Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Cinta pertama


__ADS_3

Alex memeluk tubuh istrinya yang masih polos setelah pergumulan panas mereka. Ia mengusap lembut rambut istrinya yang kini berwarna coklat gelap itu. kedua masih berada di atas hamparan kelompok bunga mawar dengan selimut putih yang menutupi tubuh mereka.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Alex yang sebenarnya masih sedikit cemas dengan keadaan istrinya, apalagi dia mulai bermain sedikit kasar di tengah permainan mereka.


"Aku tidak apa-apa, apa yang kau cemaskan?" Arie sedikit menarik wajahnya dari dada bidang suaminya, ia mendongakkan sedikit kepalanya agar bisa menatap wajah tampan yang ada di hadapannya.


"Aku takut menyakitimu."


"Aku sudah sembuh, aku akan bisa berjalan dengan baik. Sayang." Jemari lentik Arie mengusap lembut rahang kokoh suaminya.


"Sembuh? bukannya dokter bilang kau masih harus menjalani fisioterapi beberapa bulan lagi?" Alex menautkan kedua alisnya.


"Aku meminta mereka merahasiakan hal itu. Aku ingin memberikan kejutan padamu kemarin, tapi kau malah lembur padahal aku sudah menyiapkan baju dinas yang kau temukan itu. Menjengkelkan!" keluh Arie yang menatap Alex dengan kesal.


"Astaga sayang jadi kemarin itu...Maafkan aku. Kenapa kau tidak memberitahu aku sebelumnya, aku akan pulang cepat kalau kau memberi tahuku." Alex menakupkan kedua tangannya di wajah Arie.


"Kalau aku kasih tau bukan kejutan namanya!"


"Iya juga ya, tapi terima kasih sudah menyiapkan hari yang spesial ini untuk kita." Alex mengecup bibir Arie yang sengaja di manyunkan olehnya.


"Apa kau suka?"


"Sangat suka kita seperti pengantin baru dengan hiasan kamar seperti ini," ucap Alex.


Ingatannya menerawang jauh saat malam pertama mereka. Bukannya melakukan hal yang iya iya Arie justru menyodorkan surat perjanjian yang di tanda tangani Alex saat dia mabuk. Arie mengeryitkan keningnya melihat suaminya senyam-senyum sendiri.


"Mikirin apa?"


"Apa kau ingat malam pertama kita di hotel waktu itu?" tanyanya pada Arie dengan mata yang lucu ia menatap manik coklat itu.


"Ingat, Kenapa?"


"Kalau di total berdasarkan surat kesepakatan yang kau buat, berapa banyak tagihan yang harus aku bayar padamu?"


Arie tergelak mendengar ucapan suaminya, ia pun tak tahu berapa banyak jumlahnya. Setiap sentuhan Alex padanya dihargai Arie dengan cukup fantastis. Saat membuat surat kesepakatan itu Arie hanya berpikir bahwa ia tidak mau rugi saat Alex menceraikannya. Mereka berdua menikah hanya karena keterpaksaan jadi Arie hanya memikirkan kemungkinan terburuk saat itu. Namun, takdir berkata lain. Mereka saling jatuh cinta Seiring kebersamaan mereka.


"Kok ketawa sih, aku serius lho. coba saja hitung berapa jumlahnya."


"Nggak tau, mungkin triliunan. Mana bisa aku menghitungnya, kau menyentuhku berapa kali, mencium, memeluk, trus kalau masukin terong berapa kali, belum kalau kamu minta tambah."


"Aku juga tidak bisa menghitung kau menyakitiku berapa kali. Meskipun tidak ada luka fisik yang tertinggal, tapi aku pernah merasakan duka saat kita mulai hubungan ini," suara Arie terdengar lirih saat mengucapkan ini.


Alex merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya. Ia sadar, sangat sadar ketidak jujurannya pernah menyakiti hati Arie tanpa ia sengaja.


"Sayang maafkan aku." Alex mengecup pucuk rambut istrinya berkali-kali.


"Orang bilang aku terlalu mudah memaafkanmu saat kau berbohong padaku tentang Vivian, lebih tepatnya saat kau tidak jujur padaku."


Alex melonggarkan pelukannya lagi, ia menatap dia manik mata yang menatapnya dengan penuh kasih sayang. Arie tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya lagi.


"Mungkin aku terlalu naif karena terlalu mencintaimu. Aku milih memaafkanmu, karena aku percaya kau melakukan itu semua untuk menjagaku, apa aku benar?"


Alex mengangguk kecil.


