Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Sidang pertama


__ADS_3

Ketiga pria itu kini duduk terdiam di ruang tamu, tak satupun dari mereka mengeluarkan suara, Alex mendapatkan tatapan tajam dari Ayah mertua yang belum di ketahui olehnya. Arie tengah mengobati wajah Arow yang babak belur akibat suaminya, tentu setelah mengobati ayahnya terlebih dahulu.


Arow mendesis saat Arie mengoleskan obat di ujung bibirnya yang robek, Adinata menoleh pada anaknya yang meringis kesakitan, namun tak lama ia kembali menatap tajam pada Alex, Alex pun menatap tak kalah tajam pada pria di hadapannya.


"Arie, katakan sesuatu sebelum Ayah menelan Suamimu hidup hidup" bisik Arow lirih di telinga adiknya, Arie mengangguk pelan, Aura dingin memang sudah di keluarkan Ayahnya sejak tadi.


"ehem.."Arie bangkit dari tempat dia duduk, dan beralih duduk di samping Ayahnya


"Alex, perkenalkan ini Ayahku, Ayah kandungku" ucap Arie sambil memeluk pundak Ayahnya. berharap kemarahan pria ini sedikit mereda.


Jeduer....


Bagai petir menyambar, angin topan bergemuruh, bumi gonjang ganjing. Mata Alex membulat sempurna mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut kecil istrinya.


"Ayah??, Arie sayang, bukankah kau yatim piatu" ucap Alex bingung.


Haduh, nek ngene ae, Kaet nyeluk sayang [ kalau gini aja, baru panggil sayang] , lirih Arie dalam hati. Arie memutar bola matanya malas, perlahan ia menghirup udara dan menghembuskan perlahan, Arie pun mulai menceritakan semuanya kepada Alex.


Ruang tamu kini menjadi ruang sidang dadakan, dengan terdakwa Alex Wang yang sedang di hakimi oleh Ayah mertuanya sendiri, Alex hanya duduk tertunduk di hadapan mertua dan kakak iparnya, seharusnya dia tidak bertindak gegabah, seharusnya dia bertanya dulu dengan otaknya sebelum ototnya bertindak, namun nasi sudah menjadi bubur, Alex gelap mata melihat kemesraan istrinya dengan seorang laki-laki di apartemennya sendiri.


"Apa ada yang ingin kau katakan padaku" ujar Adinata dengan dingin.


"Maafkan aku, Ayah" ucap Alex lirih sambil tertunduk, kemarahan dan kekesalannya sudah menguap entah kemana, berganti malu hingga ia hanya bisa tertunduk lesu.


"Siapa yang izinkan mu memanggil ku, Ayah, heh!!" ucapnya geram, pertemuan pertama dengan menantu yang menghadiahkannya bogem mentah sungguh di luar dugaannya.


"Ayah" ucap Arie manja sambil mengelus lengan Ayahnya.


"Huh... sudahlah aku memaafkan mu kali, ini tapi aku akan membawa anakku pulang ke keluarga Sasongko" Adinata bangkit dari duduknya sambil menggenggam tangan Arie.


Alex terkejut dengan apa yang di katakan Ayah mertuanya, namun lidahnya kelu untuk berkata, suaranya seakan tertahan di kerongkongan, Arow terkekeh dalam hati melihat wajah adik iparnya yang begitu panik.

__ADS_1


"Ayah, tapi aku...."Arie memandang Ayahnya heran dengan keputusan ayahnya yang begitu tiba-tiba.


"Arie ayah sudah memutuskan, kau harus ikut pulang dengan Ayah, apa kau tidak lihat apa yang di lakukan suamimu, Ayah takut dia akan mencelakai mu"


"Ayah, Alex tidak sengaja melakukannya, dia hanya..."


"Hanya apa"


"Hanya tidak bisa berfikir dengan jernih, hehehe" Arie menyengir kuda.


"Lagi pula, Alex tidak pernah berbuat kasar padaku, dia sangat menyayangi ku, benarkan Cinta" imbuh Arie. Alex mengangguk cepat, mengiyakan apa yang Arie ucapkan.


