
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹
🌹IGEH EMAK JANGAN LUPA DI FOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA.🌹
Sebastian membuka matanya, hal pertama yang dia dengar adalah suara klakson bus sekolah. Membuatnya menggeram tertahan, kenapa lingkungan ini begitu berisik? Bahkan tidak jarang Sebastian mendengar suara tukang ice cream bersama tukang roti keliling. Sebastian benar benar merasakan vibes lingkungan Indonesia, hanya saja tidak seramai itu dan hanya beberapa orang yang diizinkan untuk masuk ke sini.
“Mas, bangun!” teriak Nana dari arah dapur. “Mas!”
Sebastian bergerak. “Iyaaaa…..,” jawabnya malas, bergadang semalaman membuat Sebastian kelelahan. Dia dan Nana kembali beraktivitas panas, tapi hal itu tidak membuat Nana bangun terlambat akhir akhir ini. ada apa dengannya? Bagaimana bisa istrinya sekuat itu melebihi dirinya yang seorang pria?
“Mas!”
“Iya, Sayang.”
“Aku tidak mendengar suara dirimu sedang mandi, cepat mandi.”
“Iya, Sayang.”
Bergegas membersihkan diri, memakai pakaian yang sudah disiapkan sang istri kemudian keluar untuk sarapan. Dilihatnya Nana yang sudah segar, tampilannya begitu memukau dengan bibir yang sudah diolesi lipgloss tipis.
“Kau sudah mandi, Sayang?”
“Mas bosan hidup ya menanyakan itu padakku?”
Sebastian tertawa, dia memberi ciuman di kening istrinya saat membalikan badan.
“Ternyata benar, mengurangi pelayan membuat kita terbebas. Eve tidak datang?”
“Dia akan datang saat kau pergi, Mas,” ucap Nana kemudian menyimpan makanan di meja.
“Beberapa mobil yang lewat selalu membangunkanku, Sayang. Bagaimana kalau kita perluas rumah kita? Aku merasa insecure jika bersama dengan Hans.”
Nana menatap bingung, dia duduk di kursi hadapan suaminya. Insecure pada Hans? Apa yang dipikirkannya, jelas Sebastian menang, apalagi dalam segi fisik.
“Insecure karena apa? Umur?”
“Ish Sayang bukan itu,” ucap Sebastian kesal. “Aku insecure dengan dia yang memiliki rumah besar, dan kita?”
“Lalu apa yang Mas inginkan? Pindah ke rumah yang lebih besar?”
“Kau mau?”
“Tidak, aku akan di sini saja. aku nyaman dan tidak takut karena rumah ini mungil, bagaimana jika rumah besar itu berhantu karena kita tidak memenuhi semua ruangannya?”
“Sayang, apa kau bercanda?”
“Apa aku terlihat sedang bercanda, Mas?”
Sebastian segera berdehem. “Maaf, kita akan tinggal. Aku hanya belum terbiasa.”
__ADS_1
Tidak ingin membuat keributan, Sebastian mulai memakan sarapannya. Sampai dia sadar begitu banyak bahan makanan yang dikeluarkan dari dalam kulkas. “Apakah ada acara? Kenapa begitu banyak makanan?”
“Eum? Michael akan datang nanti sore, aku akan menyipkan beberapa makanan, Mas.”
“Daddy tidak mengatakan apapun padaku.”
“Michael datang bersama pengasuhnya, dia ingin melihat rumah baru kakaknya.”
Sebastian kembali berdehem, kini dia mulai menerima keberadaan Michael. Perusahaan sudah di tangannya, usaha Arnold yang tersisa hanyalah lapangan golf dengan asset villa dan rumah besar yang ditempatinya saat ini. sebastian rasa itu cukup untuk Michael.
“Jangan bersikap kasar pada anak kecil itu lagi.”
“Tentu tidak, Sayang. Aku bahkan akan membawakan makanan kesukaannya, buah buahan.”
“Michael tidak suka buah buahan.”
“Benarkah? Itu bagus, dia tidak akan meminta milikku.”
