Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Sayang Daddy


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹


Akhirnya, Nana kini diizinkan pulang setelah memaksa pada sang suami. dia tidak ingin berlama-lama tinggal di rumah sakit. Lebih baik bagi Nana beristirahat di rumah saja dan mendapatkan suasana yang menyenangkan daripada mencium bau obat-obatan. 


Dibawa pulang oleh sang suami, dengan Arnold dan Michael yang mengikuti di belakang. Mereka pulang pagi sekali, karena Joy harus sekolah dan Nana ingin menyempatkan diri mengurusnya.


Seperti sekarang ini, Nana tengah memakaikan seragam pada bocah berusia tiga tahun itu. Sementara sang suami dan mertuanya tengah menunggu sarapan di lantai bawah yang disiapkan oleh pelayan.


“Hahahaahaha!”


Suara tawa membuat Joy mengalihkan pandangannya pada jendela kamarnya.


“Kenapa?” tanya Nana yang sedang memakaikan dasi pada sang anak.


“Dengel cuala uncle.”


“Uncle Mike memang sedang bermain dengan Karina.”


“Uncle nda akan pulang kan, Mom?”


“Tidak, Uncle pulangnya nanti malam. Jadi sepulang sekolah, Joy bisa bermain dengannya.”


Joy mengangguk dan kembali menatap sang Mommy yang sibuk merapikan pakaiannya. Salah satu tangan Joy terangkat untuk mengelus pipi Nana. “Dangan cakit agi ya.”


Nana tersenyum, dia mencium tangan putri tersayangnya itu. “Minta kiss.”


Joy langsung menurutinya dengan memberikan kecupan di dahi sang Mommy.


Membuat Nana tertawa saking gemasnya. “Tunggu Mommy ambilkan minyak wangi dulu ya.”


Joy mengangguk. Dan saat sang Mommy membawa minyak wangi untuknya, Joy melangkah ke arah jendela. dengan menaiki sofa, dia mengintip keluar sana. Dari jendelanya, dia bisa melihat halaman depan rumah Karina, dimana ada Michael yang sedang bermain dengan anak perempuan itu.

__ADS_1


Joy mengerucutkan bibirnya, dia ingin bergabung tapi mereka bermain kejar-kejaran dan sesuatu yang melelahkan lainnya. Unclenya juga selalu kehilangan perhatian padanya, hanya ada Karina.


“Joy Sayang, sedang apa?”


“Ndaa…,” ucap Joy segera menuruni sofa dan berlari pada sang Mommy; sambil merentangkan tangannya.


Nana yang paham akan hal itu segera menyambut anaknya dengan pelukan, kemudian berbisik, “Banyak yang masih suka dengan Joy, jangan sedih seperti itu.”


Joy menganggukan kepalanya. “Mam cama apa?”


“Pancake.”


“Joy au dua tumpuk ya.”


Nana memutar bola matanya, tapi di satu sisi dia merasa senang dengan sang anak yang selalu melampiaskan pada makanan jika sedang sedih. Setidaknya anaknya tidak kelaparan saat sedih.


🌹🌹🌹🌹🌹


“Michael! Ayo ke sini dan sarapan!” teriak Arnold pada putranya itu.


“Kau selalu lupa waktu jika bersama Karina. ajak Joy bermain juga.”


“Joy selalu tidak mau, dia bilang bermain denganku dan Karina membuatnya lelah.”


“Maka lakukan permainan yang tidak membuatnya lelah.”


“Apa? Joy hanya selalu mengajak makan,” ucap Michael.


Membuat Arnold menjitak kepala putra bungsunya, dia kesal. Dan yang diinginkan Arnold adalah memberi kebahagiaan untuk sang cucu, melewati anaknya. Mengingat Joy sangat suka jika bermain dengan Michael.


“Ajak dia bermain, dia keponakanmu.”


“Iya, Dad,” ucap Michael masuk ke dalam, dia melangkah menuju ruang makan dimana anggota keluarga Holtzman ada di sana. Mereka semua belum makan, kecuali bocah berusia tiga tahun yang sudah memakan makananya lebih dulu.


Membuat Michael gemas, dia menyapa, “Hallo, Joy.”

__ADS_1


“Hallo, paman,” jawab Sebastian dengan nada lucu.


Namun itu malah membuat semua orang di sana menatapnya horror. 


“Apa? Aku hanya menjawabkannya untuk putriku. Duduk dengan benar, Aheng.”


“Jangan memangilna Aheng!” teriak Joy tidak suka.


“Ck, kau lupa kalau Daddy yang membelikanmu permen?”


“Mom, uncle lum dapat pancake na.”


“Daddy juga belum,” ucap Sebastian mendebat sang putri, dia tidak suka kalau Joy menaruh perhatian lebih pada yang lain, apalagi pada Michael yang mengacuhkannya. “Daddy dulu.”


“Uncle duwu, kan uncle acih keci. Daddy udah ua.”


“Hei, makannya Daddy butuh lebih banyak dan lebbih dulu.”


“Tau malu dong, maca daddy duwu.”


Nana yang melihat pertengkaran itu menghela napasnya, membuat anggota keluarga di sana langsung diam.


Arnold berdehem. “Joy, ingin berangkat bersama dengan Uncle mu? Kakek akan mengantarkannya?”


Joy terdiam, dia diam-diam menatap sang Daddy yang memalingkan wajahnya. Merasa bersalah, dan juga takut tidak mendapatkan banyak camilan dari sang daddy. “Nda ah, cama Daddy aja. Yuk, Dad.”


“Hilih, pasti ada maunya.”


“Joy cayang daddy.”


“Yaudah ayo, hehehe.”


🌹🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2