
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Beberapa Tahun Kemudian……
“Joy! Jangan lari lari!” teriak sebuah suara dari arah dapur ketika melihat anak dibawah lima tahun itu berlarian di tangga bersama dengan tetangganya yang selalu menjaganya. Karina nama anak yang kini usianya sudah 11 tahun, mengasuh bocah tiga tahun yang tidak bisa diam.
Nana yang sedang memasak itu hanya menghela napas. “Kak Karina?! Gendong saja jika dia melawan, jangan main di tangga.”
“Oke, Aunty.” Karina langsung menggendong Joy supaya bisa dengan mudah dia bawa ke ruang bermain.
Anak itu berontak tidak menginginkannya, dia ingin bermain di tangga dan berakting seperti putri salju. Yang mana membuat Nana menghela napasnya dalam, anaknya itu tidak pernah bisa diam. Membuatnya sedikit menunda memiliki anak kedua, apalagi Sebastian juga menginginkan hal yang sama.
Dia ingin focus pada pertumbuhan Joy, Sebastian akan memberinya adik jika Joy sendiri yang memintanya. Dan untuk sekarang, dia tidak meminta. Malah menolaknya.
Mendapat telpon membuat Nana berkata, “Tolong selesaikan ini.”
“Baik, Nyonya.”
Well ya, selama beberapa tahun ke belakang, Nana lebih banyak menuruti apa keinginan Sebastian. Seperti membeli dua unit lagi perumahan kemudian membangunnya hingga menjadi rumah yang sangat besar.Â
Terdapat banyak pelayan yang membantu Nana di sini, jadi dia tidak terlalu repot. Kecuali dalam mengasuh, Joy tidak pernah mau menerima orang baru. Hanya Eve yang sering mengasuhnya. Hanya saja, saat ini Eve kebetulan sedang keluar membeli apa yang Nana inginkan.
Panggilan dari luar negara membuat Nana buru buru mengangkatnya. “Lily?”
“Hai, bagaimana keadaan di sana?”
“Aku masih berkemas, aku pikir aku akan datang terakhir. Sebastian ada rapat.”
“Uh… berjanjilah ini tidak akan batal. Aku sudah menunggu moment ini lama sekali, Nana.”
“Tentu tidak.” Nana tertawa. “Rara bisa mengirimiku bom jika aku tidak jadi datang.”
“Bagus, aku dengar kita akan diajaknya ke desa Guarda.”
“Oh astaga….,” gumam Nana.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Lily dari sana.
“Bukankah Guarda itu hutan? Kau tahu bagaimana sifat Joy, dia pasti akan memanjat.”
Seketika Lily tertawa karena kalimat Nana. “Astaga! Hahahah! Kau keterlaluan, dimana bocah itu?”
“Sedang bermain, tidak bisa diganggu.”
“Baiklah. Aku akan berkemas lagi. Aku hanya ingin mengatakan jangan lupa bawa sambal, Oma menginginkannya.”
“Akan aku lakukan.”
“Bye.”
“Bye.”
Nana tertawa senang, dia melangkah kembali ke dapur melihat sambal yang sedang dia masak. Memang Oma selalu memuji sambal buatannya, selama beberapa bulan terakhir Nana selalu mengirimkan sambal ini pada Oma. Dan akan lebih seru jika memasak langsung juga di sana, jadi Nana akan mempersiapkan semuanya.
HATCUH! HATCUH! HATCUH!
Nana tertawa mendengar suara bersin anaknya.
“Hahahahah!”
🌹🌹🌹🌹🌹
“Daddy pulang! Joy?!”
Teriakan sang Daddy membuat Joy berlari dari lantai dua diikuti oleh Eve yang terlihat sangat khawatir. Sementara bocah tiga tahun itu tidak menghiraukannya sama sekali.
HAP. Joy masuk ke dalam pelukan Sebastian dan menghujani permukaan wajah daddy nya dengan ciuman. Kemudian anak itu terkekeh. “Mau di gendong di pundat.”
“Hadeh,” gumam Sebastian menggendong Joy di pundaknya, membuat anak itu tertawa sambil memegangi kepala ayahnya dengan penuh kebahagiaan. Sebastian hanya bisa menghela napasnya sambil melangkah menuju ke lantai dua menemui istrinya yang berada di kamar.
“Hai Sayang.”
“Mas, aku sudah siapkan air untukmu,” ucap Nana yang baru saja keluar dari kamar mandi, dia mendekat pada suaminya kemudian memberikan kecupan di bibir.
“Eohhhh,” ucap Joy menatap keduanya dengan tatapan aneh, dia melihatnya dengan jelas apalagi berada di punggung sang daddy.
__ADS_1
“Kenapa kau mengatakan itu, bocah?”
“Kemarilah, Daddy mu harus mandi.”
“No no no,” ucap Joy yang malah memeluk kepala Daddy nya. “Mau itut.”
Nana menghela napasnya dalam. “Kapan dia akan mengatakan huruf K dan R dengan benar?”
“Sabarlah, Sayang. Ayo, akan Daddy mandikau kau, akan Daddy gosok pungungumu.”
“Aaaaa! Tidak mau!” teriak Joy berusaha berontak, tapi sia sia. Sang Daddy membawanya ke dalam kamar mandi. “Siapkan makan malamnya ya, Sayang.”
Nana hanya tertawa melihatnya. Memang tidak mudah membesarkan anak, apalagi Joy yang sifatnya adalah perpaduan dirinya dan Sebastian. Terkadang Nana frustasi dengan kalimat yang dikeluarkan Joy, selalu saja ada alasan.
Kening Nana berkerut saat seorang pelayan membiarkan seseorang masuk. “Siapa yang datang?” tanya Nana heran.
“Tuan Arnold bersama Tuan Mike, Nyonya.”
“Astaga, Mike!” teriak Nana yang melangkah lebar melihat adiknya itu sudah tumbuh lebih besar dari sebelumnya. Nana merentangkan tangannya yang membuat Michael sontak masuk ke dalam pelukannya. “Bagaimana kabarmu?”
“Kak Nana, aku sangat merindukanmu.”
Nana tertawa, memang selama tiga tahun ini, Michael belajar di asrama hingga sulit bertemu dengannya. Bukan main main, dia belajar di luar negara bagian.Â
“Aku dengar kau dan Sebastian akan pergi ke Swiss, dan Mike sedang liburan. Bisakah kalian mengajaknya?”
“Aku akan menjaga Joy dengan baik, Kak.”
“Tentu saja, kau boleh ikut.”
“Yes! Tapi.., apa Kak Sebastian akan mengizinkanku?”
“Hei, itu urusan gampang,” ucap Nana tersenyum.
Sementara itu, Sebastian yang sedang mandi merasakan merinding di area tengkuknya. Dia menelan ludahnya kasar dan bergumam, “Kenapa aku merasa akan bertemu dedemit? Pertanda apakah ini?”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1