Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
panas


__ADS_3

Tangan dokter muda itu mengacak acak rambut Arie, merasa gemas dengan ekspresi wajah Arie yang melongo melihatnya.


"Tutup mulutmu, nanti masuk laler baru tau" Arie segera tersadar, mengatupkan mulutnya.


"Kenapa Dokter disini, bukannya di Singapure?" ucap Arie yang masih tak percaya dengan pengelihatannya sendiri.


"Aku baru pulang Minggu lalu, kenapa aku ga boleh pulang ke negara ku sendiri"


"hehehehe bolehlah, aku cuma kaget aja, ketemu Dokter disini"


"jangan panggil Dokter kalau di luar, panggil nama saja,"


"hmm baiklah"


"sekarang kamu mau kemana?"


"ke sana, tuch kang ojol udah nungguin" Arie mengangkat tangannya, menunjukkan seorang pria berjaket hijau yang nangkring di atas sepeda motornya.


"Bilang sama orang itu kamu ikut saya," ucap Tama dengan tegas.


"Tapi Mas..Tama, aku" ucapan Arie menggantung, ia baru ingat tak ada yang lagi di dompetnya hanya sisa koin, mana cukup buat bayar ojeknya.


Tama tersenyum, jantungnya cenat cenut saat mendengar Arie memanggil namanya, meskipun dia sudah lama tak berjumpa dengan gadis ini, Tama hafal dengan sifat Arie yang selalu membantu orang lain tanpa berfikir terlebih dahulu.


"Aku ngerti, ayo" ujar Tama sambil meraih pergelangan tangan Arie , mereka melangkah ke arah tukang ojek yang menunggu Arie sedari tadi.


Tama membayar ojek yang di tumpangi Arie di tambah bonus dua bungkus makanan yang di Arie, kini Arie duduk di dalam mobil Tama mereka meluncur ke tempat yang di tuju Arie sebelum, tak berapa lama mobil itu melaju, kini mereka telah sampai di tujuan.


"Mba Yuli" Arie berlari dari dari luar kafe dengan menenteng tas kresek di tangannya. Yuli hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu.


"Lapo bojomu ga di kantor maneh" ( kenapa suamimu tidak ada di kantor lagi),


"hehehehe"Arie menyengir kuda.

__ADS_1


"cengar-cengir, astaga Arie" Yuli berdecak melihat tentengan kresek di tangan Arie.


"opo enek iku"(apa lagi itu)


"onde onde" ucap Arie enteng. meletakkan kresek yang di bawanya di atas meja.


Yuli hanya menghela nafas berat, temannya yang satu ini memang selalu menjadikan makanan sebagai pelampiasan saat kesal, tapi bagaimana bisa dia membeli satu jenis makanan sebanyak ini.


"Mba Yul, aku pingin es krim" rengek Arie sambil memegang tangan sahabatnya.


"pengen ya tuku, Rie" ( pingin ya beli, Rie)


"Tapi duit ku entek" ( Tapi uang ku habis) ujar Arie tertunduk lesu, terjawab sudah kenapa Arie merenggek padanya, Yuli tak habis pikir dengan kelakuan temannya ini.


"kalau beli es krim sama aku mau?" sosok yang terabaikan oleh ke dua wanita itu akhirnya bersuara.


Yuli menatap sosok pria berlesung Pipit di belakang Arie, Yuli melihat Arie dan pria itu secara bergantian.


mulut Yuli membentuk huruf O


"Tama"


"Yuli" mereka menjabat tangannya sekejap.


"Yo opo es krim ku, aku pingin es krim" ( bagaimana es krim ku, aku pingin es krim) Arie kembali merengek.


"Wes Pak, pean gowo arek Iki sumpek aku"( sudah pak, Anda bawa anak ini saya pusing) ujar Yuli menggelengkan kepalanya.


Tama hanya terkekeh dengan kelakuan Arie pada sahabatnya, benar benar seperti anak kecil yang manja, Tama senang bisa melihat sisi lain dari diri Arie.


"Ayo, kita beli es krim" Ajak Tama lagi, Arie akhirnya mengangguk setuju.


Mereka pergi ke sebuah restoran yang cukup mewah, Arie sebenarnya menolak karena dia hanya ingin makan es krim dengan harga 5000 an di pinggir jalan, namun Tama yang terus memaksa membuat Arie tak enak hati untuk terus menolak.

__ADS_1


"Ga salah, makan es krim di sini" ujar Arie sambil mengikuti langkah Tama.


"Ga lah, di sini ada es krim yang paling enak" ucap Tama sambil tersenyum manis.


"aku ga kuat bayarnya Mas" melihat tempatnya saja membuat Arie bergidik membayangkan harga seporsi es krim di tempat ini.


"Kau bisa mencicilnya kepadaku seperti waktu dulu"


Langkah kedua orang itu terhenti saat serombongan orang berjalan melawan keluar dari restoran, seorang pria tampan bermata sipit dengan wanita yang berpakaian cukup seksi bergelayut manja di lengannya, ke dua manik mata bertemu mereka terdiam, masing masing melihat ke arah samping pasangan mereka, Arie menatap tajam pada pria di hadapannya.


"Ayo Mas Tama" Arie mendorong tubuh Tama agar terus berjalan, tanpa memperdulikan rombongan di hadapannya, mata Alex terus mengikuti Arie pergi.


"Alex ayo kita pergi" ujar wanita cantik di sampingnya.


"emh" mereka melanjutkan langkahnya menuju mobil.


sementara di dalam restoran, Tama melihat ada yang tidak beres dengan Arie.


"kamu ga papa , Rie"


"ga," jawab Arie singkat, sambil terus melihat daftar menu.


"Aku mau ini, dua es krim sundae porsi jumbo dua" ujar Arie sambil menunjuk salah satu foto di menu.


"kau yakin?" Tama mengerutkan keningnya.


"Yakin, kenapa menyesal mentraktir aku"


"Tidak bukan begitu" Tama pun memanggil pelayan untuk memesan menu yang di inginkan Arie,dan segelas capuccino untuk dirinya.


Arie merasa butuh lebih dari sekedar es krim untuk mendinginkan hatinya, kalau dia bisa ingin rasanya di pergi ke kutub Utara untuk semedi di sana.


Tak lama pesanan mereka pun datang, Arie melahap es krim di hadapannya dengan rakus, Tama hanya memandang ngilu dengan cara Arie makan membayangkan gigi yang tersengat dinginnya es krim.

__ADS_1


__ADS_2