
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
Nana terdiam mendengar keinginan dari ayahnya, dia tidak tahu harus bicara apa pada Sebastian. Mengingat pria itu telah memberikannya segalanya, termasuk juga kesembuhan ayahnya.Â
“Nanti Nana coba ngomong sama suami Nana ya,” ucap Nana.
Itu membuat ayahnya tersenyum senang dan terbatuk batuk.
“Ayah gak papa?”
“Enggak, Cuma kecapean aja.”
“Ayah kecapean kenapa? Ayah ke sawah lagi?”
“Soalnya gak ada yang mau kerja sama Ayah, Na. jadi Ayah terpaksa kerja sendiri.”
“Ibu?”
“Iya, sama Ibu kamu juga.”
Nana melihat teko kecil di nakas, isinya sudah habis. “Bentar Nana ambilin dulu airnya,” ucap Nana keluar dari kamar.
Dia melihat Rina yang sedang bermain ponsel sambil tertawa. Dan terlihat dari kukunya, Rina memiliki kuku yang bersih. Sepertinya ayahnya berbohong tentang dirinya yang ikut turun ke sawah.
“Bu, ayah sakit lagi?” tanya Nana.
“Ayah kamu udah biasa.”
“Terakhir di bawa control kapan?”
“Ayah kamu gak mau keluar rumah,” ucap Rina yang masih terus focus pada ponselnya.
__ADS_1
“Kok?”
“Ya ibu gak bisa maksa dong, Na. orang dianya gak mau. Ibu bisa apa?”
“Ayah sakit, Bu.”
“Kalau bisa kamu kasih mobil, biar gak perlu nyewa mobil punya orang juga.”
“Kan Grab juga ada sekarang mah.”
“Ada, tapi kan namanya orangtua ya mau barang sendiri, Na. kamu harus peka dong, Ayah kamu mau dibeliin mobil, kasih supir sama perawat pribadi biar yang udah paham. Ibu mana tau ayah kamu sakit lagi.”
“Keliatan kali, ayah pucat.”
“Yaudah, Ibu pesen Grab nih.”
“Gak usah,” ucap Nana kesal, dia berjalan mencari Eve yang ada di luar. “Eve?!”
“Iya, Nyonya?”
“Kita akan ke rumah sakit, ayah sakit.”
Nana melewati Rina dengan menahan rasa kesal. Dan saat masuk kamar, Nana melihat ayahnya yang sangat pucat sedang merintih kesakitan.
“Ayah? Eve?! Bantu aku!”
🌹🌹🌹🌹🌹
Hans melihat hasil pemeriksaan, telinganya juga sigap mendengarkan apa yang dokter katakan.
“Separah itu?” tanya Hans untuk yang kesekian kalinya.
Yang mana membuat dokter itu mengangguk.
“Apa ada cara?”
__ADS_1
“Rumah sakit ini tidak mampu, tapi ada satu di Dallas.”
“Ah…, aku pernah mendengar tentang kabar itu.”
Di sisi lain, Sebastian terbangun dari tidurnya. Dia merasa sangat pusing.
“Oh, Siial, ada apa denganku? Apa karena efek kehamilan Nana menular? Apa penyakit hamil menular?”
Dan saat mendudukan dirinya, Sebastian mendapatkan telpon. Dia melihat mantelnya ada di sofa, membuatnya beranjak untuk mengangkatnya.
Itu dari Nana.
“Hallo, Sayang? Ada apa?”
“Mas, Ayah di rumah sakit, kamu bisa ke sini?”
Terdengar suara tangisan Nana yang mana malah membuat Sebastian sedikit panic. “Sayang, jangan menangis. Ayahmu akan baik baik saja, aku akan ke sana. Jangan menangis.”
“Aku panic, ternyata Ibu tidak pernah mengingatkan ayah minum obat. Penyakitnya kambuh lagi, aku harus bagaimana?”
“Tenang dulu, aku akan ke sana. Jangan khawatir.”
Dan saat Sebastian memakai kembali mantelnya dan hendak keluar dari ruangan, hal itu bersamaan dengan Hans yang masuk.
“Hans, kita harus ke rumah sakit lain, ayah mertuaku di sana.”
“Ada yang harus anda ketahui, Tuan,” ucap Hans.
“Kita tidak punya waktu.”
“Ini tentang kondisi tubuh anda,” lanjutnya kemudian memberikan hasil pemeriksaan itu.
Tatapan wajah Hans membuat Sebastian terdiam dan membacanya. “Kenapa kau terlihat begitu serius?”
Sampai akhirnya Sebastian membacanya, dia terdiam untuk sesaat kemudian berkata, “Jangan sampai siapapun tahu, bahkan Nana.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE