Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Si Janda


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹


🌹Terus follow igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Selamat membaca, emak sayang kalian.🌹


Sebastian menatap takut takut pada istrinya yang terlihat marah.


“Sayang….,” panggilnya. “Maaf ya.”


“Jangan gitu lagi, Mas, jangan kayak anak kecil.”


“Iya, maaf ya.”


Nana tidak menjawab lagi, dia sedang sibuk membereskan pakaian ke dalam tas. 


“Sayang, nanti aja diberesin sama pelayan di sini.”


Nana tidak terbiasa dengan itu, lebih baik melakukannya sendiri jika masih bisa dilakukan. “Gak papa.”


“Jangan marah lagi ya.”


“Iya.”


Dan jawaban singkat singkat dari istrinya membuat Sebastian semakin gelisah, dia berjalan keluar kamar untuk menelpon David.


“Hallo? Apa?!” teriak David yang mengangkatnya, dia kesal karena terus diganggu oleh Sebastian, apalagi waktu beda negara.


“David, aku butuh bantuan.”


“Aku butuh tidur.”


“Kumohon bantu aku, nanti akan aku beri sesuatu.”

__ADS_1


“Hah! Kau pikir aku mudah disogok?!” teriak David tidak terima. “Apa yang kau butuhkan?”


Sebastian tertawa, tidak pernah ada yang bisa menolak tawarannya.


“Nana sedang marah karena aku melakukan hal yang konyol, aku harus bagaimana?”


“Kau melakukan apa?”


“Tidak akan aku beritahu. Cepat katakan aku harus bagaimana?” tanya Sebastian yang tidak sabaran.


“Dia marah karena kau konyol, maka jadilah pria manly.”


“Hah?”


“Tunjukan kejantananmu.”


“Sialaaan! Kau menyuruhku menunjukan alat kel@minku?”


“Oke, baiklah. Nanti akan aku berikan popok untukmu. Bye.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Nana menatap sekitar tempat dia berdiam di sini selama beberapa hari terakhir yang membuat Nana memiliki banyak kenangan di sini. Melihat istrinya menatap villa yang pernah ditinggalinya membuat Sebastian memeluknya dari belakang. “Sayang, kalau kamu masih betah kita bisa satu ronde lagi.”


Nana yang sudah terbiasa dengan sikap Sebastian yang ternyata agak mesum itu hanya menggeleng. “Enggak, udah ayok berangkat.”


“Jangan sedih gitu dong.”


“Gak sedih,” ucap Nana melepaskan pelukan suaminya yang melingkar di pinggangnya. “Ayo kalau mau berangkat.”


“Gak tahan ya mau suasana baru?”


Nana memilih diam sebagai jawaban, dia mengambil tas miliknya.

__ADS_1


“Jangan, Sayang,” ucap Sebastian mengambil alih tas tersebut. “Kan ada Hans sama Eve yang bawain, kamu jangan bawa yang berat berat, bawanya hati aja dan kasih sayang.”


Nana tidak bisa berkata kata, kadang dia bingung dengan apa yang dikatakan Sebastian. Sebagian dari dirinya mengatakan itu hanya omong kosong belaka, tapi sisi lainnya bertanya dalam hati, ‘Seperti inikah orang kaya bicara?’


Karena Sebastian tidak ingin diganggu oleh Eve dan Hans, jadi dia membawa mobil sendiri. 


Dalam perjalanan, tangan nakal Sebastian menyentuh paha istrinya dan mengusapnya di sana.


Nana tidak merespon dengan perkataan, tapi dia menyingkirkan pelan tangan suaminya. Yang dianggap Sebastian sebagai godaan. Jadi dia kembali menyentuh paha istrinya dengan lembut.


Untuk yang kedua kalinya, Nana menyingkirkannya dengan agak kasar.


Sebastian masih mengira itu godaan, dia kembali menyimpan satu tangannya di paha sang istri sambil menyetir.


Dan akhirnya Nana menghela napas kemudian berkata, “Mas, janda sekarang semakin di depan loh.”


“Hah?” tanya Sebastian tidak paham.


“Kalau Mas mati, nanti aku jadi janda.”


“Kok mati sih?”


“Makannya nyetir yang bener, nanti aku jadi janda. Mau?”


Sebastian menggeleng. “Mana ada janda, gak boleh, suaminya juga masih ada.”


“Mas, mau tau gak kenapa janda semakin terdepan?”


“Gak mau tau, gak mau,” ucap Sebastian langsung menarik tangannya dari paha sang istri. “Jangan bahas janda lagi, aku gak suka.”


🌹🌹🌹🌹


To BE Continue

__ADS_1


__ADS_2