
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
“Joy! Joy!” teriakan dari arah luar membuat Joy menoleh, dia turun dari ranjang rumah sakit dan berdiri diambang pintu. Manik bulatnya melihat sang Daddy yang melangkah menjauh sambil memanggil namanya.
Karena kasihan, Joy menoleh pada wanita yang ada di atas ranjang. “Joy pelgi duwu ya. Makacih tokelatna.”
“Sama sama. Bye, Joy.”
“Bye uga,” ucap bocah itu kemudian berlari mengejar sang Daddy yang mencarinya sepanjang lorong. “Daddy….,” panggilnya.
Yang sontak membuat Sebastian menoleh, dia membulatkan maniknya tatkala melihat sang putri yang berlari ke arahnya sambil merentangkan tangan. Jangan lupakan wajahnya yang penuh dengan cokelat.
Alih alih merentangkan tangannya menyambut kedatangan sang putri. Sebastian justru malah menyilangkan kedua tangannya di dada dengan tatapannya yang berubah menjadi tajam. “Kau dari mana saja, Joy?! Jangan buat Daddy panic seperti itu, jangan pergi tanpa alasan. Jika Daddy bilang tunggu, maka kau harus tunggu.”
Seketika Joy berhenti melangkah, dia mengadah menatap Sebastian dengan menahan tangisannya.
“Apa? Joy salah, jangan seperti itu lagi. Jangan membuat Daddy panic seperti itu.”
“Daddy galak,” ucap Joy kemudian berlari melewati sang Daddy.
“Hei, hei, mau kemana?” tanya Sebastian menatap pantat sang putri yang bergoyang tidak karuan. “Joy, hey. Jangan menangis.”
Sebastian sedikit panic tatkala dia mendengar suara isak tangis dari anaknya itu. “Joy, hey. Tunggu Daddy. Jangan menangis seperti itu, Nak.”
BRUK! Joy jatuh tengkurap tatkala dia berlari kencang. Tangisannya pun semakin meledak.
Sebastian berdecak. Dia segera menggendong sang putri.
“Nah kan jatuh. Makannya kalau Daddy bilang itu didengarkan, Joy. Ini kupingnya masih berfungsi ‘kan?”
“Hiks…. Maaf dong.”
“Minta maafnya yang betul. Tatap mata Daddy.”
Joy yang belepotan dengan cokelat itu menatap sang Daddy. “Maaf.”
“Jadi tadi dari mana?”
“Dali anu… itu ada Aunty yang unya makanan.”
__ADS_1
“Joy, jangan mendekati seseorang meski mereka punya makanan yang kau sukai. Bagaimana jika mereka adalah penculik?” tanya Sebastian sambil melangkah. Salah satu tangannya merogoh sapu tangan untuk membersihkan wajah sang anak. “Jangan ya.”
“Api yang tadi ukan penculik kok.”
“Iya, bagaimana jika suatu saat bertemu penculik?”
“Joy kan pintal.”
“Iya pintar. Tapi harus hati hati. Siapa tau yang tadi juga penculik. Dia hanya modus.”
Joy menggeleng. “Alau penculik, nanti kan bica ditangkap. Yang tadi uga ceding cakit, jadi nda bisa nyulik.”
Sebastian menghela napasnya dalam. “Turunan Nana, harus Nana yang ngomong.”
🌹🌹🌹🌹
Berniat jalan jalan di taman dan menikmati angin segar. Namun, begitu Joy melihat ada manusia lollipop di sebrang jalan, dia meminta sang Daddy untuk mengajaknya ke sana. Rengekan demi rengekan di dengar oleh Sebastian.
“Nda jajan kok, liat aja.”
“Joy suka kibul ah, masa liat doang. Nanti lihat ada lollipop ngacai.”
“Catu aja deh,” ucap bocah yang sedang dituntun oleh pria bertubuh besar.
Dia mengadah, bernegoisasi dengan sang Daddy yang terus mengajaknya melangkah. “Joy cape jawan jawan cini mulu, Dad. Au ke cana.”
“Capek ini kaki Joy mutel mulu.”
Sebastian menunduk, dia bahkan berhenti melangkah untuk bisa melihat wajah sang anak yang mengajaknya bernegoisasi.
“Yaaa…, anti Joy nda bobo cama Mommy lagi.”
“Jangan kibul ah.”
“Ndaa ibul, anti Joy bobonya cama Bibi aja, nda cama Mommy.”
Bocah gembul itu mengadah, masih mencari kesempatan agar sang Daddy mengajaknya ke tempat itu. “Ya, Dad? Au itu aja.”
“Liat aja ke sana?”
“Makan dikit acuhhhhh…”
Sebastian tertawa, dia gemas dengan tingkah putrinya. Membuatnya menggendong bocah itu seketika.
__ADS_1
“Bisa aja dasar bocah,” gumamnya menimang Joy dan membuatnya merasa kegelian dengan menggesekan kepala pada perut bocah itu.
“Hahahahaha! Geli ih, Daddy! Ayo emam.”
“Iya, emam mulu. Tapi janji ya jangan tidur dengan Mommy.”
“Iya.”
Pada akhirnya, Sebastian selalu kalah dengan pesona anaknya. Dia kembali mengajak sang anak ke sebuah cafee lollipop.
“Mau apa?”
“Kue katang aja.”
“Satu ya, kan udah janji.”
“Lolipopnya catu,” ucap bocah itu memohon, tidak lupa dia memberikan kecupan di pipi sang Daddy sehingga Sebastian berdehem.
“Okedeh,” ucapnya pada akhirnya. “Kue kacang dua dan satu lollipop mini. Tolong antarkan.”
“Baik, Tuan.”
Sebastian berbalik menatap ke sekeliling. “Mau duduk di mana?”
“Cana,” tunjuk Joy pada salah satu sofa di dekat jendela.
Membuat Sebastian memilih ke sana. Namun, ketika Sebastian duduk. Di merasa tidak nyaman dengan perutnya yang terasa begah. Dia menatap sekeliling, cafee ini penuh dengan anak anak dan orang tua mereka.
“Tenapa, Dad?” tanya Joy.
“Tidak apa apa,” jawab Sebastian. Batinnya berkata, “Aku rasa tidak apa apa kentut sedikit, lagipula aku biasanya tanpa suara.”
Dan setelah keputusan itu, terdengar bunyi… DUUUUUTTTTTT!
Sontak semua mata melihat pada arah Sebastian, membuat pria tampan itu kelalapan dan reflex berkata, “Hahahahaha! Joy pinter ya, sehat. Perutnya kembung? Sini, Sayang. Daddy usap punggungnya.”
🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1