
Seorang wanita sedang mengompres seorang anak laki-laki berusia dua tahun, dengan telaten Siska menganti handuk kecil basah yang kemudian di letakkan di kening putranya.
"Nao, cepat sembuh ya Nak, nanti Mama ajak jalan-jalan," ucap Siska sambil mengelus lembut rambut putranya yang terpejam.
"Gimana Mba? apa panasnya sudah turun?" tanya seorang wanita paruh baya, yang tak lain adalah pengasuh Naoki. Siska hanya menggelengkan kepalanya.
Ada rasa bersalah yang tergambar jelas di wajah janda satu anak itu, Siska harus berkerja siang malam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan anak semata wayangnya itu. Hampir tak ada waktu untuk Siska bersama dengan Naoki.
"Maafkan Mama sayang," lirih Siska, air matanya lolos begitu saja.
Nasib Siska tak seindah paras yang ia miliki, menjadi janda di umurnya yang masih muda. menjalani masa kehamilannya seorang diri. Tuhan benar-benar menggembleng Siska menjadi wanita yang tangguh.
"Mba Siska jangan sedih, Mba sudah berusaha sekuat tenaga Mba untuk membahagiakan Naoki," ucap Sari sambil mengelus punggung Siska.
"Terima kasih Bu Sari." lirih Siska.
"Mba sebaiknya kita bawa Naoki ke rumah sakit saja," ujar Sari, melihat tubuh Naoki yang gemetar, membuatnya panik.
Tanpa bicara, Siska segera mengambil tas, lalu membawa Naoki dalam pelukannya. Sari segera memanggil tetangga mereka yang berprofesi sebagai tukang ojek.
"Kita ke rumah sakit, Pak!"
"Iya Mba," ucap tukang ojek itu, sambil menyalakan mesin motornya.
"Bu Sari, titip rumah," pamit Siska.
"Iya Mba Siska ga usah khawatir."
Sepeda motor matic yang mereka tumpangi melaju kencang. Siska terus mendekap Naoki, tubuh anak kecil itu bergetar dengan matanya yang terpejam.
Ya Allah selamatkan anakku, berikan dia kesembuhan, doa Siska dalam hati.
Air mata Siska terus berderai, doa tak henti di ucapkan dalam hatinya. Siska sadar dia bukan orang baik, perkejaannya pun bisa di bilang bukan perkerjaan yang baik. Tapi kemana lagi Siska meminta pertolongan selain pada Sang Pencipta.
Akhirnya motor matic itu sampai di depan rumah sakit. Setelah memberikan upah pada ojeknya Siska segera berlari sambil mengendong Naoki ke ruang UGD.
"Dokter tolong anak saya, Dok" pinta Siska pada seorang Dokter Nyang pertama kali di lihatnya.
"Silahkan baringkan di sini, " titah Dokter itu.
__ADS_1
Siska membaringkan tubuh kecil Naoki di atas brankar.
"Sebagai Ibu duduk dulu, biar saya memeriksa keadaan pasien," ujar Dokter itu menjelaskan.
Dengan berat hati Siska mundur beberapa langkah, memberikan ruang untuk dokter itu berkerja. Dua orang perawat ikut memeriksa keadaan Naoki, tirai di sekitar brankar di tutup membuat Siska tak bisa melihat apa yang mereka lakukan.
"Maaf, apakah Anda wali dari pasien baru baru saja datang?" tanya seorang perawat perempuan dengan ramah.
"Iya, Suster," jawab Siska dengan tergagap.
"Mari ikut saya untuk melengkapi administrasi pasien," ajak suster tersebut.
Siska mengangguk dan mengikuti langkah suster di depannya. Setelah menyelesaikan data administrasi, Siska kembali duduk di dekat tempat Naoki di periksa.
Doa terus Siska panjatkan dalam hatinya, air matanya tak berhenti mengalir walaupun dia berusaha menahannya.
Dokter muncul dari balik tirai yang menutupi brankar, Siska segera bangkit dari duduknya.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Siska panik.
"Kita tunggu hasil labnya 10 menit lagi ya Bu," ucap sang Dokter mencoba menjelaskan.
