
Dalam sebuah kamar hotel yang mewah. Dua insan manusia sedang meringkuk di dalam selimut tebalnya. Alex memeluk tubuh Arie dari belakang. Setelah melakukan olahraga ranjang dengan tubuh yang sama polosnya.
"Kenapa kau melamar ku lagi? Bukankah kita sudah menikah, bahkan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua?" tanya Arie sambil melihat dua cincin yang tersemat di jarinya.
"Aku belum pernah melamar mu kan. Saat itu kita hanya bertukar cincin di hadapan Kakek, dan cincin itu pun punya kakek. Lagi pula saat itu keadaan yang memaksa kita." Alex mencium pucuk rambut istrinya yang berantakan karena ulahnya.
"Bagaimana kalau aku tadi menolak?" tanya Arie tiba tiba.
"Aku akan mengurung mu. Aku tidak mau penolakan," jawab Alex enteng.
Arie membalikkan badannya, membuat mereka berhadapan.
"Jahat ya!"
"Aku tidak perduli, yang aku tau aku ingin bersamamu. Kau hanya milikku!" tegas Alex. Tangan Arie terulur mengelus lembut wajah suaminya.
"Aku milikmu selamanya."
Arie menatap lekat manik mata hitam milik Alex. Ia mulai mendekatkan bibirnya. Kedua benda kenyal itu pun saling bertaut lembut. Menyalurkan rasa cinta yang begitu besar.
Sementara di tempat lain.
Seorang pria paruh baya tampak frustasi. Meskipun ia mencoba untuk baik baik saja nyatanya tidak bisa.
Sebuah skandal telah beredar, menghancurkan reputasi keluarga Sasongko. Entah siapa yang mulai menyebarkannya. Semua kolega Adinata seakan enggan untuk melihatnya bahkan mereka seperti tidak mengenalnya lagi.
Begitu pula anaknya, Arow. Ia pun turut terkena imbasnya. Mertuanya tak lagi mau untuk dia berkerja sama. Mereka takut itu akan mempengaruhi bisnis mereka. Keluarga Adinata benar benar di ambang batasnya.
Satu persatu pelayan rumah besar itu pun mulai di berhentikan. Karena Adinata tak sanggup lagi untuk membayar gaji mereka.
Tok..tok..
"Ayah," panggil seseorang dari luar ruang kerja Adinata.
"Masuk."
Pintu besar itu terbuka. Seorang pria dengan muka kusut masuk ke dalam ruang kerja yang berantakan itu. Adinata duduk di kursi yang ada di belakang meja. Pria paruh baya itu tampak lebih tua hanya dalam beberapa hari saja. Mungkin karena masalah yang datang secara bertubi-tubi.
Arow pun sama. Pria tampan itu kini tampak kusut tak terawat. Sejak ia bangkrut dan skandal keluarga Sasongko tersebar. Ayah mertuanya meminta dengan paksa Nana untuk pulang ke rumah mereka bersama anaknya. Dan Arow bisa menjemput mereka saat keadaan sudah membaik.
Arow duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan ayahnya.
"Ayah apa yang bisa kita lakukan sekarang? Tak ada satupun temanku yang mau menerima aku di perusahaan mereka, dan lagi aku tidak bisa menemui anak dan istriku," ucap Arow dengan sendu. Sungguh ia tidak pernah membayangkan akan terpisah dari keluarga kecilnya.
Adinata menatap anaknya dengan iba. Akan tetapi ia pun tidak bisa membantu. Karena keadaannya pun sama buruknya.
"Mungkin ada satu orang yang bisa membantu kita," ucap Adinata. Saat seseorang terbersit dalam pikirannya. Pria paruh baya itu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang di satukan.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Arow penuh harap.
"Orang yang telah membeli perusahaan ayah."
"Maksud ayah. Mr.Huang?"
"Bukan, tapi tuan dari Mr.Huang."
Arow diam. Ayahnya memang pernah menceritakan sosok yang di banggakan oleh Mr.Huang itu. Seorang yang bisa membeli perusahaan milik ayahnya jelas bukan orang biasa.
"Kalian mau mengemis pada orang lain." sentak puspa tiba-tiba.
Kedua pria itu pun menoleh kearah pintu yang di buka dengan kasar. Seseorang wanita tua berdiri dengan angkuh. Matanya melotot menyorot tajam ke arah putra dan cucu yang dianggap semata wayang itu.
"Aku hanya meminta bantuan Bu, bukan mengemis. Lagi pula apa salahnya kita mencoba. Toh kita sudah tidak punya pilihan lain. Kita sudah hancur." Adinata mengusap wajahnya kasar.
"Kau yang menghancurkan semua. Kau anak tidak tau di untung. Semua gara gara anak haram yang kau bawa pulang itu!"
"Apa yang nenek maksud? anak haram, siapa?" sentak Arow gusar.
Adinata mengepalkan tangannya, wajahnya merah padam. Pria paruh baya itu masih berusaha menahan emosinya. Meskipun dalam dadanya bergemuruh. Namun, ia masih mencoba bertahan.
"Siapa lagi kalau bukan anak dari Anjar, wanita jal*ng itu. Sudah mati, masih saja meninggalkan masalah untuk keluarga ini!"
Puspa melengos membuang mukanya kesamping. Menyiratkan ketidak sukaanya.
Adinata berdiri mengebrak mejanya dengan keras. Tubuhnya bergetar hebat. Mata pria itu sudah merah dan berair. Jika orang lain yang mengatakan itu, mungkin kini Adinata sudah melayangkan bogem mentah dan menghajarnya sampai tak bernyawa. Akan tetapi, wanita itu adalah ibunya. Seorang wanita yang harus ia hormati.
"Kau membentak ku hanya untuk anak haram itu, apa kau lupa. Bagaimana janjimu pada mendiang ayahmu!" Dengan langkah lebar Puspa berjalan mendekat meja kerja anaknya.
"Tapi nenek sudah keterlaluan, apa salah ibu Anjar pada nenek!" Arow pun melotot ke arah Puspa. Pria muda itu sudah kehilangan kesabarannya.
Ia pun berdiri tegak di hadapan wanita tua itu. Ia sudah tidak bisa mentolerir apa yang di ucapkan neneknya.
Arow menoleh menatap ayahnya yang tertunduk dengan matanya yang berkaca-kaca. Sungguh berat baginya. Terlanjur mengucap janji pada mendiang ayahnya sebelum.
"Untuk apa kau membela wanita j*lang itu. Dia sudah mati, sudah busuk tinggal tulangnya tertimbun tanah!" cemooh Puspa.
"Stop nek, Dia juga menantu nenek bukan. Dia adalah ibuku juga. Nenek yang selalu berpikiran picik. Dan anak yang nenek sebut haram itu, dia adikku. Dia punya nama. Arie Sasongko!" Bentak Arow tepat di hadapan neneknya.
Plakk
Sebuah tamparan mendarat di pipi Arow. Membuat pria itu tertoleh.
"Dia tidak pantas memakai nama keluarga ini!"
Arow tersenyum getir. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran neneknya. Bukankah beberapa waktu yang lalu dia sendiri yang bilang bahwa dia menyesal karena telah membuang cucunya. Akan tetapi apa ini? Apa yang di lakukan neneknya seratus delapan puluh derajat terbalik dari apa yang ucapkan nya beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
"Cukup!" Bentak Adinata.
"Biarkan ayah."
"Arow kau-
Ucapan Adinata terhenti, saat Arow mengacungkan telapak tangannya di hadapan ayahnya.
"Biarkan wanita tua ini mengungkap kebusukannya sendiri."
Mata Puspa membulat, mendengar ucapan cucunya. Arow berjalan memutari tubuh renta yang angkuh itu dengan tersenyum miring.
"Bukankah nenek sendiri yang bilang kalau nenek menyesal dan ingin meminta maaf kepada cucu yang telah nenek buang. Tapi apa ini!"
Mata Puspa memerah. Dadanya naik turun menahan marah dan malu. Sungguh sial. Karena marah Ia sampai kelepasan bicara. Dan membongkar topengnya sendiri.
"Aku memang menyesal karena membuangnya. Tapi bukan berarti aku bisa menerimanya sebagai cucuku," elak Puspa.
"Aku ragu dengan ucapan nenek, apa semua yang nenek ucapkan itu benar?" Arow melipat kedua tangannya dan menatap remeh pada sosok yang berdiri di hadapannya.
"Kau, cucu macam apa kau ini. Kau tega mengucapkan hal seperti itu nenekmu sendiri," ucap Puspa merendah.
Air mata mulai luruh di pipinya yang mulai tampak keriput. Tubuhnya mulai bergetar karena terisak.
"Sudahlah, nenek tidak usah bersandiwara lagi!"
"Adinata bagaimana kau mengajari anakmu. Apa salah ibumu ini nak? Ibu memang belum bisa menerima anakmu yang lain.
Tapi bukan berarti ibu tidak menyayanginya. Ibu sudah berusaha untuk itu. Ibu hanya terlalu terbawa emosi," ucap Puspa sambil terisak.
Adinata mengusap wajahnya kasar. Ia sudah kehabisan kata dengan tingkah laku ibunya. Sementara Arow menatap neneknya dengan jengah.
"Kau tau betapa ibu membenci Anjar. Sulit bagi ibu untuk menerima anakmu itu, tapi ibu sudah berusaha. Percayalah Nak!"
Air mata Puspa terus berderai, tidak ada niat sedikit pun untuk mengusapnya. Ia membiarkannya terus menganak sungai, agar terlihat lebih dramatis.
Puspa mengenggam tangan anak laki lakinya itu. Ia tidak mau Adinata pergi darinya lagi. Dengan wajah memelas ia berharap bisa mengambil simpati Adinata
"Sudahlah Bu. Lebih baik Ibu pergi istirahat."
Adinata menarik tangannya.
"Tapi Nak, Ibu-
"Bu tolong, aku harus membicarakan sesuatu dengan Arow. Ibu pergilah ke kamar."
"Baiklah Nak."
__ADS_1
Dengan langkah gontai Puspa mulai melangkah keluar dari ruangan itu.