
Apartemen Alex tidak pernah sepi walau penduduk hanya dua jiwa dan satu di pagi sampai malam hari, namun itu tidak membuatnya sepi, alunan lagu koplo selalu mengema, menemani Arie mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Ting.. tong....
Arie berhenti sejenak dari kegiatannya membersihkan lantai, dia melenggang santai sambil menenteng gagang pelnya, Arie memutar matanya malas saat melihat wajah cantik di layar intercom.
"arep Lapo maneh wong Iki" (mau apa lagi orang ini) Arie pun membuka pintu dan memasang senyum palsunya yang manis.
"halo adik ipar, angin apa yang membawa gadis cantik seperti mu kemari"
"ahh.. kakak ipar, kau sungguh membuat ku malu dengan pujian mu"
Huuuuueeeeekk, runtuk mereka berdua dalam hati masing-masing.
"Kakak Ipar, apa kau tidak mempersilahkan aku masuk"
"oh.. maaf aku lupa, silahkan masuk"
"hemh... "Nuwa tersenyum, lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam.
"Awas adik lantainya licin" Arie dengan sengaja mensapukan kain pelnya yang basah di lantai yang akan di pijak Nuwa.
"hehe... iya Kaka," hampir Nuwa terpeleset, untungnya dia bisa berpegang sisi sofa.
"duduklah aku akan membuatkan minuman untuk mu"
"tidak usah repot-repot kak" Nuwa mendudukkan dirinya di sofa.
"aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin, maafkan aku aku tidak seharusnya berlaku kasar padamu" ucap Nuwa sambil tertunduk sendu. Arie pun duduk di sofa bersebelahan dengan Nuwa.
"tidak apa, aku mengerti"
"benarkah Kaka memaafkan aku"
"tentu" ujar Arie tersenyum.
tentu aku mencurigai mu sayang, seseorang tak akan berubah dalam semalam ye..kan, gumam Arie dalam hati.
"Kakak ipar, bolehkah aku menginap di sini, sore nanti aku ada pekerjaan di dekat sini, aku terlalu malas untuk balik lagi ke rumah besar"
"tentu, Apartemen ini selalu terbuka untuk mu"
"Oia kak, aku punya sesuatu untuk mu" Nuwa membuka tas kecilnya mengeluarkan sesuatu persegi panjang kecil warna putih dengan ujung warna ungu bergambar buah stroberi.
"ini kak" Nuwa menyodorkan benda kecil itu pada Arie
permen karet cik ga bondo ne rek (permen karet, ga modal banget) batin Arie.
__ADS_1
"Terima kasih" Arie menerima permen itu dengan senyum selebar mungkin.
"kau tahu ini permen paling enak yang aku pernah makan, kau harus memakannya," Nuwa mulai membuka satu bungkus permen lunak panjang tersebut, dan memaksa benda itu masuk ke mulut Arie.
Dengan terpaksa Arie membuka mulutnya, dan iya pura pura mengunyahnya.
"wah ini enak sekali,"
"benar enak kan" senyum licik mengembang di wajah Nuwa.
"Kakak aku mau istirahat dulu, aku lelah sekali, begadang semalaman di club, kamarnya masih samakan, Nuwa bangkit dari duduknya, beranjak pergi menuju kamar. Arie segera memuntahkan permen yang ada di mulutnya, lalu berkumur berkali kali, bukan apa apa Arie takut perutnya akan sakit memakan permen itu.
Arie pergi ke kamarnya bersiap untuk pergi berbelanja ke pasar, lemari pendinginnya sudah kosong saatnya untuk mengisinya lagi, setelah bersiap Arie berangkat dengan di antar Ipul.
Setelah melaju Beberapa saat mobil yang di tumpangi Arie pun berhenti di parkiran, depan pasar tradisional.
"Pul.. arep permen"( Pul mau permen) Arie menyodorkan bungkusan permen persegi berwarna silver.
"gelem ae Mba Boss, gratis kan hehehhe (mau saja Mba Boss, gratis kan) ujar Ipul menyengir. Ipul dengan antusias membuka dan memasukkan permen panjang dalam mulutnya.
"enak Mba Boss legi" ( enak Mba Boss manis)
Arie memandang Ipul penuh selidik.
"awakmu ga kroso opo opo, gatel , panas, weteng loro opo ngunu"( kamu tidak merasakan apa apa, gatal, panas, perut sakit, atau apa gitu) tatap Arie penuh tanya.
"Iku Mba Boss, kroso kurang, kurang akeh wkwkwkw" ( itu Mba Boss, terasa kurang, kurang banyak wkwkwkwkw) Ipul terkekeh dengan jawabannya sendiri.
"tuku Dewe Kono" (beli sendiri sana) seloroh Arie. Arie keluar dari mobilnya dan mulai berjalan ke dalam pasar.
Dalam pasar Arie mulai memilah dan memilih bahan makanan sesuai dengan kebutuhannya, tak lupa Arie juga menawar harga barang di sana. rasanya kurang puas belanja tanpa, menawar harga pada penjual. Arie keluar dari pasar dengan menenteng dua kresek warna merah, Ipul yang melihat Mba Boss nya kerepotan segera menghampiri dan membawakan belanjaannya.
"Abot ya Mba Boss"( berat ya Mba Boss)
"wes eruh takok , wes ayo ndang muleh, panas" (sudah tau nanya, ayo cepat pulang, panas) ujar Arie sambil mengipas wajahnya dengan tangannya.
"siap"
setelah menempatkan belanjaan di kursi belakang, mereka pun melajukan mobil kembali ke apartemen.
