
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YAAA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK : @REDLILY123🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA🌹
"Sayang, bagaimana bisa kau tahu?" Tanya Sebastian masih tidak percaya.
Dia menarik napasnya dalam sebelum kembali berkata, "Kamu udah tahu?"
"Udah tempe," ucap Nana mencoba mencairkan suasana, apalagi melihat wajah suaminya yang tegang membuat Nana gemas sendiri.
"Sayang, aku serius."
"Iya aku juga."
"Kamu kok bisa tahu sih?"
"Mas aku gak buta kali, aku lihat gimana interaksi kalian. Keliatan jelas."
"Jelas kalau aku mantan dia?"
Nana mengangguk, dia menegakan tubuhnya. Yang mana membuat Sebastian segera menggenggam tangan istrinya, pikirnya Nana marah dan kesal.
Tapi Nana bukan orang yang mudah marah dan kesal, dia pendengar yang baik sebelum mengambil keputusan.
"Karena ada dua kemungkinan, kalian saling tukar pandang dengan risih. Kalau gak mantan pacar ya salah satu kalian punya utang yang belum di bayar."
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu tau?" Tanya Sebastian semakin mengeratkan pegangan tanggannya, dia takut istrinya menjauh dan marah.
Meskipun Sebastian tidak melihat kekecewaan di wajah sang istri, tapi dia tidak pernah tahu isi sebenarnya hati sang istri.
__ADS_1
"Sayang? Kenapa gak bilang sih?"
"Aku penasaran aja sampe kapan kamu gak bakalan bilang," ucap Nana dengan santai.
Yang mana malah membuat Sebastian panic, pikirnya Nana akan marah dan meninggalkannya. Maka darinya dia semakin mendekat. “Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud membohongimu.”
Nana hanya mengangguk.
“Oke, aku akan memasak lagi.”
“Sayang….,” rengek Sebastian. “Maafkan aku.”
“Mas, masa lalu bukan masa depan. Kalau kamu gak cerita pasti ada alesannya ‘kan?”
Sebastian mengangguk. “Tapi kamu gak marah ‘kan?”
“Enggak, kesel aja.”
“Kalau kamu gak marah, buktiin dulu.”
“Hah?”
Tanpa aba aba, Sebastian langsung mengangkat Nana layaknya karung beras.
“Mas!” teriak Nana spontan. “Turunin aku gak.”
“Enggak mau, katanya gak marah. Jadi kita buktiin oke?”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Lucille tertawa tidak percaya, melihat pengasuhnya mendapatkan riwayat telpon dari Hans. Dia tertawa kesal. “Belum juga satu hari, kau sudah berani mengkhianatiku.”
__ADS_1
“Bukan begitu, Nyonya. Tuan Hans hanya menanyakan keadaan Tuan Arnold, dia juga hanya ingin mengetahui keberangkatan anda karena Tuan Sebastian akan segera pulang.”
Lucille terdiam. “Dia hanya ingin aku pergi?”
Dan pembantu itu tahu kalau Lucille adalah wanita bodoh yang mudah ditipu. Terlepas dari itu, sang pengasuh tidak bisa membuat rencana Lucille berjalan mulus apalagi itu menyangkut nyawa Arnold.
“Mohon percaya pada saya, Nyonya. Saya hanya pengasuh yang mencari uang, dan Tuan Hans hanya bertanya tentang keberangkatan anda.”
“Kapan Sebastian akan pulang?”
“Saya dengar hari minggu nanti. Saya hanya diminta memberi kabar jika anda belum pulang ke Amerika hari minggu nanti.”
Lucille menyeringai, “Ternyata dia hanya ingin aku pergi? Beritahu dia kalau aku akan pergi hari sabtu.”
“Ya?” pengasuh itu memasang wajah pura pura terkejut.
Yang mana membuat mata Lucille melotot. “Lakukan saja, oke? Nanti gajimu akan aku tambah.”
“Baik, Nyonya.”
“Sekarang persiapakan Michael, dia akan tidur bersama ayahnya di rumah sakit.”
“Baik, Nyonya.”
Lucille kembali masuk ke dalam kamarnya, dia memilih pakaian yang bagus. Saat tangannya sedang memilih milih pakaian di dalam koper, tangan Lucille berhenti sesaat, dia tidak ingin jadi orang jahat, tapi semuanya sudah terlanjur. Lucille ingin anaknya bisa mendapatkan segalanya. Jadi dia akan melakukannya, dengan botol kecil yang ada di tangannya.
“Maafkan aku, Arnold. Kau akan membuangku begitu tahu Michael bukan anakmu.”
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1