
Arie pun hanya bisa pasrah. Alex terus melangkahkan kakinya sampai di depan kamar mereka. Setelah membuka pintu kamar, Alex terkejut dengan keadaan dalam kamar mereka yang begitu romantis. kelopak bunga tertata di jalan menuju ranjang, begitu pula di atasnya ranjangnya. Beberapa balon berwarna pink dan abu-abu juga menghiasi kamar itu.
"Sayang, apa maksud ini semua?" Alex menatap manik coklat istrinya dengan penuh tanya.
"Tidak ada, aku hanya ingin menghias kamar kita. Apa itu salah?" ucap Arie dengan ketus.
"Tidak bukan seperti itu, tapi ini-
"Ini ulang tahunku jadi terserah aku," ketus Arie memotong ucapan sang suami.
Mendengar itu Alex pun mengalah ia tidak lagi bertanya. Ia lebih memilih mengalah dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia membawa Arie mendekati sofa yang ada di ujung ranjang lalu mendudukkannya di atas tumpukan bunga. Alex mengecup lembut bibir Arie.
"Aku mandi sebentar ok. Di larang keras berjalan sendiri!" tegas Alex. Arie hanya mengangguk paham.
Alex pun segera bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah melihat Alex berlalu di balik pintu, Arie pun segera bangkit dan berjalan mendekati lemari. Dengan senyum lebar ia mengambil baju dinas yang baru saja di belikan adik iparnya. Lebih hot dan menantang, warna merah menyala membuat Arie terlihat lebih berani.
Setelah mengganti bajunya dengan baju saringan tahu yang kurang bahan dan tembus pandang. Arie pun memoles wajahnya dan memberikan sentuhan bibir dengan warna senada dengan baju haramnya. Setelah itu ia duduk di atas sofa lagi, menyilang satu kakinya ke atas, Arie berusaha mengatur nafasnya. Sudah lama sekali rasanya sejak ia melakukan hal seperti ini. Apalagi sekarang ada beberapa bekas jahitan yang belum sepenuhnya menghilang dari tubuhnya. Terkadang Arie merasa tidak percaya diri. Namun, ia akan berusaha sebaik mungkin memberikan servis untuk suaminya.
Arie menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskanya perlahan. Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat detak jantung Arie semakin cepat. Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi tertegun melihat istrinya dalam balutan kain transparan yang begitu menggoda.
"Sayang," panggil Arie manja. Ia berdiri lalu melangkah perlahan mendekati suaminya.
Melihat itu Alex pun bergegas menghampiri istrinya.
"Sudah aku bilang jangan berjalan, kau masih belum sembuh sayang." Alex mendekap tubuh Arie lalu mengangkatnya.
Tubuh mereka bersentuhan. Arie melingkarkan tangannya di leher Alex, jarak wajah mereka begitu dekat. Aroma parfum Arie yang lembut begitu mengusik Alex. Membuat darahnya berdesir hebat. Arie menggosokkan ujung di pipi dan rahang suaminya. Dengan nafasnya yang memburu Arie mengeratkan pelukannya.
"Sayang, jangan seperti ini. Aku tidak akan bisa menahan diriku." Alex memejamkan matanya, ia mengerang saat satu tangan istrinya singgah di dada bidang miliknya.
"Aku mau hadiah ulang tahunku."
__ADS_1
Arie mencium pipi dan leher Alex, membuat Alex mengeratkan tangan yang menahan tubuh Arie. Rahang Alex mengeras menahan rasa yang sudah tegang seperti tali yang sedang ditarik kuat.
"Apa?" tanya Alex sambil bersusah payah meneguk ludahnya.
"Aku mau kamu." bisik Arie, lalu mencium gemas telinga suaminya.
"Aku tidak ingin melukaimu, Sayang."
"Tapi kau sudah menyiksaku, aku sangat merindukanmu. Suamiku." Arie menarik sedikit wajahnya dari wajah suaminya.
Kedua sejoli itu saling menatap dengan binar rindu yang saling bertautan. Rasa rindu yang sangat dalam meskipun tubuh mereka kini lekat tanpa jeda.
"Tapi Sayang ...