"okay pul, lets go pulang"
"tarikk ....Mba Boss"
Sampai di rumah Arie menata barang belanjaan di dapur, memilah beberapa sayuran dan bermacam sumber protein hewani di di lemari pendingin.
******
__ADS_1
"Kakak apa kau tidak merasa sesuatu yang aneh" tanya Nuwa meneguk segelas air putih.
"ga....emang kenapa" ucap Arie Sambil menikmati makan malamnya.
"ga ... ga ada, kapan Keke pulang"
"mungkin sebentar lagi, tadi dia bilang akan pulang lebih awal"
Nuwa pun ber "o"ria.
Setelah menyelesaikan makan malam Arie kembali ke dalam kamarnya, melihat tamu bulanannya yang sudah surut dan tak meninggalkan bekas apapun lagi di segitiga Bermuda miliknya, Arie segera membersihkan dirinya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Arie duduk di sofa yang menghadap ke jendela kaca besar di kamarnya, mulai membuka ponsel dan masuk ke aplikasi Novel yang baru ia temukan.
ceklek...
Arie menoleh sejenak ke arah pintu kamar yang terbuka di lihatnya sosok Alex yang nampak kusut namun tidak mengurangi ketampanannya.
"aku siapkan makan malam untuk mu" Arie hendak bangkit dari duduknya.
"tidak usah m, nanti saja aku belum lapar" Alex melepaskan atasan yang di kenakan, lalu masuk ke dalam kamar mandi, entah malam ini dia merasa sangat gerah, dia ingin segera menguyur tubuhnya dengan air dingin.
Arie pun kembalikan menatap layar ponselnya, sesekali mulut nya berhenti mengunyah, lalu tersenyum saat melihat layar ponselnya.
"isssh.. panas.. ya" Arie meletakkan ponselnya lalu meraih remote AC dan mengurangi temperatur suhu di kamar itu menjadi lebih dingin.
Sedangkan Alex air dari shower dengan deras menghantam tubuhnya dengan air dingin namun rasa terbakar di tubuhnya tak kunjung hilang, Alex memutuskan untuk menyudahinya, dia melilitkan handuk di pinggang lalu keluar dari kamar mandi.
Alex di suguhkan pemandangan yang indah saat dirinya keluar dari kamar mandi, wanita yang ada di hadapannya sedang mengeliat karena panas yang dia rasakan tak kunjung hilang.
"Alex...panas...." Arie membuka kancing bajunya, suaranya terdengar serak begitu seksi. Alex menelan saliva melihatnya, Alex pun merasakan hal yang sama, panas.
Arie perlahan mendekatinya, Alex tak tinggal diam, ada dorongan kuat untuk dirinya menyentuh Arie, saat tangan Alex meraih pinggang Arie, seakan tersengat aliran listrik, saat kulit mereka bersentuhan, kedua insan itu menatap satu sama lain dengan mata sayu, ada h*sr*t yang harus di lepaskan.
Alex me****at bibir Arie dengan rakus seakan dia tak pernah menyentuhnya, satu tangannya mulai membuka sisa kancing yang tersisa, membuang baju yang melekat ke sembarang arah, kini tangan meremas gundukan gunung Semeru membuat Arie men***ah di belakang lidahnya yang telah terbelit,Alex menari bibirnya hingga pagutan mereka terlepas, nafas mereka memburu, Arie menyatukan bibir mereka kembali kali ini dia yang mengambil alih, meskipun masih kaku tapi Arie menginginkannya, Arie mengalungkan kedua tangannya di leher Alex, kini mereka berdua telah polos seperti bayi yang baru lahir, Alex mengangkat tubuh Arie seperti koala.
Alex merebahkan tubuh Arie di atas ranjang tanpa melepaskan tautannya, tangan Alex mulai memainkan kacang kecil di hutan rimba di bawah sana, Alex menurunkan kepalanya menyesap puncak Semeru yang tegak menantang, Arie melenguh.. sentuhan Alex membuatnya gila, dia mencengkeram rambut Alex saat puncak kembarnya di sesap dengan begitu nikmat.
"Aaahhh.... Alex.. aku"
Arie sudah tak tahan, Jari Alex Berutu liar bermain di bawah sana membuat sesuatu ingin keluar.
"lepaskan" Alex menambah ritmenya. tubuh Arie melengkung ke atas saat dia merasakan sesuatu yang basah dan berkedut di bawah sana.
Alex mencium kedua kelopak mata lalu me***at bibir Arie dengan lembut perlahan namun menuntut.. Alex kecil sudah tegak menjulang. perlahan Alex membuka kaki Arie bersiap menancapkan paku bumi di lembah rimba.
"eeemmmmhhhh..." Arie mengerang saat merasakan panas dan perih, saat sesuatu yang besar memaksa masuk dalam goanya.
__ADS_1
"tahan sebentar"
Arie mengangguk kecil. sekali hentakan Alex memasukkan semuanya kedalam, cairan hangat terasa mengalir dari sana, air mata Arie menetes, dia mencengkeram bahu Alex menyalurkan rasa perih yang di rasakan di bawah sana, perlahan Alex menghentak tubuhnya, meski sakit namun Arie juga menginginkannya, Alex semakin mempercepat mengerakkan tubuhnya, menghujam lebih dalam ke lembah wanitanya. Arie mel***uh, men****ang, terdengar begitu seksi, membuat Alex semakin bersemangat, sampai saat lava hangat menyembur dalam intinya tubuh mereka menegang bersama mereka puncak.