
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹JANGAN LUPA JUGA BUAT FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Kau sudah mulai berkemas?” tanya Arnold saat mereka sedang makan bersama.
Sebastian menatap ayahnya, seolah memebri isyarat kalau ini bukan saatnya membicarakan hal itu, apalagi Nana baru saja kehilangan.
“Kenapa?” tanya Arnold dengan polosnya menatap Sebastian.
Dan pandangannya teralihkan saat dia mendengar Michael batuk. “Mike Sayang, makan dengan pelan. Apa kau suka?”
Mike mengangguk.
“Wah, Nana, kau benar benar koki yang hebat. Berterima kasihlah pada kakak iparmu.”
“Thank you.”
“Aku senang kau menyukainya.”
‘Jadi, Bas…,” ucapan Arnold kembali ke topic pembicaraan. ‘Kau harus pindah, atau kau paham aapa yang aku maksud.”
“Bisakah kita tidak membahasnya sekarang? Mari menikmati makan malam ini dengan penuh ketenangan.”
Dan saat Arnold hendak melawan kata kata Sebastian, Nana lebih dulu berucap, “Kami akan pindah.”
“Ya?” tanya Arnold dan Sebastian secara bersamaan.
“Aku akan ikut suamiku ke Amerika dan menetap di sana.”
“Oh Sayang, kau tidak perlu memaksakan jika tidak ingin. Tidak apa untuk berjauhan, aku akan pulang dua minggu sekali,” ucap Sebastian mengingat bagaimana Nana sangat mencintai tempat ini.
“Tidak apa, aku akan ikut.”
__ADS_1
Yang mana hal itu membuat Michael tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum, Mike? Kau senang kakakmu pindah ke Amerika/” tanya Arnold.
Mike mengangguk. “Karena aku tidak bisa bermain dengan Sebastian, aku akan bermain dengan keponakanku.”
“Jangan berharap, kau tidak bisa melakukannya,” ucap Sebastian.
Yang mana membuat Nana segera mencubit paha suaminya itu.
🌹🌹🌹🌹
“Sayang, apa kau yakin dengan keputusan itu?” tanya Sebastian sambil memeluk Nana saat keduanya hendak tidur.
Nana yang membelakangi itu memudahkan Sebastian untuk memeluk perut ratanya dari belakang, mengusap sambil memberikan ciuman pada tengkuk Nana. “Sayang, kau yakin akan ikut pindah denganku ke Amerika?”
“Kenapa tidak?” tanya Nana sambil membalikan tubuhnya menghadap sang suami.
Yang mana membuat Sebastian menelan ludahnya kasar. Untuk yang kesekian kalinya, dia jatuh pada pesona Nana yang sangat manis, dan juga cantik.
“Mas?”
“Kenapa liatin aku kayak gitu?” tanya Nana. “Aku balik badan aja lagi.”
“Eh, jangan dong,” ucap Sebastian menahan bahu Nana untuk tidak membelakanginya.
Samoai mereka akhirnya bertatapan, Sebastian perlahan mengusap pipi istrinya dan sampai di dagu. Sebastian mengusapnya di sana kemudian memberikan ciuman lembut di bibir istrinya. “Apakah kamu yakin? Tinggal di sana berarti kita akan menetap, Sayang.”
Nana mengangguk.
“Kecil kemungkinan untuk kau bertemu kampung halamanmu lagi.”
Nana kembali mengangguk.
“Kau akan meninggalkan semua ini?”
__ADS_1
“Semua kenangan itu aku bawa di dalam hatiku, jangan merasa bersalah atau sedih untukku, Mas. Jangan buat aku menangis.”
“Tentu saja aku tidak akan pernah membuatmu menangis,” ucap Sebastian memberikannya pelukan.
Sampai pelukan mereka terhenti karena Sebastian mendengar suara perut dari istrinya. Yang mana membuatnya mengerutkjan kening. Dan nana membalasnya dengan senyuman polos.
“Kau lapar?
Nana mengangguk.
“Akan aku bangunkan pelayan.”
“Jangan,” ucap Nana menahan tangan Sebastian. “Aku ingin memasak sendii,” ucap Nana menahan Sebastian yang hendak pergi.
“Ingin memasak sendiri?” tanya Sebastian memastikan.
“Iya,” ucap Nana sambil mulai bangun.
“Tapi, Sayang…, kau tidak bisa melakukan itu.”
“Kenapa?”
“Itu gunanya pelayan bukan?”
“Mas, ayolah. Aku tidak apa apa, aku sedang tidak butuh dilayani saat ini.”
“Baiklah, tapi aku ikut.”
“Aku tidak melarang,” ucap Nana yang membuat Sebastian bergegas untuk mengikuti istrinya itu.
“Apa yang ingin kau masak, Sayang?”
“Tentu saja makanan, apa yang Mas harapkan jika seseorang lapar?”
Sebastian terdiam saat menuruni tangga, dia menarik napas dalam kemudian berkata, “Akhirnya…. Kau kembali Sayabgku.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE