Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Mulai menghukum


__ADS_3

Saat itu Chiko sedang mengemudi di tengah kemacetan jalanan Surabaya, mobil yang dia kendarai berhenti di perempatan saat lampu merah menyala. Chiko memicingkan matanya ke arah samping, memastikan pengelihatannya sendiri.


"Tuan bukankah itu Nyonya Arie," tanya Chiko, berharap kepastian dari Alex.


Alex yang sedang menunduk melihat ponselnya pun, segera mendongakkan kepalanya dan menatap ke arah Chiko menunjukkan ujung telunjuknya, ke arah kanan mobil.


Matanya membulat sempurna saat melihat seseorang wanita yang tengah tergelak tertawa bersama seorang wanita lain, mereka berdua berboncengan dengan menggunakan sepeda motor matic warna merah, meskipun memakai helm full face. Namun, Alex masih dapat mengenali wajah dan tubuh istrinya dengan baik, karena kaca helm yang transparan.


"Ikuti mereka," ucap Alex datar.


"Tapi Tuan--


"Ikuti mereka," Perintah Alex lagi dengan geram, aura dingin dapat di rasakan Chiko dari balik kursi kemudi.


"Baik Tuan."


Tak ada gunanya untuk membantah, pertemuan mereka dengan klien dari luar kota harus di tunda, dan ya Chiko yang harus mengurus semuanya. Pikiran asisten ganteng itu mulai pusing saat memikirkan klien mereka.


Setelah lampu lalu lintas berganti hijau, Chiko pun dengan gesit mengemudikan mobilnya mengekor di belakang sepeda motor yang di tumpangi Arie.


"Hmm sudah berani nakal rupanya," gumam Alex sambil menyeringai, menatap tajam pada Bumil cantik dari dalam mobilnya.


Sepeda motor yang di berhenti di depan, pusat grosir di Surabaya, Chiko pun menepikan mobilnya tak jauh dari mereka. Alex masih memperhatikan wajah Arie dari balik kaca mobil, ingin rasanya dia turun dan membawa istrinya pulang ke rumah. Namun, Alex berusaha menahan diri, dia tidak ingin membuat senyum itu hilang dari wajah yang sangat ia sayangi.


"Suruh para pengawal itu segera ke sini, awasi terus istriku dari jauh, jangan sampai dia tau, ada pengawal di sekitarnya, mengerti." Titah Alex pada asisten pribadinya.


"Baik Tuan," Chiko segera menghubungi pengawal yang di tugaskan untuk menjaga Nyonya besarnya itu.


Setelah selesai menghubungi mereka, Chiko pun memberikan laporan kepada Alex bahwasanya para pengawal itu di suruh oleh istrinya untuk menjaganya di sebuah kafe, dan sekarang mereka sedang menunggu di kafe milik teman Arie. Alex hanya bisa menghela nafas sambil memijit pelipisnya.


"Tuan apa kita akan masih menemui klien kita," tanya Chiko dengan hati hati, wajah Alex saat ini menunjukkan bahwa dia sedang tidak dalam keadaan baik.


"Turun."


"Eh, apa Tuan?" Bukannya mendapat jawaban Chiko malah disuruh untuk turun dari mobil.


"Kau tuli ya, aku bilang turun."


"Baik Tuan."

__ADS_1


Chiko pun segera membuka pintu dan turun dari mobil, disusul Alex yang juga turun, Alex melangkah dan membuka pintu mobil di bagian kemudi.


"Kau temui klien kita, aku akan pulang," ucap Alex yang sudah berada dalam mobil, dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Baik Tuan," jawab Chiko singkat.


Chiko hanya bisa menatap nanar pada mobil hitam yang melaju meninggalkannya, pria tampan memakai jas warna navy blue itu pun tertunduk lesu. Segera dia memesan taksi online untuk dia pergi ke tempat pertemuan yang sudah di tentukan oleh klien mereka.


******


"Kau harus di hukum sayang," bisik Alex tepat di telinga istrinya, Alex mengigit kecil ujung telinga Arie.


"Kenapa harus di hukum, apa salahku?" protes Arie polos, ibu hamil itu berusaha bersikap tenang walaupun nyatanya ia sudah merasa ketar ketir, takut Alex tau apa yang di lakukan olehnya.


Alex sedikit menarik dirinya hingga membuat wajah pasutri itu berhadapan, dengan kedua tangannya yang masih mengunci tubuh istrinya. Tuan sipit itu menyeringai, membuat Arie menelan ludahnya.


"Hmm istri kesayangan ku sudah mulai nakal rupanya, jangan pikir aku tidak tau apa yang kau lakukan hari ini, Sayang." Alex memainkan rambut Arie dengan ujung jarinya, tapi tetap dengan senyum miringnya yang menyeramkan.