"Iya sayang, aku takut kau akan marah kalau aku bilang aku menolong Vivian. Aku ingat bagaimana kau tidak suka saat Vivian datang ke kantorku waktu itu jadi aku memutuskan untuk tidak menceritakan apapun, tapi aku menyesal. Semua itu malah membuatmu terluka," ujar Alex dengan penuh penyesalan, seandainya ia bisa memutar waktu ia tidak akan menyembunyikan apapun pada istrinya dan membuat Arie meneteskan air matanya.


Arie tersenyum, mengusap sudut mata Alex yang tampak sedikit basah.


"Apa aku boleh bertanya?"


"Iya, tentu."


"Kenapa Vivian meminta pertolongan padamu, bukan pada orang lain?" Akhirnya Arie menanyakan apa yang menjadi ganjalan dalam hati para readers.

__ADS_1


"Di negara ini dia hanya mengenal keluargaku. Dia mungkin punya orang untuk mengatur perkerjaannya tapi untuk menjaga rahasia sebesar itu bagaimana bisa ia percaya pada orang lain. Kehamilannya adalah aib untuk karirnya sayang. Apalagi Daddy-nya yang tidak akan mentolerir kesalahan sekecil apapun. Meski yang melakukan itu adalah putrinya sendiri."


Arie hanya diam mendengarkan cerita Alex, sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, sesekali ia mengusap lengan kokoh Alex yang melilit tubuhnya. Alex menarik nafas dalam sebelum mulai berbicara lagi.


"Dia tau aku punya kuasa yang bisa aku gunakan untuk menutupi semua yang terjadi. Aku hanya merasa iba pada bayinya, saat kau juga tengah mengandung Cleo waktu itu. Kita begitu menantikan kelahiran bayi kita, saat aku mendengar Vivian akan mengugurkan kandungan aku merasa tidak tega. Aku ingat akan bayi kita, bagaimana dengan sadarnya aku membiarkan seseorang membunuh seorang bayi yang tidak berdosa. Waktu itu aku memutuskan untuk mengadopsi bayi itu bila ia lahir, aku sudah merencanakannya dengan baik dan akan membicarakannya denganmu. Namun, takdir berkata lain, dan kau tau sendiri kelanjutan ceritanya." Alex mencium kening Arie yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Kau sungguh baik hati sayang, aku tidak salah memaafkanmu." Arie mencium dada Alex tepat di arah jantungnya yang berdetak.


"Tidak, seharusnya kau marah waktu itu. aku berhak memukuli aku membentak dan membenciku. Kau terlalu baik sayang." Alex mengangkat dagu kecil istrinya lalu mengecup lembut bibir manis istrinya.


"I love you honey."


"I love you more Mr. sipit."


"Sekarang apa kau boleh bertanya?"


"Apa?"


"Apa aku cinta pertamanya mu?"


Arie tersenyum kecil melihat wajah Alex yang sangat serius menatapnya.


"Bukan, kau cinta keduaku"ujar Arie jujur. Sepercik kekecewaan tersirat dari wajah Alex.


"Bukankah kau tidak pernah pacaran sebelumnya?"


"Aku mencintai seorang anak laki-laki yang pernah menolongku saat aku tengelam, dia penyelamatku."


"Tengelam dimana? apa kau baik-baik saja? apa ada yang terluka?" cerca Alex cemas sambil membolak-balik tubuh Arie.


"Ish.. sayang, aku tenggelamnya waktu masih kecil kok tanya sekarang sakitnya," ucap Arie sambil mencebikkan bibirnya.


"Maaf, aku hanya khawatir denganmu sayang. Emh.. coba ceritakan lagi soal cinta pertamamu itu," tukas Alex yang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku tidak tahu siapa namanya, saat itu aku ikut kakek untuk memulung di belakang perkantoran atau apa ya, aku tidak ingat waktu itu aku masih kecil."


Seorang anak perempuan berusia lima tahun berceloteh riang menaiki gerobak yang di tarik oleh seorang pria yang sudah berumur. Mereka menyusuri jalan raya untuk memunguti barang barang bekas yang mereka bisa jual lagi.


Pria tua itu menepikan gerobaknya di tepi jalan di belakang gedung perkantoran yang menjulang tinggi.


"kene sek ya, Mbah tak rono."


[ "kamu di sini saja, kakek mau ke sana." ]


Pria itu mengambil karung dan besi panjang yang melengkung di ujungnya untuk mengambil botol plastik bekas.


"Elok Mbah," rengek gadis kecil itu


[ " Ikut Mbah," ]


"Ya wes, ga oleh adoh adoh tapi!"


