
Matahari mulai tenggelam teletubbies berpamitan. Hem...
Hahahaha.. garing maaf 😔
Hari bergulir dengan cepat. Semburat jingga sudah memenuhi langit. Alex mengajak istrinya untuk berbelanja keperluan baby junior yang akan segera launching.
Mobil sport hitam yang mereka kendarai terparkir sempurna di basement sebuah Mall di Surabaya. Alex turun terlebih dulu dari mobilnya. Kemudian ia berjalan mengitari dan membuka pintu mobil untuk sang permaisuri.
Dengan enggan Arie menerima uluran tangan sang suami. Wajah Arie di tekuk masam. Ia sungguh terpaksa berbelanja di tempat seperti ini. Ibu hamil itu turun dengan perlahan. Merek berdua berjalan beriringan dengan tangan Arie yang melingkar di lengan kekar suaminya.
"Sayang jangan di tekuk terus dong mukanya. Senyum yang lebar biar cantiknya gak hilang," rayu Alex pada istrinya yang sedang cemberut.
Bukannya menjawab Arie malah melengos kesal.
"Sayang."
"Aku sudah bilang, aku enggak mau belanja di tempat kayak gini. Ngabisin duit tau gak!" sentak Arie kesal.
Alex hanya tersenyum menanggapi omelan istrinya. Ia hanya ingin Arie merasa nyaman saat berbelanja. Tuan sipit itu tidak ingin istrinya berdesakan di pasar tradisional yang panas.
"Aku ingin kamu merasa nyaman," ucap Alex singkat
Alex melepaskan tangan Arie yang melingkar di lengannya, lalu membelitkan tangan di pinggang istrinya. Membuat tubuh mereka tak berjarak. Alex mencium pucuk rambut Arie berkali kali.
"Jangan seperti ini, malu,"lirih Arie.
"Aku suamimu kenapa harus malu!" ucap Alex dengan lantang. Membuat semua orang menoleh kepada mereka.
"Aduh!" pekik Alex saat Arie mencubit perutnya.
"Rasain, dasar narsis," ketus Arie dengan matanya yang melotot.
Alex tersenyum semakin lebar. Membuat Arie semakin mencebikkan bibirnya kesal.
Kedua pasutri itu mulai memasuki beberapa toko perlengkapan bayi. Meskipun awalnya Arie merasa sangat enggan, akan tetapi jiwa shopping seorang wanita memang tidak bisa dibohongi. Ia terlihat begitu antusias saat melihat printilan kecil yang imut dan lucu.
Beberapa kali ia mengambil baju kecil berwarna pink dengan mata yang berbinar. Namun, ia menaruhnya kembali. Ia juga mengambil setelan baju anak laki-laki akan tetapi Arie meletakkannya kembali setelah melihat harga yang tertera di label baju itu.
"Sayang kenapa kau meletakkannya lagi? kalau suka ambil saja," ucap Alex yang mulai tidak sabar dengan kelakuan hemat istrinya.
"Mahal, sayang uangnya. Lagian baju di pasar sama di sini sama saja. Aku beli di pasar saja kapan kapan," jawab Arie santai.
Alex memutar matanya jengah. Bagaimana istrinya bisa berfikir seperti itu. Alex bahkan bisa membeli Mall ini berserta isinya. Akan tetapi istrinya malah merasa berat hati untuk membeli satu stelan baju bayi di mall itu.
Alex menghampiri salah satu pegawai toko dan membisikkan sesuatu kepadanya. Pegawai itu mengangguk, menyanggupi permintaan tuan sipit itu.
Alex pun berjalan kembali menghampiri istrinya yang sedang memilih sepatu bayi.
"Hua.. lucunya!" pekik Arie saat melihat sepasang sepatu berwarna biru dengan akses bintang di bagian depannya.
"Lucu kan, kita beli ya." Alex mengambil sepasang sepatu yang dilihat istrinya. Arie mengangguk kecil.
Tapi senyum Arie berubah saat melihat label harga sepatu itu. Arie mengambil sepatu kecil itu dari tangan suaminya, lalu meletakkannya lagi di tempat semula.
"Lho kenapa? kamu sukakan?"
"Mahal," ketus Arie.
__ADS_1
"Astaga sayang. Suamimu ini tidak kekurangan uang untuk membelinya." Alex mencubit gemas pipi tembem Arie.
"Aku tuh kasian sama kamu. Kerja pergi pagi pulang malem, di rumah juga masih kerja, aku yang liat aja capek.
Gimana kamu yang kerja. Aku tuh enggak mau menghamburkan uang hasil kerja keras kamu untuk barang yang tidak begitu kita perlukan.
Kamu berkerja keras untuk aku dan junior, Sementara aku enggak bisa bantu kamu apa apa. Hiks...hiks.." Arie mengusap air matanya yang mulai jatuh.
"Astaga sayang." Alex meraih tubuh Arie dengan pelukannya. Alex kehabisan kata untuk menanggapi ucapan istrinya.
Antara haru dan lucu mendengar semua ucapan Arie. Kekayaan Alex tak akan berkurang seujung kuku pun bila Arie memakainya untuk belanja. Akan tetapi sekarang istrinya malah tidak tega untuk membeli sepasang sepatu bayi.
Setelah Arie menyelesaikan tangisnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan untuk belanja. Arie melihat box bayi, tempat mandi dan beberapa perlengkapan bayi lainnya. Ia hanya menyentuh dan memperhatikannya namun tak ada niat untuk membeli. Alex membiarkan istrinya melakukan hal yang ia suka.
"Sayang aku lapar," rengek Arie, saat wanita hamil itu sudah merasakan demo di dalam perutnya.
"Mau makan apa?"
"Apa aja asal disuapi sama kamu," ucap Arie dengan manja. Alex tersenyum kecil lalu mencubit gemas hidung minimalis istrinya.
"Jangan menggodaku seperti itu, aku bisa khilaf."
Arie memanyunkan bibirnya. "Mana ada aku menggoda, pikiranmu aja yang mesum!"
"Aku mesum hanya denganmu." Alex merangkul bahu istrinya. Mengajaknya jalan bersama menuju food court yang ada di mall itu.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya merek pun sampai di jajaran kedai yang menyajikan berbagai macam panganan.
"Mau makan apa?" Alex bertanya sambil memeluk tubuh Arie dari belakang.
"Emh....." Arie mengedarkan pandangannya kesemuanya kedai yang rata rata menjual makanan western itu. Arie menghela nafasnya.
"Lho katanya tadi laper."
"Ga ada yang enak. Aku mau es krim saja," tutur Arie dengan nada manja.
"Kau benar ga ada yang enak. Yang enak cuma kamu," Alex berbisik nakal sambil mengigit ujung telinga Arie.
"Alex!"
Pria sipit itu terkekeh melihat wajah kesal istrinya.
"Ok, kita beli es krim." Alex melepaskan pelukan. Ia mengandeng tangan Arie lalu mengajaknya melangkah ke sebuah kedai es krim di ujung lorong.
Setelah membeli es krim dengan porsi besar Arie dan suaminya pun duduk di salah satu bangku yang tersedia.
Dengan semangat Arie menjilati es krim cone rasa vanilla yang ada di tangannya. Sesekali Alex membersihkan pipi Arie yang belepotan dengan lidahnya.
"Issh... jangan gitu malu tau," lirih Arie. Alex tak perduli dia hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Aku ada perlu sebentar, tunggu aku di sini jangan kemana-mana, ok."
"Hemm."
Alex memberikan kecupan kecil di rambut Arie kemudian bangkit dari duduknya. Dengan setengah berlari Alex berlalu dari hadapan Arie.
"Mau kemana sih, buru buru banget," gumam Arie sambil menjilat es krimnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Alex tak kunjung kembali. Bahkan sampai es krim Arie habis tak bersisa. Bosan, akhirnya Arie memutuskan untuk mencari suaminya.
Ibu hamil itu pun melangkah menyusuri toko baju dan aksesoris mahal yang jelas dia tak akan mau menjamahnya. Semuanya berlabel brand kenamaan dari luar negeri.
"Maaf Nyonya, kartu anda seperti di blokir."
"Tidak mungkin! Coba cek sekali lagi. Pasti kau yang salah. Kerja tuh yang bener!" sentak wanita tua itu.
"Baik, akan saya mencobanya lagi," sang pelayan toko itu berusaha untuk tetap sabar melayani pelanggannya.
Langkah Arie terhenti saat ia mendengar suara seorang perempuan yang ia kenal. Arie menoleh ke salah satu outlet perhiasan yang ada di sana. Benar saja, seorang wanita tua berdiri dengan wajahnya yang merah padam. Walaupun ragu akan tetapi Arie tetap melangkah mendekat ke arah wanita itu.
"Maaf Nyonya, kartu ini benar benar tidak bisa di pakai, lebih baik anda konfirmasi dulu dengan pihak bank," ucap pelayan toko itu.
