Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Berkunjung ke rumah.


__ADS_3

Matahari sudah meninggi, dua insan yang masih setia meringkuk dalam selimut, hanya dua kepala yang menyembul keluar, Arie mulai menggeliat, tubuhnya terasa lengket setelah pertempuran semalam. Arie bangkit bersandar di sandaran ranjang besarnya, sambil menarik selimut untuk menutupi aset kembarnya.


Buukkk...


"Alex, keterlaluan" ujar Arie, sambil memukul punggung Pria yang tidur tengkurap di sampingnya, merasakan tubuhnya yang remuk redam, Arie mengerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Emmhh...," Alex mengeliat tubuhnya, menyusupkan kepalanya ke dalam selimut, dan merebahkannya di paha mulus Arie.


"Sudah ku bilang jangan lagi, kau malah terus, terus, terus, iisshh" Arie melotot kesal. kepalan tangannya berkali kali mendarat di punggung Alex.


Buk..buk..


"Alex nakal, nakal," Arie melampiaskan kekesalannya, bisa bisanya Alex tidak memberikan jeda istirahat untuk Arie, bumil itu di gempur sampai menjelang pagi.


Alex yang menerima pukulan di punggungnya, malah tersenyum dengan mata sipitnya yang masih tertutup, melingkarkan tangannya di perut Arie yang masih rata.


"Pukul saja terus, nanti aku serang lagi baru tau" ucap Alex yang masih terpejam, tangan Arie mengambang begitu saja di udara, dengan kesal Arie melipat kedua tangannya di dadanya, dengan muka yang mencebik masam.


"Kan aku udah puasa sampe, Toto 3 bulan, ya kan Toto" Alex mencium perut polos Arie.


"Puasa apa, puasa tidak minta sampai pagi iya" ujar Arie kesal.


"Dan dia bukan Toto, jangan panggil anakku dengan nama closed lagi" ketus Arie.


Alex menarik paksa selimut yang menutupi kepalanya, otomatis selimut itu melorot dan menyembulkan dua aset Arie yang semakin berisi.


"Terus siapa namanya," ucap Alex sambil mengadahkan wajahnya ke atas.


"Ya terserah, Paijo, Paiman paimen, markonah, atau siapakah yang penting bukan nama closed," ucap Arie panjang lebar. Alex hanya terkekeh melihat wajah Arie yang cemberut masam, entah nama siapa yang dia sebutkan.


"Sepertinya mood Mommy sedang buruk pagi ini," ucap Alex seakan bicara dengan bayinya.


Arie menghela nafas panjang, lalu memandang wajah Alex yang ada pangkuannya.


"Aku hanya lelah, sudah aku bilang tadi malam, Ayah menyuruh ku berkunjung, tapi kau malah terus menyerang ku, dan sekarang aku merasa lelah, aku malas pergi kemana mana," ujar Arie panjang lebar, sementara Alex malah Asik bermain dengan melon kembar, yang bergelantungan di hadapannya.


"Alex, fokuslah, aku sedang bicara denganmu," Arie memukul tangan Alex yang sudah usil, Alex menyengir kuda, begadang semalaman seakan tak cukup untuk memuaskannya.

__ADS_1


"Iya aku dengar, kau lelah kau malas keluar, ya sudah kita di rumah saja, habiskan weekend ini, di sini," Alex mengusapkan wajahnya ke perut Arie.


"Di sini, seharian, bisa bisa aku ngesot besok, sudah minggir aku mau mandi" Arie bangkit dari duduknya, turun dari ranjangnya perlahan dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Alex dengan muka cemberutnya, gagal nambah lagi.


Setelah kedua sejoli itu bersiap mereka pun berangkat ke Rumah besar keluarga Sasongko, dengan di supir oleh Ipul, jangan heran meskipun hari minggu Ipul wajib masuk, Alex yang biasa berkendara sendiri kini jadi pemalas yang terus bergelayut di bahu istrinya, yang hamil siapa yang manja siapa.


"Alex bisa geser ga, gerah nih" Arie mendorong kepala Alex yang menempel di bahunya sejak mereka keluar dari apartemen. Namun sia sia Alex terus menempel seperti permen karet, Arie hanya bisa menghela nafasnya.


setelah cukup lama berkendara Akhirnya mereka sampai di kediaman Sasongko, rumah yang berdiri megah di kelilingi oleh pagar tembok tinggi dan empal penjaga di pagar besi besar, Arie merasa sangat kagum dengan bangunan megah yang ada di hadapannya, meskipun dia tahu Ayahnya seorang pengusaha, tapi dia tidak menyangka kalau rumahnya sebesar ini


Setelah pagar besar itu di buka, mobil yang Arie tumpangi melaju perlahan dan berhenti di depan pintu utama, Alex turun terlebih dahulu, lalu ia segera melangkah memutari mobil dan membuka pintu untuk Arie, Arie turun dengan sambutan tangan dari Alex, dengan matanya yang menjelajahi bangunan yang berdiri tegak di hadapannya. Pintu besar itu perlahan terbuka, seorang pria mendorong kursi roda yang membawa Nana yang terlihat pucat dengan perutnya yang membesar.


