Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Pertanyaan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Sebastian tidak berhenti mengusap punggung istrinya saat dalam perjalanan. Kabar itu datang dengan sangat cepat, tanpa diduga dan membuat Nana gementar. Dia tidak tahu ayahnya akan pergi secepat ini, meninggalkannya dan membuat dirinya benar benar merasakan kesendirian.


Dalam tangisan diamnya, Nana belum seratus persen percaya. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri\bagaimana ayahnya terbaring di dalam peti.


Sebastian di sana hanya bisa memeluk, dan memita kepada Hans untuk mengemudi lebih cepat.


Saat datang di kediaman orangtua Nana, sudah banyak orang di sana. Nana sudah mulai merasakan bagaimana perasaan sedih itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia gementaran, rasanya dingin apalagi ketika melihat orang orang mulai mengucapkan bela sungkawa mereka atas kematian ayahnya.


“Yang sabar ya, Nak. Dia sudah tenang di sisi Tuhan.”


“Jangan sedih, Nak. Dia mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya.”


“Ini sudah takdir, kau harus lapang dada.”


“Ayahmu tenang di sana.”


Bukannya menenangkan, itu malah membuat mata Nana terasa berkabut karena air mata yang hendak keluar. Dia menahan dirinya dengan mengatupkan bibir dan menggenggam kuat Sebastian yang ada di sampingnya.


Bagaimana suminya itu mengusap punggungnya dengan sangat lembut.


Ketika masuk, suara tangisan Rina mulai terdengar. Nana melangkah memasuki kamar ayahnya yang biasa dia tempati. Tangannya berkeringat dingin merasa khawatir, takut dan juga sedih.


Sampai akhirnya Nana kehilangan kesadarannya saat dia melihat ayahnya terbaring di sana, dengan wajah yang memutih dan mata yang tertutup.

__ADS_1


“Sayang,” ucap Sebastian yang sigap langsung menggendong Nana. Dia segera mengangkat istrinya keluar.


Tanpa mendengarkan orang orang yang berbicara, Sebastian membawa Nana keluar.


Hans terkejut melihatnya.


“Ayo pergi ke rumah sakit.”


“Baik, Tuan.”


Dalam pejalanan, Sebastian kembali berkata, “Suruh Eve mengurus semuanya, aku tidak bisa meninggalkan Nana.”


“Baik, Tuan.”


Sebastian memeluk erat istrinya, dia tidak ingin kehilangan istrinya baik jiwa maupun raganya. Dia ingin membahagiakan Nana selamanya, mengembalikan dirinya yang dulu.


🌹🌹🌹🌹


“Terima kasih,” ucap Sebastian dan masuk ke dalam.


Dia melihat Nana yang sedang mendudukan dirinya sambil menunduk menatap kuku jarinya.


“Sayang,” ucap Sebastian dan langsung memberikan pelukan, dia mencium ujung kepala istrinya. “Aku akan selalu bersamamu, jangan khawatir.”


“Aku ingin ke sana, Mas.”


“Jangan khawatir, Eve sudah melakukan semuanya. Kita akan ke sana untuk melihat dia terakhir kalinya, kau harus mengumpulkan tenaga dulu, Sayang.”


“Aku baik baik saja, Mas. Aku ingin melihat ayahku.”

__ADS_1


“Ingat, kau juga punya dia,” ucap Sebastian mengingatkan dengan cara memegang tangan Nana kemudian menempelkannya di perutnya sendiri. “Ada bayi di sini, kau tidak boleh tertekan atau berlarut larut.”


“Aku ingin melihat ayah,” ucap Nana menahan tangis.


“Kita akan melihatnya, mereka tidak akan menutup peti tanpa sepengetahuan kita, jangan khawatir.”


Nana menghela napas dalam, membuat Sebastian kembali memeluknya. “Kau memilikiku, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu, kita akan selalu bersama.”


Nana melingkarkan tangannya di pinggang Sebastian, menghirup aroma suaminya dalam dalam. Dia mencoba tenang, dia harus ingat ada bayi yang harus dia jaga. 


“Dokter bilang kamu harus minum obat, biar gak pusing. Tapi harus makan dulu, mau sama apa?”


“Sama apa aja.”


“Roti mau?”


“Mau sama sayur.”


“Tapi adanya roti.”


“Yaudah roti aja,” ucap Nana menerima suapan demi suapan dari suaminya.


Dan kunyahan Nana berhenti saat mendapati wajah Sebastian yang menatapnya, dia terpikirkan akan sesuatu.


“Kenapa, Sayang?”


“Umur Mas berapa?”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2