Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Gadis Bunga


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote yaaa anak anak kesayangan emak, I love Uuu so full.🌹


🌹Follow igeh emak dong di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, jadi selamat membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹


Keduanya telah tiba, pesawat mendarat dengan sempurna. Dan karena Nana kembali mengalami jet lag, kini keduanya berada di ruang tunggu VVIP dengan Nana yang berbaring karena pusing. Sementara Sebastian yang ada di sampingnya itu hanya mengusap kepala sang istri sambil memainkan ponsel.


“Sayang?”


“Jangan bicara.”


“Okay.”


Sebastian diam, dia kembali menatap ponselnya untuk memainkan game. Saat sedang sibuk menatap ponselnya, seseorang yang menempati posisi penting di bandara itu datang. Dia seorang pria.


“Hallo, Tuan Sebastian.”


“Oh hallo,” jawab Sebastian menjabat tangannya.


Mereka awalnya berbicara dengan santai, sampai seseorang itu menawarkan untuk membawa Nana ke klinik yang ada di bawah, tapi Sebastian menolak.


Dan saat Nana yang sedang terlelap itu bergerak dengan mengeluarkan suara rengekan seolah terganggu, membuat Sebastian segera menyalami orang di depannya lalu berkata, “Go go go.”


Sebastian tidak ingin Nana membuka matanya dan seorang pria tampan ada di depannya. Karena Sebastian akui, pria tadi lumayan tampan dan bisa saja menyainginya.


“Sayang, kenapa?” tanya Sebastian membantu istrinya mendudukan diri. “Apa masih pusing?”


Nana mengangguk. “Mau minum.”


Sebastian memberikannya, setelahnya dia mengusap bibir istrinya yang basah. “Mau cium gak?”


“Hah?”

__ADS_1


“Katanya kalau dicium suami, penyakit makin cepet sembuh loh.”


Nana malah tertawa. “Jangan kibul, tetangga aku yang lagi tidur terus dicium suaminya malah ditabok tuh.”


Seketika Sebastian diam, dia menelan ludahnya kasar mengira istrinya akan melakukan hal itu. 


Tapi ternyata jauh dari dugaannya, Nana mencium pipi suaminya kemudian berkata, “Aku mau ke kamar mandi dulu ya.”


Sebastian kembali dibuat terdiam oleh sang istri. Memang tidak bisa ditebak, tidak bisa dikira kira, sifat istrinya itu luar biasa membuat jantungnya berdetak kencang.


“Jangan cabut nyawaku sekarang, Tuhan. Tolong perpanjang masa garansiku di dunia ini.”


🌹🌹🌹🌹


Sesuai perkiraan, jarak dari perkampungan menuju ke rumah di tengah hutan cukup jauh dengan jalan yang jelek, mereka menaiki mobil jeep selama perjalanan. Dan itu karena Nana tidak ingin menaiki helicopter. Jadi, mereka harus menaiki mobil jeep sudah setengah jam.


Berbeda dengan Nana yang sangat menikmati perjalanan di hutan, Sebastian merasa pusing. Apalagi jalan yang dilewati cukup jelek hingga tubuhnya terombang ambing karena banyaknya batu.


Melihat suaminya yang pucat, Nana meminta berhenti.


“Berhenti?” tanya Hans terlihat ragu, pasalnya mereka ada di tengah hutan dan jika mobil tidak bergerak, maka tidak aka nada keseimbangan.


Nana yang ingat itu langsung memeluk suaminya dari samping kemudian berkata, “Sabar dulu ya, Mas. Di sini nggak ada tempat parkir.”


Sebastian yang mabuk dan pusing pun tertawa mendengar ucapan sang istri.


Sampai tiga puluh menit kemudian, mereka akhirnya sampai di rumah yang ada di tengah hutan. Awalnya Sebastian khawatir, tempat ini jauh dari pemukiman dan orang orang di sekitar.


“Wahhhhh,” ucap Nana memperlihatkan kekagumannya pada rumah kaca di tengah hutan. Nana mengadah menatap rumah yang ada di atas, ada tangga panjang menuju rumah di atas sana.


“Mas, gak papa?”


“Kamu duluan sama Eve ya,” ucap Sebastian ingin bicara dulu dengan Hans.

__ADS_1


“Oke.”


Saat Nana berlari menaiki tangga, Sebastian tersenyum. Dan saat itu dia mengatakan pada Hans, “Aku tidak ingin mengambil resiko, siapkan sejumlah orang untuk berkemah di sekitaran sana. Juga dirimu.”


“Baik, Tuan.”


"Kau bawa bunga?"


"Apa?" Tanya Hans bingung.


"Aku lihat kau membawa bunga tadi."


"Ah iya, ini dari penduduk sekitar."


"Berikan padaku."


“Mas!”


Teriak Nana memanggil sang suami, membuat Sebastian segera naik setelah mendengar panggilan itu. Namun saat dia hendak memeluk istrinya, Nana malah hendak turun. “Mau kemana? Aku bawa bunga buat kamu.”


“Ahhh makasih, aku mau ambil tas.”


“Biar Eve atau Hans aja.”


“Enggak di tas ada hape, aku mau fotoin buat liatin ke Ayah.”


Dan saat istrinya menuruni tangga, Sebastian tersenyum kecil. “Yank!” 


Panggilannya membuat Nana berhenti sebentar. “Kenapa?”


“Senyum, aku fotoin.”


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE Continue



__ADS_2