"Baiklah, Ayah tidak akan memaksamu, tapi kalau pria ini berani menyakitimu, Ayah pastikan dia tidak akan bisa lagi melihat matahari terbit" Ucap Adinata sambil melotot pada menantunya. Alex hanya bisa menelan ludahnya mendengar ancaman sang mertua.


"Ayah pulang dulu sayang" ucap Adinata sambil membelai rambut Arie.


"Iya Ayah, lain kali Ayah kesini lagi kan" ucap Arie sendu.


"Baik, Ayah"


"Jangan panggil aku Ayah, sebelum aku menerima mu menjadi menantuku, Panggil Tuan Adinata."


"Baik, Tuan Adinata" Ulang Alex dengan wajah yang tegang.


"Ayo, Arow istrimu sudah menunggu" Adinata mengantuk erat Putri kesayangan berjalan menuju pintu keluar.


Arow yang sedari tadi menahan diri untuk tidak tertawa akhirnya kelepasan juga, dia tergelak sambil memegangi perutnya, melihat Alex yang tegang di hadapannya Ayahnya sungguh merupakan hiburan tersendiri baginya, seorang CEO yang dingin dan tegas di kantor, bisa dengan mudahnya kehilangan harga dirinya di depan mertua.


"Hahahaha....maaf Bro, aku sudah tak tahan" Arie memegangi pundak Alex sambil terus tertawa, sementara Alex hanya bisa menghela nafasnya.


"Berjuanglah untuk mendapatkan restu Ayah, mungkin tidak akan mudah, tapi juga tidak akan sulit"

__ADS_1


"Kau yakin, aku bahkan sudah memukulmu juga, Ayah pasti sangat marah padaku" ucap Alex lesu.


"Kalau kau benar benar mencintai Adikku, aku yakin ayah akan mengerti, Aku pulang dulu, jaga dirimu" Arow menepuk pundak Alex lalu melangkah meninggalkannya.


Alex terdiam mencoba mencerna apa yang di ucapkan Arow, cinta hal yang belakangan ini sering di tanyakan oleh Arie padanya, Alex sendiri belum yakin dengan cinta di hatinya, tapi saat Ayah Arie mengatakan akan membawakannya pergi, Alex merasa tidak rela, dan bagaimana dengan rasa marah yang ia rasakan hingga membuatnya lupa diri, sampai memukuli mertua dan Kaka iparnya. Apa itu semua bisa di sebut Cinta.


Setelah mengantar Ayah dan kakak nya keluar dari Apartemen Arie kembali masuk, dan mendapati Alex yang masih berdiri dengan tatapannya yang kosong.


"Alex kau tidak apa-apa* ucap Arie sambil melambaikan tangannya di wajah Alex.


"Arie, kalau Ayahmu mengajak mu pulang ke rumahnya, apa kau akan ikut" ucap Alex masih dengan tatapannya yang sama.


Arie mengeryitkan dahinya " Dia ayahku jadi kenapa aku tidak ikut, lagi pula jika aku tidak ada kau bisa lebih leluasa bermain dengan wanitamu itu kan" ucap Arie setengah menyindir.


Wanita, siapa maksudmu" Alex pun merasa heran kenapa Arie tiba tiba mengalihkan topik pembicaraannya.


"wanita siapa lagi, aku sendiri tidak tahu, berapa wanita yang kau kencan di luar sana" ucap Arie yang mulai tersulut emosi.


"Arie, aku tidak pernah bermain atau apapun maksudmu itu"


"Lalu apa namanya jika bukan bermain, membiarkan wanita lain bergelayut manja di tubuhmu sungguh menjijikan" bentak Arie,


"Arie tunggu aku bisa menjelaskannya," Alex menyusul langkah Arie yang setengah berlari menuju kamar.


Braaaakkkk..


Arie menutup pintu kamar dengan keras, Alex berusaha membukanya namun pintu telah di kunci dari dalam.


Tok..tok...


"Arie buka pintu, kau salah paham aku hanya, Arie tolong buka pintunya" ucap Alex sambil terus mengedor pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2