Ucapan Alex terhenti saat Arie membungkam bibir dengan sebuah kecupan.
"Aku menginginkanmu. Suamiku," ucap Arie dengan tatapan mata yang sayu.
Arie tahu Alex begitu saat menginginkannya. Namun, pria itu dengan sekuat tenaga berusaha menahan dirinya. Alex langsung mengikis jarak kedua bibir mereka. Bergerak lembut melebur rindu yang saling terpaut. Alex mulai melangkahkan kakinya kearah ranjang. Dengan perlahan ia merebahkan tubuh istrinya di antara hamparan kelopak bunga tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Dengan satu tarikan kain yang menutupi tubuh istrinya lepas dari tubuhnya. Alex menyusuri leher jenjang istrinya, dengan satu tangannya yang bermain di bawah sana.
"Alex ..." Arie mengucap nama suaminya dengan penuh cinta saat merasakan sesuatu yang keluar.
"Kau sudah siap sayang."
Arie masih mengatur nafasnya. Alex tersenyum, ia melepaskan benang yang menutupi tubuhnya. Ia menunduk, mengecup lembut bekas luka yang masih engan hilang dari paha mulus istrinya.
"Apa masih sakit." Alex menyentuhnya dengan perlahan, seolah kulit Arie terbuat dari kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.
Arie mengelengkan kepalanya, tangannya terulur mengusap lembut pipi suaminya. Alex menangkap tangan Arie lalu menciumnya.
"Aku tidak ingin menyakitimu," lirihnya dengan tatapan yang penuh arti pada Arie.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, percayalah."
"Aku akan melakukannya dengan lembut." Alex mencium lagi tangan Arie lalu menariknya ke belakang lehernya. Alex menundukkan wajahnya mengikis jarak di mereka. Dengan lembut ia menyatu kembali bibir mereka, menyesap rasa manis yang menjadi candunya. Alex melepaskan tautan bibir mereka.
Perlahan Alex mulai memasuki tubuh istrinya, menyatukan miliknya kedalam tempat hangat yang sangat ia rindukan.
"Sakit.." Arie mencengkeram kuat lengan suaminya.
"Kenapa rasanya sama seperti pertama kita melakukan," keluh Arie dengan matanya yang sayu.
Alex berhenti sejenak, membiarkan Arie terbiasa dengan kehadiran miliknya.
"Tahan sebentar, mungkin karena kita lama tidak melakukannya." Alex mengecup kening Arie lalu kedua kelopak mata lentik yang terpejam.
Alex merasa iba melihat wajah sang istri yang meringis. Namun, ia juga tidak mungkin menghentikannya semua sekarang.
Alex menyatukan kening mereka, Arie menatap suaminya tatapan yang sayu membuat Alex semakin ingin. Ia pun langsung meraup bibir ranum Arie yang seolah sedang menggodanya. Tubuh mungil Arie melengkung ke atas saat Alex mulai memimpin permainan mereka.
Suara rintihan milik Arie mulai mengalun indah mengema di seluruh ruangan itu. Peluh dan deru nafas mereka menyatu mengarungi lautan cinta yang menengelamkan mereka dalam surga dunia.
Dinding di kamar itu telah menjadi saksi bisu kedua insan itu melebur rindu. Kelopak bunga mawar kini sudah berhamburan seiring detak jantung mereka yang saling bertalu.
"Sayang, maaf aku tidak bisa menahannya."
Alex berpacu lebih cepat mengejar rasa yang hampir sampai di puncaknya. Arie memegang erat lengan Alex saat merasakan tubuhnya yang mulai ikut menegang.
"Sayangku," sebut Arie manja.
"My love."
Alex mempercepat gerakannya sampai akhir ia menegang dan menyemburkan pasukan kecebong dalam rahim istrinya. Alex menjatuhkan kepalanya di bahu Arie dengan nafasnya yang memburu.
"Terima kasih sayang." Alex mencium kening dan pipi Arie sebelum ia turun dari atas istrinya.
__ADS_1
Alex merebahkan dirinya di sebelah Arie lalu merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya. Arie menyusupkan wajahnya di dada bidang suaminya, menikmati sisa aroma kehangatan yang baru saja mereka rasakan.