"Kak Nana," Arie berhamburan memeluk nan uang tengah duduk di kursi roda, Nana mengelus punggung Arie pelan.


"Kak Nana apa kabar, debay sehatkan" ujar Arie seraya melepaskan pelukannya.


"Baik, bagaimana dengan Arie kecil," Tangan Nana terulur mengelus perut Arie.


"Baik Budhe" jawab Arie menirukan suara anak kecil.


"Masa budhe sih"


"Udah nih aku di cuekin," Ucap Arow kesal.


"Ga donk, masa Pakde ganteng di lupain" ucap Arie, Arow memeluk erat adik perempuannya itu, Alex yang melihat kemesraan di hadapannya hanya bisa mengepalkan tangannya.


"Ayo masuk," Arow kembali mendorong kursi roda istrinya, di ikuti oleh Arie.


"Adik ipar masuklah, apa kau akan terus berdiri disana seharian," ujar Arow mengejek. Dengan kesal Alex mengikuti langkah mereka masuk.


Mereka Duduk bersama di ruang tamu, melihat wajah suaminya yang masam, Arie segera duduk di sisi Alex dan membelai lengan kekar itu dengan lembut.


"Jangan cemberut, nanti gantengnya ilang," bisik Arie sambil mengecup singkat pipi Alex, senyum merekah di bibir Alex.


"Ehem.. bisa ga, ga usah pamer, aku juga bisa kayak gitu, iyakan sayang," ucap Arow tak mau kalah, dia pun mengecup singkat bibir istrinya.


"Apaan sih," pipi Nana bersemu merah, bisa bisanya Arow bertingkah kekanak kekanakan seperti itu.

__ADS_1


"Ya habisnya, Arie pamer banget,"


"Siapa yang pamer, Kak Arie aja yang iri, weekk," Arie menjulurkan lidahnya, dengan Alex yang kembali bergelayut manja pada Arie.


"Ada apa ini," Suara bariton membuat mereka menoleh ke arah tangga, tampak seorang pria paruh baya memakai kaos polo dan celana pendek, turun perlahan.


Arie bangkit dari duduknya dengan mata berbinar, Arie hendak berlari ke arah Ayahnya, namun tangannya di tahan oleh Alex.


"Jalan pelan pelan saja, ingat Toto," lirih Alex sambil menunjuk perut istrinya, Arie menyengir kuda, mereka berdua pun berjalan mendekati Adinata. Arie meraih tangan ayahnya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim, Adinata segera merengkuh Arie dalam pelukannya.


"Kenapa kalian datang terlambat, ini hampir tengah hari, dan kau baru datang" ucap Adinata sambil melepaskan pelukannya.


"Kami, istirahat sebentar setelah berolahraga, Ayah," Seloroh Alex.


"Aku tidak bertanya padamu," ketus Adinata. Arie menutup mulutnya yang terkekeh, melihat Alex hanya bisa menunduk saat Ayahnya bicara.


"Ayah, ini belum tengah hari baru juga jam 10 kan, lagu pula Alex benar, tapi pagi aku sedikit merasa lelah jadi kami berangkat agak sing dari jadwal semula," jelas Arie, sambil mengelayut di lengan Ayahnya.


"Hmm.. baiklah," Adinata menepuk lembut tangan Arie, sementara Alex masih menunduk di depan mertuanya.


"Bagaimana kalau aku memasak untuk makan siang, Ayah mau?"


"Tentu, Ayah senang sekali bisa makan masakan mu, tapi apa kau tidak capek?," tanya Adinata dengan lembut.


"Tidak, di rumah aku sudah biasa masak dan melakukan perkejaan rumah sendiri, ini bukan apa apa bagi Arie," mendengar ucapan putrinya Adinata menatap tajam pada Alex.


"Baiklah, siapkan makan siang spesial untuk Ayah, dan kau ikut aku ke belakang" ujar Adinata sambil menatap tajam pada Alex.


Arie bergegas pergi ke dapur, di bantu oleh para pelayan Arie menyiapkan makan siang untuk mereka semua, sedangkan Alex mengekor pada Ayah mertuanya, mereka berjalan menuju ke halaman belakang rumah, terdapat kolam renang dan taman yang cukup luas.


"Kau potong rumput di taman itu, tidak boleh pake mesin pemotong, pake ini," Adinata menyerahkan gunting rumput besar pada Alex.


"Baik Ayah," ucap Alex sambil menerima gunting dari mertuanya.


"Jangan panggil aku Ayah, aku belum menerimamu, cepat kerjakan" dengan lesu Alex pun berjalan gontai ke arah taman.


Taman seluas ini kapan selesainya, gumam Alex dalam hati, sambil berjongkok Alex mengunting rumput deng gunting besarnya.

__ADS_1


"Berani kau membuat Arie menjadi pelayan di rumahmu, rasakan pembalasanku" Adinata menatap puas pada menantunya yang menggelap keringat si keningnya.


"Kerjakan dengan cepat, kau masih harus membersihkan kolam renang, " Teriak Adinata.


__ADS_2