"Kalian menghinaku, apa kau pikir aku tidak sanggup untuk membeli barang di tokomu ini hah.
Kau tau siapa aku. Aku Puspa Sasongko, jangankan satu kalung kecil ini. Semua isi toko ini akan aku beli sekalian!" Puspa merasa geram, dadanya naik turun menahan emosi bercampur malu. Untuk pertama kalinya ia merasa malu seperti ini karena tidak bisa membayar sebuah kalung berlian yang akan ia hadiahkan pada cucunya.
Sungguh sial, niatnya membelikan hadiah kejutan kepada sang cucu karena telah melahirkan cicit laki laki. Malah berujung malu. Semua kartu kreditnya tidak bisa di gunakan. Sialnya lagi Puspa lupa membawa ponsel dan dompet yang berisi uang cash.
Si pelayan hanya tertunduk mendengar ucapan pelanggannya yang ngeyel itu.
Sang manager toko pun akhirnya keluar saat mendengar keributan yang terjadi di tokonya. Ia berusaha memberikan penjelasan kepada pelanggan yang sedang emosi itu.
"Maaf nyonya kami tidak bermaksud menghina anda. Tapi semua kartu yang anda berikan memang sudah di blokir." ucap sang manager menjelaskan.
"Jelas kau meng-
"Maaf, tolong bayar pake ini saja."
Arie menyodorkan black card yang di berikan oleh Alex beberapa hari yang lalu.
Puspa melorot ke arah Arie namun segera memalingkan wajahnya kembali. Marah, jengkel. Apakah Tuhan memang sengaja membuatnya malu bertubi tubi, hingga mengirimkan cucu haram ini untuk menolongnya.
Manager toko terkejut dengan black card yang di berikan kepada. Manajer itu melihat penampilan Arie dari atas sampai ujung kakinya. Sedikit tak percaya karena wanita di hadapannya itu tidak menunjukkan kalau dia mampu mempunyai black card seperti ini. seorang wanita hamil yang hanya mengunakan daster rumahan biasa dengan hanya mengenakan sandal jepit di kakinya.
"Tolong cepat, saya sedang buru buru," ucap Arie membuyarkan lamunan manager itu. Lelaki itu pun mengangguk dan segera memproses pembayaran.
Puspa mengeras rahangnya. Tangan keriputnya mengepal kuat. Jika bukan di tempat umum rasanya dia ingin sekali memaki wanita hamil di hadapannya ini.
"Jangan harap aku akan mengucapkan terima kasih padamu. Aku tidak akan sudi menerima bantuan dari orang asing, terlebih anak dari seorang ***** sepertimu!" tukas Puspa tanpa menoleh ke arah Arie yang berdiri di sampingnya.
Arie hanya tersenyum kecut mendengar cemoohan yang keluar dari mulut seseorang yang seharusnya ia hormati.
"Anggap saja ini hutang. Saya juga tidak mau anda mempunyai hutang budi kepada anak dari seorang ***** ini. Karena saya yakin anda tidak akan mampu membalasnya!" tegas Arie dengan bibirnya yang bergetar.
"Beraninya kau menjawabku dengan mulut kotormu itu. Jangan kira dengan ini aku akan menganggap mu cucu. Melihat mu saja sudah membuatku ingin muntah!" dengan matanya yang melotot Puspa melihat Arie dengan penuh.
"Saya hanya merasa kasian dengan kakak ini." Arie melirik pegawai toko yang melayani neneknya tadi.
"Jadi saya harap anda juga jangan terlalu besar kepala. Saya tidak sebaik itu hingga mau menolong orang seperti anda."
Arie meraih black card miliknya yang di sodorkan oleh manajer toko yang baru saja keluar.
"Permisi!" Arie melengos pergi dengan langkah lebar. Puspa semakin merapatkan kepalan tangannya. Egonya terkoyak oleh cucunya yang tidak di anggap.
Dengan sekuat mungkin Arie menahan matanya agar tidak berkedip. Karena sekali saja kelopak matanya menutup maka genangan air mata akan jatuh. Ia tidak mau menangis di hadapan nenek yang bahkan tidak sudi untuk menatap ke arahnya.
__ADS_1
Berlagak kuat. Nyatanya hatinya tetap sakit. Berkali kali ia mengusap pipinya yang basah namun air matanya tak kunjung berhenti.
"Hancurkan. Adinata sekarang!" ucap seorang pria dengan geram.