
Alex yang baru saja keluar dari sebuah toko tidak bisa menghentikan senyumnya sambil menatap kotak beludru merah berbentuk persegi panjang itu. Bulan sabit yang terbit di bibirnya benar benar tidak ingin turun. Sepanjang jalan ia terus tersenyum memamerkan jajaran gigi putih miliknya.
Namun, langkah Alex terhenti saat ia melihat istrinya dari kejauhan. Wanitanya itu baru saja keluar dari sebuah toko, wanita hamil itu terlihat mengusap pipinya yang basah. Seketika wajah Alex berubah. Ia pun mempercepat langkahnya menuju toko yang di masuki oleh istrinya tadi.
Sampai di depan toko itu, ia mengepalkan tangannya kuat, saat melihat sosok yang ada di dalam toko itu. Alex segera mengambil ponsel di sakunya.
"Hancurkan Adinata sekarang!" titah Alex pada seorang pria di ujung telepon.
Alex pun bergegas menyusul langkah istrinya. Hatinya begitu sakit tiap kali melihat Arie menjatuhkan air matanya.
"Sial, bodoh. Kenapa aku meninggalkannya sendiri," berulang kali Alex mengumpat dirinya sendiri dalam hati.
Cukup lama Alex mencari keberadaan istrinya. Seperti orang kesetanan tuan sipit itu berlari tak tentu arah. Ia pun memutuskan untuk kembali ke tempat dia meninggal Arie.
Alex mempercepat langkahnya saat melihat Arie tengah duduk di bangku, sambil mengayunkan kedua kakinya.
"Hah..hah.." nafas Alex tersengal. Arie yang melihat pria yang berdiri di hadapannya. Ia terlihat kelelahan seperti habis lari maraton jarak jauh.
"Dari mana saja? kenapa lama sekali?" Arie bertanya dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.
Melihat senyuman itu membuat hati Alex semakin tercabik. Senyum manis yang istrinya tunjukkan sangat kontras dengan matanya yang sembab. Jelas sekali bahwa ia baru saja menangis.
Alex meraih bahu istrinya, menengelamkan wanita yang paling ia cintai itu dalam pelukan hangatnya.
Jangan tersenyum saat hatimu menangis sayang. kenapa kau selalu memendam rasa sakit mu.
Aku akan membalas setiap tetes air mata yang kau jatuhkan. Aku akan membuat mereka menyesal.
Alex berusaha menahan amarahnya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk memberikan kejutan kepada keluarga Sasongko.
"Maaf aku tadi lupa jalan kembali ke sini," kilah Alex seadanya.
"Siapa?"
"Aku."
"Yang nanya?"
"Hehehe... " Arie terkekeh dalam pelukan suaminya. Berusaha untuk tersenyum dalam rasa sakit di hatinya.
"Nakal ya." Alex semakin mempererat pelukannya. Membuat sang istri merasa sesak nafas.
"Ga bisa nafas nich," keluh Arie. Ia merasa begitu sesak karena Alex begitu erat memeluknya.
Alex pun melonggarkan pelukannya, lalu ia mencubit gemas hidung minimalis istrinya.
"Tutup matamu," titah Alex.
"Kenapa?" tanya Arie bingung.
__ADS_1
"Cerewet. Cepat tutup matamu!"
Dengan mencebikkan bibirnya. Arie menuruti perintah suaminya. Terdengar suara langkah Alex menjauh kemudian mendekat kembali.
Arie tersentak saat sebuah benda terasa dingin menyentuh kulit lehernya.
"Cantik," gumam Alex.
Perlahan Arie membuka matanya. Tangan lentiknya meraba benda yang tergantung di lehernya. Air matanya meleleh dengan anggun di pipinya.
"Maaf ini pertama kalinya aku memberikanmu sesuatu," ucap Alex sendu.
Alex yang baru sadar bahwa ia tidak pernah memberikan sesuatu untuk istri tercintanya. Malah lebih sering kakek Wu yang membelikan hadiah untuk Arie.
"Hiks..hiks..hua..." Arie menangis dengan kencang.
Alex pun di bingung dengan tingkah istrinya. Semua orang memperhatikan mereka. Melihat Alex seakan dia menganiaya istrinya.
Alex pun bersimpuh di depan istrinya yang tertunduk sambil menangis.
"Sayang ada apa? apa aku tidak suka dengan hadiahnya?" kita tukar saja ya," cerca Alex dengan raut wajah yang panik.
Ia sangat terkejut dengan reaksi istrinya, yang malah menangis dengan histeris.
Bukannya menjawab Arie malah menangis semakin kencang.
"Terima hiks.. kasih.. hiks.."
Alex tersenyum simpul. Ia bertumpu pada lutut untuk berdiri, lalu menarik tangan Arie menuntunnya melingkar di pinggang. Dengan satu tangan Alex menyandarkan kepala istrinya di perut sixpack-nya.
"kau suka?"
Arie mengangguk dalam isaknya. Ia mengusap wajahnya di perut Alex. hingga membuat ingus dan air mata Arie menempel di kaos yang Alex pakai.
"Kalau suka kenapa menangis?" tanya Alex sambil mengusap lembut punggung istrinya.
"Aku terharu, hiks... dan aku... ga bisa berhenti.. nangis, hua!" Arie menangis kencang lagi.
Alex melonggarkan pelukannya, ia meraih dagu istrinya menundukkan kepalanya hingga wajah keduanya bertemu. Dengan lembut Alex mel*mat bibir kecil istrinya yang masih terisak. Meskipun terkejut namun akhirnya ia pun membalas ciuman suaminya. Arie memejamkan matanya menikmati setiap lum*tan lembut suami sipitnya.
Suara isakan Arie pun perlahan mereda seiring dalamnya tautan bibir mereka. Lembut namun dalam.
Cukup lama bibir mereka bertaut. Tidak perduli dengan mata yang memandang mereka. Sepasang kekasih itu terlalu larut dalam cinta mereka. Alex menarik lembut bibir melepaskan pagutannya.
Alex menyatukan kening mereka. dan mendarat ciuman besar di bibir istrinya. Semburat kebahagiaan terpancar dari wajah keduanya. Alex menarik wajahnya, lalu kembali merengkuh Arie dalam pelukannya.
Arie memegang liontin berbentuk bulat yang tergantung di lehernya.
"Kenapa bentuknya seperti ini?"
__ADS_1
Tanya Arie yang merasa heran dengan bentuk bola dunia yang di pilih suaminya. Bukan bentuk hati ataupun insial nama seperti pasangan pada umumnya.
"In wei, ni se wo the she jie,"
[ "karena, kamu adalah duniaku," ]
ucap Alex penuh keseriusan.
Bagi Alex, Arie adalah kehidupannya, dunianya. Semua kehidupan hanya terpusat pada wanita yang ada di hadapannya. Ia tidak akan bisa hidup saat Arie jauh darinya. Ia tidak akan bisa bernafas saat tidak menghirup udara yang sama dengan istrinya.
Air mata Arie lolos lagi.Namun, kali ini senyap tanpa suara. Siapa yang tidak akan tersentuh dengan ucapan semanis itu.
"Dari mana kau belajar berkata manis seperti itu. Kau dulu sangat menjengkelkan, apa kau tahu. Tapi kenapa kau berubah sangat manis sekarang? apa kau benar-benar suamiku?" Arie mendongakkan wajahnya menopang dagunya di perut roti sobek yang berlapis kaos polos berwarna hitam itu.
Alex menatap manik mata hitam di mata Arie yang sudah sembab. Ia tersenyum mendengar kata kata yang keluar dari mulut mungil wanitanya.
"Apa kau tidak suka dengan aku yang sekarang?"
"Bodoh!"
Bugh.
Arie memukul dada bidang suaminya.
"Tentu saja aku suka sangat suka malah."
"Xie xie ni ai wo."
[ "Terima kasih sudah mencintaiku." ]
Arie menarik tangan Alex untuk mengikis jarak di antara mereka. Lalu memberikan kecupan besar di bibir suaminya.
Tangan Alex terulur untuk mengusap air mata yang menganak di pipi mulus istrinya dan menghujani wajah Arie dengan seribu kecupan.
Alex membantu Arie untuk berdiri. Dan mereka pun berjalan menuju ke basement. Sudah cukup rasanya belanja dan segala kejutan yang terjadi hari ini.
"Sayang kenapa mereka melihatku seperti itu?" ucap Arie yang baru menyadari bahwa para pengunjung mall memperhatikan mereka.
"Apa karena bajuku ya?" tanya Arie lagi.
Arie baru menyadari bahwa ia hanya memakai daster rumahan biasa, sendal jepit dan rambutnya yang di ikat asal. semua itu karena kepanikan Alex yang mengajak untuk pergi ke rumah sakit.
"Atau karena suamiku terlalu ganteng, dan aku...," Arie tidak melanjutkan ucapannya. ia hanya tertunduk sendu.
"Mereka memperhatikan istriku yang terlalu cantik hari ini. Sial seharusnya aku tidak membawamu keluar rumah," umpat Alex kesal.
Terdengar seperti menghibur istrinya akan tetapi memang begitulah kenyataanya. Alex sangat tidak suka saat semua mata memperhatikan wajah cantik istrinya.
Arie tersenyum simpul, pipinya merona saat mendengar ucapan suaminya. Ia mempererat tangannya yang bergelayut di lengan kekar Alex.
__ADS_1