Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Kehilangan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH LOVE YA SEMUANYA.🌹


🌹IGEH JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Ares membuka matanya dan mendapati Michael yang masih tidur, yang mana membuatnya kesal. Pengasuhnya tidak menyenangkan, apalagi kini dia sedang tidur terlentang dengan mulut terbuka.


“Abang…..,” ucap Ares menggoyangkan tubuh Michael.


Anak David itu tidak berhenti. “Bang…., ada bakso tuh…”


Ternyata adik dari Sebastian itu belum kunjung membuka mata. Membuat tangan jahil Ares menutup hidungnya, menjepitnya kuat sehingga. “Hah!” Michael membuka matanya seketika karena kehilangan oksigen. “Apa yang kau lakukan?”


“Bang pulang yuk, Ares mulas.”


“Kenapa memangnya jika kau mulas?”


“Abang mau cebokin Ares?”


“Udah gede masih dicebokin? Ih gak malu.”


Ares menatap sinis Michael. “Suka suka aku lah, kan aku anak orang kaya,” ucapnya menirukan suara mail dalam serial upin ipin sambil turun dari ranjang. “Ares maunya dicebokin Mommy, ayo pualng aja. Ares tau jalannya kok.”


“Emang punya duit?”


“Yailah modal tampang gini mah bisa pulang, Bang. Ayo.”


“Jangan panggil abang kenapa?” gumam Michael turun dari ranjang dan memakai jaketnya, dia masih dalam keadaan setengah sadar sehingga pikirannya terkadang setengah jalan.


Dan Ares memanfaatkan moment, sebenarnya dia bisa poop sendiri, tapi saat ini dia ingin keluar dari kamar ini. dan sebelum benar benar keluar, Ares meraih sebuah snack, tangan jahilnya memasukan buliran snack itu ke dalam mulut pengasuh yang terbuka.


“Apa yang kau lakukan?”


“Ini sudah siang, dia pasti lapar, Bang,” ucap Ares kemudian menarik tangan Michael. “Ayo keluar dari sini.”


Ares sudah cukup familiar dengan hotel, dia juga yakin wajah tampannya akan dikenali orang orang. Saat menaiki lift dia menggerutu. “Kalau tau Daddy akan bermain, aku tidak akan ikut. Aku ingin bersama Athena, kudengar Joy juga satu jenis dengannya. Akan sangat lucu jika mereka berdebat bukan?”

__ADS_1


“Kau ini bilang apa?” gumam Michael sambil mengucek matanya, layaknya anak kecil yang lucu. Padahal umurnya jauh lebih tua 5 tahun dari Ares.


Ares kembali menarik tangan Michel begitu pintu lift terbuka. Sampai matanya melotot. “Bang, ada game ares. Ke sana dulu yuk.”


Michael hanya mengikuti langkah anak kecil itu.


🌹🌹🌹🌹


Nana masih mencoba menghubungi suaminya, tapi kenyatannya tidak bisa. Yang mana membuatnya kesal setengah mati, dia memijat keningnya terasa pusing. Matanya melihat Rara dan Lily yang sedang menemani anak anaknya bermain. Sementara Oma dan Athena sedang membuat camilan di dapur.


Nana memilih untuk mencari tahu apa yang sedang mereka lakukan di sana. “Oma….?”


“Kenapa? suamimu belum menjawab telpon?”


Nana menghela napas dan mengangguk, dia sendiri merasa bersalah kepada teman temannya yang lain karena suaminya pasti akan menghancurkan pesta paskah mereka. Inilah alasan Nana selalu melarang Sebastian untuk bertemu teman temannya yang lain, dia tidak ingin suaminya mengacaukan semuanya.


Nana tidak menyalahkan Sebastian yang memang selalu seperti itu jika dengan teman temannya, mereka adalah sahabat sejak lama. Tapi jika ingin seperti itu, seharunsnya tidak melibatkan yang lainnya, dimana Rara dan Lily selalu menunggu suaminya. 


“Kenapa Aunty sedih?”


“Tidak, Sayang. Aunty hanya kesal.”


Nana mengangguk. “Aku tidak ingin dia membuat kekacauan dan membahayakan dirinya sendiri. Aku rasa jika kita bertemu lagi nanti, aku akan memasangkan borgol padanya. Tapi lebih baik tidak, biarkan mereka memiliki rencana sendiri tanpa melibatkan para istri.”


“Apa maksud Aunty Nana? Tidak mau beltemu Thea lagi?” tanya Athena dengan mata berkaca kaca. “Tidak, Sayang. Bukan seperti itu, kita akan bertemu lagi. Maksudnya Daddynya Thea dan Daddy nya Joy kalau mau bermain jangan melibatkan kita.”


“Thea suka Joy, seling seling lah main.”


“Suka? Kenapa?” tanya Nana penasaran, menatap anak yang sedang membuat campuran untuk vla. 


“Kalena bahasa Thea dan Joy sama, kami mudah saling mengelti.”


Nana menatap Oma meminta penjelasan, yang membuat Oma membuat gerakan tangan sedang bicara.


“Ah…, aksen kalian.”


“Ya, aksen kami.”

__ADS_1


Nana kembali menatap Oma. “Apa yang harus kita lakukan, Oma? Mereka harus jera bukan?”


“Jika nanti sore tidak juga datang, kita pergi bersenang senang dan tinggalkan mereka. Tidak perlu memakai pesawat yang sama.”


Nana mengangguk. “Ide yang bagus, Oma.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Sementara itu, Sebastian terbangun dan mendapati kedua temannya sedang tidur tidak teratur di berbagai sudut ruangan kamar hotel.


Mereka ingat apa yang mereka lakukan, yakni mabuk mabukan kemudian pulang ke hotel sambil membawa beberapa botol alcohol sambil bernyanyi.


Ketika mendudukan dirinya, Sebastian merasa pusing. Dia merasa sangat mual sampai ingatannya memutar tentang keberadaan seseorang. “Aduh si Aheng,” ucapnya segera membersihkan diri ke kamar mandi.


Ini sudah siang, dan dia perlu memeriksa keadaan anak anak itu. Bisa bisa Sebastian dipukul oleh ayahnya jika tidak menjaga Michael dengan baik. Apalagi niat Michael ikut ke sini untuk liburan, bukan untuk dikurung di dalam ruangan.


Setelah siap, Sebastian menendang kaki David yang berbaring di atas karpet. “David, aku akan pergi memeriksa anak anak.”


“Hmmm? Pastikan Ares makan,” ucap David kembali memejamkan matanya dan memeluk Luke yang ada di sampingnya.


“Kau akan ikut atau tidak?”


“Kau bilang akan bertanggung jawab atas semuanya.”


“Dasar,” gumam Sebastian sebelum melangkah pergi dari sana.


Jarak hotel mereka memang agak jauh, mengingat Sebastian memilih hotel yang dekat dengan klab dan bar, sementara anak anak yang dekat dengan tempat tempat yang tidak berbahaya dan berbau keluarga.


Dengan tergesa gesa, dia berlari saat sampai di hotel. Menuju kamar di lantai atas dan mengetuk pintu dengan kencang. “Kenapa tidak dibuka juga?”


TOK! TOK! TOK!


Sampai akhirnya pintu terbuka dan memperlihatkan pengasuh yang kemarin di sewa, dia terlihat sangat kacau. “Astaga, apa yang terjadi denganmu? Anak anak menjahilimu?”


“Ma… maaf, Tuan. Anak anak hilang.”


“Apa?! Bagaimana bisa?”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE


__ADS_2