Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Vitamin


__ADS_3

Usia kandungan Arie sudah menginjak tujuh bulan, perutnya sudah semakin membesar dengan pipinya yang bertambah bulat. Arie mematutkan diri di depan cermin besar di kamarnya sambil mengelus perutnya yang bertutup kimono handuk yang di pakainya.


Ibu hamil itu merasa tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang baru. Arie menghela hentakan nafasnya berkali kali.


Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum melihat tingkah istrinya. Dia pun melangkah mendekat,mengecup singkat pipi tembem Arie.


"Kenapa kau masih belum memakai baju, apa kita akan olahraga lagi," bisik Alex di telinga Arie. Dua tangan kekar itu kini melingkar di atas perut buncitnya.


"Aku semakin gemuk lihatlah," keluh Arie dengan memonyongkan bibirnya.


"Hmmm... iya kau, kau tambah gendut, bertambah gemuk, bertambah bulat. Lihatlah, bahkan tanganku tidak cukup untuk melingkar di perutmu," ujar Alex membenarkan ucapan Arie.


Arie mencubit tangan kekar suaminya dengan kesal, hingga membuat Alex meringis kesakitan.


"Beraninya bilang begitu, siapa yang membuatku seperti menjadi bulat seperti ini," ketus Arie.


Alex terkekeh, dia mencubit gemas pipi tembem istrinya.


"Aku hanya membenarkan ucapan mu saja, apa aku salah."


Arie melepaskan tangan Alex yang melingkar di atas perut buncitnya, dan melangkah dengan hentakan keras. Ibu hamil itu menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa. Alex yang melihat hal itu langsung menyusul Arie, lalu duduk berjongkok di hadapan Arie.


"Jangan duduk seperti itu, kau menyakiti dirimu sendiri," ujar Alex dengan wajahnya yang terlihat cemas. melihat Arie menjatuhkan tubuhnya dengan begitu keras di atas sofa. Meskipun sofa itu sangat empuk tapi tetap saja dia khawatir dengan dua kesayangannya itu.


Arie membuang mukanya ke samping. Menyandarkan tubuhnya di sofa, dengan bersendekap tangan. Alex tersenyum kecil, dan mengelus perut Arie yang terbalut kimono mandi yang pakainya.


"Hai Junior, katakan pada Mama. Tubuh Mama bertambah bulat dan lucu, membuat Papa semakin gemes dan sayang," ucap Alex sambil terus mengelus perut Arie.


Arie mengatupkan bibirnya menahan senyum. Namun, jelas semburat merah mulai terlihat di pipinya.


"Papa tahu itu adalah salah satu pengorbanan Mama, karena sejak ada kamu di dalam tubuh Mama, membuat Mama selalu mementingkan Junior. Mama semakin banyak makan," imbuh Alex lagi dengan terkekeh. Alex melirik ke arah Arie yang terlihat malu-malu. Namun secepat kilat berubah masam.


"Kau tau, sebenarnya Mama semakin terlihat seksi sekarang. Membuat Papa ingin terus masuk ke dalam punya Mama. Kau tau punya Mama makin empuk, Papa tambah gemes," bisik Alex lirih di pusar Arie.


Puk.


Arie memukul gemas bahu suaminya, Arie merasa geli, mendengar ucapan absrud Alex.


"Jangan mengatakan hal mesum pada anakku, dan satu hal lagi jangan panggil dia junior."


"Kenapa?, aku tidak mesum, aku hanya berkata jujur," kilah Alex.


Arie memutar matanya jengah.


"Mungkin saja dia perempuan, kan ga lucu kalau di panggil junior," protes Arie.


"Hey.. junior, kenapa kau selalu menyembunyikan burung mu?" tanya Alex dengan berkacak pinggang pada perut istrinya.


"Apa sih, burung apa? dia tidak punya burung," tukas Arie.


"Baiklah, baiklah dia tidak punya burung tapi punya belalai," kekeh Alex.

__ADS_1


"Bagaimana kalau dia perempuan?" tanya Arie.


"Perempuannya, pasti dia mengemaskan, lucu dan cerewet seperti Mamanya, dan aku akan membuatnya menjadi putri paling bahagia sejagat raya, iyakan sayang," ujar Alex lalu mengecup lembut perut Arie.


Arie merasa lega dengan jawaban Alex. Alex terlihat sangat antusias menantikan anak laki-laki, membuat Arie merasa khawatir kalau nanti anak yang di kandungnya ternyata perempuan. Mereka belum tahu jenis kelamin dari bayi yang di kandung Arie. karena dia selalu menyembunyikan anunya dengan rapat, saat merek melakukan USG.


"Gombal!"


"Eh, kok gombal sih, serius nih."


"Iya iya percaya, cepat pergi kerja sana!"


"Junior lihatlah, Papa di usir sama Mama," Alex merengek manja, melingkarkan tangannya di perut Arie dan menempelkan pipinya.


"Ga usah drama, ini masih pagi. Aku tidak mengusir mu. Lihatlah jam berapa sekarang, bagaimana bisa seorang pemimpin datang terlambat," Arie membujuk Alex dengan senyum manisnya yang di paksakan.


"Tapi nanti aku kangen gimana," keluh Alex dengan menengadahkan kepalanya. Membuat raut wajah seimut mungkin.


Arie memutar matanya malas.


Bisa bisanya dia bilang kangen, dia selalu melakukan video call setiap setengah jam sekali, kangen dari mana coba, keluh Arie dalam hati.


