Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Season 2 : Mood untuk Joy


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG BANGET SAMA KALIAN.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Sebastian tengah asyik menatap video Joy yang dia simpan dalam file khusus, yang memperlihatkan bagaimana bocah itu tengah bersitegang dengan istrinya perihal makanan. Kehidupan yang tidak pernah disangka-sangka, kini dirinya mendapatkan apa yang selama ini dibutuhkan.


Sosok istri yang baik, dan anak yang menyebalkan. Lengkap sudah kehidupan Sebastian, dia sangat menyukai posisinnya saat ini. Sampai sebuah ketukan mengalihkan pandangannya, Sebastian menatap Hans yang masuk ke dalam ruangannya.


“Ada apa?”


“Ini file yang harus anda lihat, Tuan.”


Sebastian menerima ipad itu, mengerutkan keningnya tatkala dia mendapatkan banyak sekali tulisan di layar. “Kepalaku pusing, buat mereka membereskannya dan aku akan memeriksa apa yang mereka kerjakan.”


“Baik, Tuan.” Hans kembali menerima ipad itu.


“Aku akan pulang, dan menyetir sendiri.” Sebastian berdiri dan mengambil mantel miliknya, dia menatap senja yang hampir tenggelam di sana. Senyumannya tidak pudar. “Ah, aku tidak sabar bertemu anak dan istriku.”


“Perihal itu, Tuan…, Nyonya Nana dan Nona Joy berada di rumah sakit.”


“Apa?!” Sebastian membalikan badannya seketika. “Apa yang terjadi pada mereka?! Kenapa kau tidak memberitahuku?!”


“Nyonya Nana merasa kelelahan dan kekurangan cairan, jadi dia dibawa ke rumah sakit. Nona Joy baru ke sana saat pulang sekolah. Nyonya sendiri yang meminta saya untuk merahasiakan ini, Tuan.”


“Astaga, kau benar benar,” gumam Sebastian.


“Maaf, Tuan.”


“Lanjutkan pekerjaanmu, di rumah sakit mana?”


“Di tempat biasa, Tuan.”

__ADS_1


Setelahnya Sebastian keluar lebih dulu diikuti oleh Hans yang menutup pintu. Sosok bermata tajam itu melangkah cepat menuju ke mobilnya. Dia mengendarainya dengan sedikit tegang, ini pertama kalinya sang istri kembali sakit yang membuatnya di bawa ke rumah sakit. Biasanya Nana hanya flu biasa, mendpaatkan obat lalu sembuh lagi.


Yang dikhawatirkan Sebastian saat ini adalah putrinya. “Semoga anak itu tidak panic melihat keadaan ibunya,” gumam Sebastian yang menepikan mobil untuk membeli beberapa makanan sebagai penghibur untuk sang anak.


Bukan hanya satu toko, tapi juga beberapa toko yang didatangi Sebastian untuk membelikan makanan kesukaan Joy.


🌹🌹🌹🌹


“Makan dengan pelan, Joy.”


“Joy cuka ih cini, banyak emamna.”


“Iyalah, punya Mommy sama dedek bayi.”


“Punya Joy uga. Kan catu untuk cemua, Mom,” ucap Joy ketus.


Membuat Nana memutar bola matanya malas. “Serah dah.”


“Tekek ke cini nda nanti?” tanya Joy yang sibuk memakan jeruk, air jeruk itu membuat pipi dan kerah bajunya basah. 


“Ati Takek ke cini ndaaa?” tanya Joy lagi saat sang Mommy tidak menjawab.


“Iya, nanti ke sini liat Mommy. Kenapa emang?”


“Uncle Mike juga kecini?”


Nana menggeleng. Seketika mood Joy turun, dia menurunkan tangan yang sebelumnya berada di mulutnya. “Kok gitu cih?”


“Kan Uncle Mike-nya ada di asrama, jadi tidak bisa pulang. Nanti Kak Karina juga ke sini dengan Aunty Jenni, jadi jangan khawatir. Nanti Joy ada teman bermainnya.”


“Ndaa au ah, au nya cama Uncle aja.”


“Tapikan Uncle-nya gak ada.”

__ADS_1


Kalimat yang menjadi mood Joy semakin turun, dia memainkan jeruk di dalam piring itu. Dan Nana melihatnya, bagaimana sang putri kehilangan selera makannya. Yang membuatnya segera mengupas apel. Dan suara kupasan itulah yang membuat Joy kembali tertarik, dia tersenyum kecil melihat sang Mommy yang duduk di ranjangnya sambil mengupas apel.


“Biar saya saja, Nyonya,” ucap Eve ketika melihat sang majikan mengupas buah sendirian.


“Tidak usah, Eve, biar aku saja,” ucap Nana dengan mata yang menatap wajah putrinya. Senyuman Joy semakin mengembang tatkala buah hampir selesai di kupas. “Masih mau Uncle Mike?”


“Ndaa, au makan aja,” ucapnya beringsut mendekati sang Mommy.


“Ih, tangan Joy kotor. Kan udah Mommy kasih bates jangan lewati guling kalau mau makan di ranjang, munduran."


“Ih pewit,” gumam bocah itu.


Dan saat Nana focus memotong buah dengan Joy yang sibuk memperhatikan, suara dering ponsel Eve menyadarkan lamunan mereka. Eve segera meminta izin untuk mengangkatnya diluar.


“Hallo, Tuan?”


“Eve, turunlah ke bawah dan bantu aku membawa barang.”


“Baik, Tuan.” Eve segera bergegas menuju ke parkiran bawah, mengedarkan pandangan mencari sang majikan.


Sampai maniknya melihat sosok gagah yang melambaikan tangan. Eve segera mendekat pada Sebastian yang sedang berdiri di samping mobil dengan bagasi terbuka.


“Bantu aku bawa ini, Eve.”


“Astaga, Tuan. Makanan sebanyak ini?” tanya Eve panic. 


“Aku tau aku tau, Eve. Bocah itu pasti sedang menangisi mommy nya ‘kan? Ayo bantu aku menaikan moodnya dengan ini.”


“Tapi, Tuan. Sebenarnya Nona Joy me⸻”


“Ayo, Eve, aku tidak ingin anakku kehabisan tenaga untuk menangis.”


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2