Setelah lewat 10 menit dokter tersebut memanggil Siska mendekat, Siska pun mengangguk dan melangkah kaki lebih mendekat pada Dokter.
"Terima kasih, Dok," ucap Siska sambil mendudukkan dirinya di kursi plastik.
"Langsung saja ya Bu, anak ibu terkena demam berdarah, dan kondisi cukup buruk, trombosit nya jauh di bawah atas normal ucap Dokter itu menjelaskan.
Bagai petir menyambar langsung ke jantungnya, tubuh Siska lemas. Siska menutup wajahnya, air matanya mengalir dengan deras.
"Dok, tolong sembuhkan anak saya," ucap Siska demi tengah isaknya.
"Kami akan berusaha memberikan yang terbaik, jangan pernah putus harapan dan terus berdoa," ucap Dokter itu.
Siska hanya mengangguk kecil, air matanya terus mengalir. Siska merasa menjadi ibu paling buruk di dunia ini, dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.
"Mari Bu, kita akan memindahkan Pasien ke ruang rawat inap," ajak Dokter. kemudian bangkit dari duduknya dan mulai berjalan menuju brankar tempat Naoki di terbaring.
"Baik," jawab Siska lesu, dan berjalan mengekor di belakang Dokter.
__ADS_1
Dengan perlahan Siska menyibakkan tirai kain berwarna hijau yang menjadi sekat pembatas.
Hati Siska begitu sakit melihat tubuh kecil Naoki yang terbaring lemah, dengan alat bantu pernapasan dan infus yang terpasang di tubuh mungilnya. Air matanya kembali luruh, tangannya terulur mengelus lembut rambut putra semata wayangnya itu.
Para perawat mulai mendorong brankar dengan perlahan, Siska berjalan di sampingnya. Brankar terus di di dorong melewati lorong lorong rumah sakit, sampai akhir mereka berbelok masuk ke dalam sebuah ruangan berwarna biru muda di lengkapi dengan beberapa mainan untuk anak anak.
Sampai di sebuah kamar, tubuh kecil Naoki di pindahkan ke brankar yang ada di ruangan tersebut.
"Henti nafas!" pekik seorang perawat.
Beberapa perawat dan dokter yang ada di ruang rawat itu segera masuk dan melakukan tindakan, Siska mundur beberapa langkah memberikan ruang untuk para tenaga medis melakukan tindakan pada anaknya.
"Naoki, kuat Nak, Naoki pasti bisa," ucap Siska dengan air mata yang berderai. Tubuh Siska jatuh terduduk di lantai.
Tak henti Siska memanjatkan doa dalam hatinya. Dengan mata nanar Siska menatap tubuh kecil yang terbaring di antara kerumunan orang orang yang berpakaian putih itu, hati Siska hancur melihat tubuh kecil Naoki dengan berbagai alat yang di pasang di tubuhnya.
"Bu," ucap seorang perawat wanita, membuyarkan lamunan Siska.
"I -iya," jawab Siska tergagap.
"Pasien sudah kembali bernafas, tapi kamu harus memindahkannya ke ruang ICU," ucap perawat itu lagi.
"Lakukan yabg terbaik untuk anak saya, tolong selamatkan anak saya," lirih Siska.
"Kami akan melakukan yang terbaik," ujar perawatan itu sambil membantu Siska berdiri.
Siska kembali berjalan mengikuti para perawat yang mendorong brankar ke ruangan ICU.
"Maaf Bu, Ibu hanya bisa melihat dari jendela kaca."
"Tapi Suster, saya ingin melihat anak saya."
"Maaf, ini sudah menjadi peraturan, percayakan semua pada kami, tolong jangan berhenti berdoa," ucap suster itu sebelum kembali masuk ke dalam ruangan.
Tubuh Siska lunglai, ia duduk di bangku yang berjajar memanjang di depan ruang ICU. Tubuhnya kembali bergetar, Siska menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ya Tuhan aku adalah ibu yang buruk, aku belum pernah membahagiakan Naoki.
Siska terkejut saat merasakan tangan yang menyentuh bahunya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Siska tak menjawab, Siska berhambur memeluk pinggang pria yang berdiri di hadapan, tangis Siska kembali pecah.