[ "Ya sudah, tapi nggak boleh jauh jauh." ]


Gadis kecil itu mengangguk kecil. Pria itu mengangkat tubuh kecil itu untuk turun dari gerobak. Ia pun berjalan kearah tumpukan sampah untuk mengais rejekinya hari ini.


Karena terlalu sibuk mengais sampah pria tua itu tidak memperhatikan Arie kecil. Gadis kecil itu bermain di pinggir parit yang ada di sana, tangan kecilnya meraih sebuah boneka plastik yang mengapung di air parit yang kotor.


Sreet


Jebur


Tubuh mungil Arie Mauk kedalam air parit yang hitam. Ia berteriak kecil meminta tolong. Namun, karena jarak kakeknya yang agak jauh dan lagi pria tua itu juga sudah memiliki masalah dengan pendengarannya membuat pria tua itu tidak mendengar teriakkan minta tolong Arie.

__ADS_1


"Hei.. ni cai kamma?"


[ Hei..kamu lagi apa?" ] tanya seorang pria kecil berkulit putih dengan memakai baju mahal dan sepatu yang bisa menyala.


Pria kecil itu berdiri bersendekap sambil melihat ke arah Arie yang terlihat kotor oleh air parit. Arie berkedip kedip melihat sosok tampan yang ada di hadapannya. Ia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang di ucapkan anak kecil itu.


"Tolong." Arie mengulurkan tangannya.


Pria kecil itu pun segera menarik tangan Arie yang terulur padanya. Setelah dengan susah payahnya ia menolong Arie keluar dari parit. Pria kecil itu membersihkan wajah dan tangan Arie dengan sapu tangannya.


"Piau liang,"


[ "Cantik." ]


ucap anak itu sambil mencubit gemas pipi Arie yang chubby. Tak ada rasa jijik pada Arie yang masih bau air parit.


Arie tersipu malu, pipi tembemnya memerah akibat cubitan gemas di pipinya. Arie melepaskan gelang manik warna warni


yang ada di pergelangan tangannya lalu memberikannya kepada pria kecil itu sebagai tanda terima kasih.


"Kei wo ma?"


[ "Apa ini untukku?" ]


Arie mengangguk kecil. Ia tidak mengerti apa yang di ucapkan pria itu, Arie hanya asal menebak dan mengangguk saja. Pria itu tersenyum lalu mencium pipi gembul Arie.


"Xie Xie ni,"


[ "Terima kasih," ] ucap anak kecil itu.


Arie membeku. Tiba-tiba ia menangis kencang membuat anak itu terkejut. Apa lagi ada seorang kakek yang berlari ke arahnya sambil mengacungkan besi. Ia pun merasa ketakutan dan berlari meninggalkan Arie yang menangis sendirian.


Flashback off.


Alex yang mendengar cerita istrinya pun mengeryitkan keningnya. Ia segera melompat dari ranjangnya lalu berlari kecil menuju lemari pakaian. Alex bahkan lupa ia tidak memakai apapun yang menutupi tubuhnya.


"Sayang apa yang kau lakukan?!" teriakannya pada sang suami yang sedang mengobrak-abrik isi laci yang ada dalam lemari itu.


"Sayang!" teriakannya lagi. Namum, Alex seakan tuli, ia tidak mendengarkan panggilan sayang dari istrinya.


"Ketemu!" seru Alex tiba-tiba.


Dengan senyum secerah matahari ia membawa kotak kecil ke arah ranjang. Alex melompat naik ke atas kasur, ia pun duduk bersila di samping istrinya. Arie pun segera mengambil bantal kecil untuk menutupi aset suaminya yang terlihat polos dan unyu unyu itu.


"Apa ini gelangnya?" Alex membuka kotak kecil itu.


Mata Arie terbelalak melihat benda dari masa lalunya. Gelang yang sama yang ia berikan pada sang penyelamatnya.


"Ini?"


"Ya aku menyimpannya. Aku berniat akan mencari anak yang memberikan ini padaku, tapi dia tidak pernah kembali ke sana. Aku ingin minta maaf karena membuatmu menangis," ucap Alex dengan binar mata penuh haru.


"Aku tidak boleh lagi ke sana sejak kejadian itu."


"Sayang jadi itu benar kau?" Alex menatap Arie dengan penuh binar cinta.


Arie mengangguk kecil, matanya sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka takdir sudah mempertemukan mereka sejak lama. Alex segera merengkuh tubuh Arie dalam pelukannya.


"Ternyata aku cinta pertamamu," ucap Alex dengan bangganya lalu mencium lembut bibir Arie.


.


.

__ADS_1


.


.. Gaes jangan lupa like jempolnya 🤧😭❤️


__ADS_2