Ya, walau bagaimanapun masih ada rasa iri dari Sebastian untuk Michael.
🌹🌹🌹
Sesuai janji, Michael datang di sore hari setelah dia sekolah. Matanya takjub melihat rumah cantik milik Nana.
“Hallo, Nana.”
“Astaga, Mike. Aku tidak tahu kau datang,” ucapnya yang sedang menyiram tanaman di halaman depan.
“Rumahmu sangat mungil.”
Michael menganguk. “Iyup, ini sangat kecil. Tapi ini juga bagus, selama kau suka di sini.”
Nana tersenyum. “Ayo masuk.”
Mengggenggam tangan Nana, Michael masuk dan melihat rumah mungil milik kakaknya. Mungkin tidak sebesar miliknya, tapi ini benar benar nyaman.Â
“Ini sangatlah bagus, ah iya, aku membawakan jelly untukmu.”
“Terima kasih.” Nana menerimanya. “Kau ingin makan camilan sebelum memasak makan malam?”
“Eum…. Aku ingin menyentuh perutmu, boleh?”
Nana mengangguk. “Kemarilah.”
Michael memang suka memegang perut Nana, dan merasakan pergerakan dari dalam sana. Senyumannya mengembang, mengingatkan Nana pada sosok ibunya yang meninggal karena tertabrak mobil.
Ada rasa bersalah di hati Nana, dia merasa dirinya ikut andil dalam kematian Lucille. Apalagi dia meninggalkan anak setampan dan juga sebaik Michael, hanya helaan napas yang bisa Nana lakukan.
Inilah sebabnya Nana selalu berusaha membuat Michael nyaman, dia tidak punya sosok ibu. Nana tahu betul bagaimana rasanya.
“Woaah…. Dia menendang, apakah dia suka olahraga? Bukankah dia perempuan?”
__ADS_1
“Ya, dia perempuan. Kau mau menjaganya saat dia sudah lahir?”
“Of course, aku akan menjaganya. Aku akan menjadi uncle yang sangat baik padanya.”
Dan saat mereka sedang berbincang, terdengar ketukan pintu dari luar.
“Masuklah,” ucap Nana yang sudah tahu siapa itu.Â
Jenni masuk bersama dengan putrinya. “Oh hai, Tuan Muda Michael, kau di sini?” tanya Jenni.
“Aku akan makan malam di rumah Nana.”
“Ide yang bagus, bolehkah aku bergabung?”
“Sure,” jawab Michael memperhatikan anak gadis yang lebih banyak menatap gadget di tangannya.
Membuat Jenni segera merebutnya. “Karina, beri salam.”
“Hallo, maaf aku tidak sadar kau ada. Aku Karina.”
“Aku Michael, kau bisa memanggilku Mike.”
“Aunty Nana, boleh aku memegang perutmu?” tanya Karina.
“Tentu saja.” Nana tertawa, entah mengapa bocah bocah itu selalu saja memegang perutnya.
Michael ikut melakukan hal yang sama, kemudian keduanya tertawa.
“Kapan dia lahir?” tanya Karina. “Aku akan menjaganya, Aunty.”
“Aku juga akan menjaganya, Nana.”
“Well, kalian bisa menjaganya nanti. Sekarang tolong makan pudding mangga yang aku buat karena aku sudah kelelahan membuatnya.”
“Oke….”
Anak anak itu membawa camilan sore mereka ke ruangan televisi, meninggalkan Nana bersama dengan Jenni.
“Kudengar kau mengundurkan diri menjadi sekretaris Sebastian?”
Jenni mengangguk. “Ada pekerjaan yang lebih menggiurkan tapi tidak melelahkan.”
“Tapi kau akan tetap di sini bukan?”
Jenni mengangguk. “Aku banting setir, aku ingin membuka toko roti di kompleks ini.”
“Ide yang bagus.”
Suara tawa mengalihkan keduanya, melihat Michael dan Karina yang bersama sama sedang bermain. Kebetulan mereka juga seumuran.
“Ah… aku tidak sabar anakku bergabung dengan mereka,” ungkap Nana.
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC