyimpan nomer Tama saat mereka bertemu.


Tak berselang lama Tama sudah sampai di Apartemen, sebelumnya Tama sempat ragu saat Arie mengirimkan alamat padanya, karena lokasi yang di kirimkan Arie hanya di tinggali oleh orang orang elit dan berkantong tebal. Namun keraguan Tama hilang saat mendapati Arie membuka pintu untuknya.


"Maaf ya Mas, malam malam ngerepotin"


"Ga papa, emang siapa yang sakit,"


"Suamiku Mas, ayo masuk dia ada di kamar" ucap Arie dan berjalan mendahului Tama, langkah Tama terhenti, kata suamiku yang baru saja dia dengar, Tama seakan tak ingin mempercayainya.


"Lho Mas, ayo kok diam saja"


"Oh.. iya " Tama segera melangkah mengikuti Arie, mereka masuk dalam sebuah kamar, ternyata di sana sudah ada orang lain selain pasien yang terbaring di ranjangnya.


"Ini suamiku Mas, tolong di periksa, dari tadi dia tidak mau membuka matanya, Dia kenapa Mas, apa yang terjadi padanya?" ucap Arie cemas.

__ADS_1


"Iya sabar, aku akan memeriksanya" lagi lagi kata itu, suamiku, hati Tama seakan remuk saat Arie mengulang kata itu, namun Tama harus bersikap profesional.


"Dia sakit Typus, dia harus di rawat di rumah sakit" ucap Tama sambil melepaskan stetoskop dari telinganya.


"Ehm... aku tidak mau ke sana" ucap Alex lirih. matanya mulai terbuka walaupun masih terasa berat, tubuhnya sungguh terasa tak bertulang, lemah tak berdaya.


"Alex, kau sudah sadar" Arie duduk bersimpuh di sebelah kepala Alex, matanya berkaca-kaca melihat Alex yang sudah siuman.


"Tapi kau sakit, Sayang" ujar Arie sambil mengelus kening suaminya.


"Aku ingin di rumah saja, aku tidak mau ke rumah sakit" lirih Alex, Arie menatap kepada Tama.


"Dia bisa di rawat di rumah, tapi harus menyiapkan infus karena dia sangat lemah" jawab Tama, seakan mengerti dengan makna dari tatapan yang di berikan Arie padanya.


Tama segera menuliskan resep obat dan barang lain yang harus di beli, Arie segera menyuruh Ipul untuk pergi membeli apa yang di perlukan. Ipul segera pergi ke apotek, tak butuh waktu lama Ipul membawa semua yang di tulis oleh Dokter Tama. setelah memasang infus dan menjelang resep obat ke pada Arie Tama segera pamit untuk pulang.


"Mas, biar di antara sama Ipul saja"


"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri kok"


"Mas Tama sekali lagi terima kasih"


Arie pun membalas dengan senyuman manisnya, melepas kepergian Tama, Tama harus segera pergi, terjebak melihat Arie yang membuatnya harus mengubur dalam dalam perasaanya, Dia terlambat semua sudah terjadi , Tama harus belajar melepaskan Arie, dengan gontai Dokter muda itu berjalan ke arah lift.


Arie berkutat di dapur menyiapkan bubur untuk Alex, setelah selesai dia segera pergi ke kamar. perlahan Arie membantu Alex duduk.


"Makanlah" ucap Arie sambil menyodorkan sesendok bubur yang telah di tiupnya. Alex pun membuka mulutnya, mata Alex fokus memperhatikan wajah Arie dengan sesama.


"Ada apa, kenapa kau melihatku seperti itu" ucap Arie yang merasa risih karena Alex terus menatapnya.


"Cantik" akhirnya terucap kata yang hanya Alex ucapkan saat melihat Arie tidur, pipi Arie bersemu merah.


"Ngomong apa sih, sudah cepat makan"


Setelah selesai menyuapi suaminya, Arie membuka obat dan menyuruh Alex untuk meminumnya, baru saja Arie hendak bangkit dari duduknya, namun tangannya di tahan oleh Alex.


"Sayang, maaf" lirih Alex sambil tertunduk, jantung Arie berpacu saat Alex memanggilnya dengan sayang.

__ADS_1


"Aku tidak ada hubungannya apapun dengan wanita itu, Dia memang seperti itu, suka nempel."


"Tapi kau mau membiarkannya." Arie menghela nafas panjang.


"Maaf, aku tidak tahu kalau akan marah."


"Baiklah, tapi tidak lain kali."


"Berarti Sayang kau memaafkan aku," sebuah senyum terbit di bibir Alex yang masih pucat.


"Kenapa panggil aku begitu sih," ucap Arie memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.


"Bukankah tadi Kau duluan yang memanggilku, Sayang." Alex memegang dagu Arie mengarahkan wajah Arie perlahan hingga mereka berhadapan, Alex terus mendekatkan wajahnya mengikis jarak diantara mereka.


Arie memejamkan matanya menikmati hembusan nafas Alex yang terasa hangat menyapu wajahnya, dua bibir itu kini menyatu dengan lembut. Memuaskan rindu yang lama tak tersampaikan. Arie membuka mulutnya, mempersilahkan Alex masuk untuk menari bersamanya. Kedua lidah itu kini saling beradu, menari dalam melodi yang sama. Arie mengalungkan tangannya di leher Alex. Nafas mereka semakin memburu, ci***n yang lembut kini semakin menuntut. Alex melepaskan tautannya sejenak membiarkan Arie bernafas, sebelum mereka kembali menyatu.


Tok...tok..tok...


Suara ketukan pintu membuat tangan Alex yang tengah naik gunung terhenti.


"Aku liat sebentar." Arie merapikan bajunya, lalu membuka pintu.


"Mba Boss aku muleh piye?" [ "Mba Boss aku pulang atau gimana?" ] tanya Ipul yang tengah bingung sendiri dengan nasibnya.


"Awakmu, turu kene ae sek, turu o di kamar tamu." [ "kamu tidur di sini aja, tidur saja di kamar tamu." ]


Ipul pun mengangguk dan segera pergi ke kamar yang di maksud Arie. Ipul paham dia tak ingin lama lama menganggu aktivitas malam Bossnya. terlihat jelas apa yang di lakukan oleh dua insan itu di dalam, melihat keadaan Arie yang berantakan.


"Sayang, kamu masih sakit, ga usah dulu ya," ucap Arie yang sekarang tengah berbaring di sisi Alex.


"Tapi aku kangen," rengek Alex mengiba. Dengan tangan satu tangannya, ia sudah kembali merambat di bukit Teletubbies milik Arie.


"Tapi tubuhmu masih lemah, dan tanganmu juga di infus," ucap Arie sambil berusaha menahan suara d**ahnya.


Alex membisikan sesuatu yang membuat Arie membulat matanya. Alex menatap Arie dengan mengiba. Dengan malu malu Arie mulai membuka sendiri baju yang ia kenakan, dengan perlahan Arie merayap seperti cicak di atas tubuh suaminya yang sudah sama polosnya, Arie menguasai tubuh Alex dia duduk di atas paku bumi yang tegak berdiri, memainkan tubuhnya naik dan turun, permintaan gila Alex yang dinikmatinya.


Tinggalkan jejak comment ya,

__ADS_1


Ojo jempol tok ,kan aku ya pengen di komentari 😅😅


__ADS_2