Semakin bertambah usia kehamilan Arie, semakin Alex lengket dan sangat manja padanya. Seperti membunjuk anak TK yang tidak mau berangkat sekolah. Ia pun harus membujuk bayi besarnya untuk berangkat kerja.


"Sayangku, cintaku, kau harus berangkat kerja. Bagaimana aku bisa membelikan junior ranjang bayi yang terbuat dari emas kalau kau tidak berkerja," ujar Arie sambil mengelus rambut Alex.


"Apa junior menginginkan itu," tanya Alex dengan mata berbinar.


"Iya, dia mengatakannya padaku." tutur Arie meyakinkan suaminya.


"Baiklah, aku akan berkerja keras untuk junior!" seru Alex dengan semangat 45.


"Bagus, Papa harus berkerja keras. Sekarang pakai bajumu, dan segera berangkat berkerja," perintah Arie.


Alex bangkit, dan mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah istrinya.


"Tapi sebelum berangkat, aku mau menjenguk junior dulu," ujar Alex dengan seringainya.


"Kan tadi sudah, apa kau tidak lelah. Nanti tenagamu habis bagaimana?"


"Kau meragukan ku, lima ronde lagi aku juga masih kuat." wajah Alex semakin mendekat, hingga membuat hidung mereka bertemu.


"Tidak, bukan seperti itu, tapi ini sudah siang, nanti kau terlambat kerja," ucap Arie gugup, merasakan hembusan nafas Alex yang menyapu wajahnya.


"Masih jam Setelah tujuh, masih ada satu jam lagi," ujar Alex dengan suaranya yang serak. Ia menyusuri pipi mulus istrinya.


"Tapi sayang, Shampo kita habis, aku tidak bisa keramas lagi," kilah Arie seadanya. Bukan Arie menolaknya tapi mereka baru saja melakukannya, pinggang Arie bahkan masih terasa sedikit nyeri.


"Jangan khawatir aku akan membelikan pabrik shampo untukmu, agar kau tidak lagi kehabisan."


"Dari mana kau belajar menggombal seperti itu."

__ADS_1


"Aku tidak menggombal, aku bicara apa adanya."


"Jangan bicara terus, beri aku vitamin untuk pagi ini."


Tapi-- empph


Belum sempat Arie bicara, Alex sudah membungkam dengan bibirnya. Tangan Alex mulai berkenalan di balik handuk kimono yang di pakai Arie. Ciuman yang lembut dan dalam, Arie pun membalas permainan bibir suaminya. Meskipun awalnya dia menolak, nyatanya Arie menikmati setiap sentuhan tangan suaminya.


Alex menekan tengkuk Arie, memperdalam pergulatan antara bibir keduanya. lidah yang saling bertaut dan menari di dalamnya, membuat suara decakan terdengar jelas mengema di kamar itu.


Drrrt.. drrrt..


Ponsel Alex bergetar. Akan tetapi, pria sipit itu mengacuhkannya. Ia masih menikmati permainan lidah dengan istrinya. ponsel itu terus bergetar tanpa jeda. Membuat Alex terpaksa melepaskan tautan bibirnya.


"Ck, menganggu," Alex berdecak kesal. Ia pun melangkah dan mengambil ponselnya di atas nakas.


"Cepat katakan, atau aku potong lidahmu," geram Alex.


"Tu- Tuan saya gaya mengingatkan, kita akan meeting jam tujuh dengan Mr. Cheng," jawab Chiko dengan tergagap di ujung telepon.


"iya iya aku tahu, cepat jemput aku di apartemen sekarang!"


Alex membanting ponselnya di atas kasur. Dia pun kembali mendekati Arie dengan wajahnya yang di tekuk masam. Seperti anak kecil yang tidak mendapat permen.


"Sayang aku harus berangkat kerja sekarang," keluh Alex dengan manja, pria itu bergelayut di lengan istrinya yang sedang berdiri di depan lemari yang terbuka, mengambilkan baju kerja untuknya.


Arie terkekeh mendengar penuturan manja dari suaminya.


"Jangan cemberut gitu dong, aku akan membantumu bersiap."


Alex hanya mengangguk pasrah. Arie pun mulai mendandani suaminya. dengan kemeja warna biru navy dan jas berwarna senada. terakhir Arie memakaikan dasi warna maroon di leher suaminya.


Arie menarik dasi itu, membuat Alex menunduk dan mendekat ke wajah istrinya.


"Aku punya sesuatu untuk mu nanti malam," lirih Arie, kemudian mengecup singkat bibir Alex.


Mata Alex berbinar mendengar ucapan Arie, wajahnya langsung sumringah dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Arie melepaskan dasinya. Alex kembali menegakkan kepalanya.


"Sudah siap, cepat berangkat sana!" seru Arie sambil mendorong tubuh suaminya yang malas bergerak.


"Sayang, cium lagi," rengek Alex saat mereka sampai di depan pintu utama. Arie pun mengelengkan kepalanya, lalu menjinjitkan kakinya untuk mengecup pipi Alex.


"Sudah, sana cepat berangkat."


"Tapi yang kanan-


Brak


"Belum," ujar Alex melanjutkan ucapannya yang terputus karena Arie menutup pintu.


Melihat Chiko yang berdiri di samping pintu apartemennya membuat Alex gusar.

__ADS_1


" Gara gara kamu aku tidak mendapatkan jatah vitaminku," bentak Alex kesal, lalu melangkah melewati Chiko begitu saja.


Sementara Chiko hanya melongo mendengar ucapan absrud Tuannya.


__ADS_2