"Iya jelas kau tau, kan tadi aku sudah bilang, aku pergi belanja." Kilah Arie. Namun, jantungnya sudah joging melihat mata Alex yang terus menatapnya tajam.


"Aku tau, dan aku juga tau, aku sengaja meninggalkan pengawal itu di kafe milik temanmu, iya kan," tukas Alex, mendengar itu membuat tubuh Arie menegang.


Alex menarik dirinya menjauh, melepaskan kedua tangannya dari dinding. Pria sipit itu mengendorkan dasinya, dan menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Aku penasaran apa yang di lakukan oleh orang orang itu pada temanmu saat ini," ujar Alex sambil mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, dan sesekali dia memijit bahunya.


Arie segera meletakkan kantong kresek yang di bawanya, wanita hamil itu melangkah mendekatinya suaminya dengan senyum yang di paksakan.


"Sayang apa maksud dari ucapan mu tadi, Mba Yuli ga di apa apain kan?" tanya Arie dengan nada selembut mungkin.


"Jangan di apa apain ya, dia kan sahabat aku," imbuh Arie, wanita itu menyatukan kedua tangannya, dengan memasang memelas.


"Tergantung." ujar Alex datar.


"Tergantung apa?"


"Tergantung kamu Sayang," jawab Alex enteng namun penuh makna bagi Arie. Makna yang mengisyaratkan bahwa dia harus merayu suaminya sendiri.


Senyum manis Arie mengembang, tapi masih di paksakan.

__ADS_1


"Senyum dengan benar, wajah terlihat aneh kalau tersenyum seperti itu," ketus Alex, mendengar ucapan suaminya Arie pun memanyunkan bibirnya.


"Jangan manyun, apa kau aku yang bersalah di sini."


Arie benar benar di buat gemas dengan kelakuan suaminya, Arie melangkah lebih mendekat pada Alex. Wanita hamil itu berusaha menundukkan tubuhnya untuk melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki suaminya, Arie terlihat kesulitan karena perutnya yang sudah mulai membesar. Alex merasa tidak tega melihat Arie yang kesulitan meraih sepatunya.


"Aku bisa melepaskannya sendiri," tukas Alex masih dengan nada yang ketus.


Arie menegakkan kembali tubuhnya, menatap Alex dengan wajah yang di buat seimut mungkin.


"Tapi aku ingin melayani suamiku," tutur Arie dengan nada yang di buat semanja semanis mungkin.


"Lakukan yang lain saja."


"Baiklah."


Arie mencondongkan tubuhnya, jemari lentiknya melepaskan dasi Alex dengan perlahan, kemudian membuka dia kancing atas kemeja putih yang di pakai suaminya, sejurus kemudian ia pun melepaskan jas yang di pakai Alex.


"Apa Sayang ku mau mandi sekarang?" rayu Arie sambil mengelus lembut rahang tegas suami sipitnya, Arie harus berusaha menenangkan singa jantan ini, agar tidak mengeluarkan taringnya.


Alex tersenyum puas dalam hati, Arie jarang sekali berinisiatif untuk merayu Alex. Maka dari itu, Tuan sipit akan mengunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Rasanya di ingin sekali menyesap bibir ramum dan menerkam istri nakalnya sekarang, tapi dia harus bertahan sedikit lagi untuk memberikan pelajaran kepada Arie.


"Ehem," Alex berdehem keras sambil mengusap lehernya.


"Apa Cintaku haus? aku buatin kopi ya." Alex hanya menjawab dengan anggukan kecil.


Arie melangkah pergi ke dapur, sekalian meletakkan jas dan dasi itu di keranjang baju kotor, tak lama dia kembali dengan membawa secangkir kopi panas.


"Kopi dengan extra cinta siap," ucap Arie dengan senyum manisnya yang di buat permanen khusus untuk hari ini.


"Duduk di sana," titah Alex masih dengan nada yang ketus, sambil menunjuk ujung sofa.


Setelah meletakkan kopi yang di bawanya, Arie pun duduk di tempat yang di maksud Alex. Alex pun mengangkat kedua kakinya dan meletakkannya di atas pangkuan Arie.


Mengerti apa yang di inginkan Alex, Arie pun mulai memijat kaki Alex dengan perlahan.


"Sayang capek banget ya?" tanya Arie sambil terus memijit betis Alex.


"Hemm." jawaban singkat yang biasanya membuat Arie kesal, tapi Arie harus tampil dengan senyum manisnya.

__ADS_1


Alex terpejam merasakan gerakan tangan Arie yang memijatnya dengan kedua tangannya. Mata Alex sedikit mengintip saat merasakan hanya satu tangan yang memijatnya. Teryata Arie mengunakan satu tangannya lagi untuk mengurut betisnya sendiri, hanya sesaat kemudian dia kembali memijat kaki Alex lagi.


__ADS_2