
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE, RATING LIMA DAN ULASAN BAGUS. AJAK JUGA YANG LAIN BUAT BACA KARYA EMAK INI YA.🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹
🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA.🌹
“Apa Steve belum ditemukan?”
Hans menggeleng, membuat Sebastian berdehem. Dia mulai khawatir dengan keberadaan pria itu.
“Tangkap dia saat aku di Swiss.”
“Akan kami usahakan, Tuan. Kami belum tahu dia berada di mana.”
Sebastian menarik napasnya dalam. Dia benar benar mengkhawatirkan keselamatan istrinya. “Kau melakukan penjagaan di rumah bukan?”
“Iya, Tuan,” jawab Hans yang berdiri di depan Sebastian.
Dia masih menunggu berkas itu terlepas dari tangan majikannya untuk dia proses selanjutnya.Â
Tapi Sebastian tidak kunjung membaca dan menandatanganinya, dia malah terus berbicara. “Kenapa dia bisa pintar bersembunyi?”
“Dia mantan narapidana.”
“Kenapa Lucille mencintainya dulu?”
“Mungkin karena dia tidak punya uang.”
“Itu tidak masuk akal, Hans. Kau baik baik saja?”
“Ya, tentang berkasnya, Tuan,” ucap Hans kembali mengingatkan.
“Bagaimana kalau dia menunggu waktu luang untuk melakukan sesuatu pada istriku?”
“Anda selalu ada di sampingnya, penjagaan di rumah sangat ketat. Anda tidak akan kehilangannya.”
“Ya, terima kasih sudah membuatku lebih baik.”
“Tapi keamanan itu akan hilang jika anda tidak menandatangani ini dan mencetak uang lainnya.”
“Ah, kau benar,” ucap Sebastian menandatangani berkas itu dan memberikannya kepada Hans. “Cetak uang untukku.”
__ADS_1
“Akan saya lakukan.”
Ketika sedang berfikir sambil memainkan jarinya dengan mengetuk ngetuk tangannya ke meja, Sebastian menerima telpon. Itu dari David.
“Hallo, mau apa kau? Aku tidak punya uang.”
“What?” tanya David di sana heran. “Aku ingin bertanya kapan kau pergi ke Swiss.”
“Tiga hari lagi, jangan bersamaku. Aku ingin menghabiskan waktuku berdua dengan istriku.”
“Aku hanya ingin tau kapan kau berangkat, kau sama seperti Luke tidak konsisten.”
“Hei, si bungsu dalam tekanan kakeknya. Berhenti mengatakan itu.”
“Kau belum pulang ke rumah?”
“Istriku sedang mendapatkan tanggal merah.”
“Lakukan hal romantic, itu bisa membuat periode nya cepat.”
“Seperti apa?” tanya Sebastian.
“Seperti mengucapkan kata kata romantic, semacam puisis.”
“Cobalah sendiri.”
Sebastian berdehem. “Akan aku lakukan.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Nana menyiapkan bak air hangat untuk suaminya di Jacuzzi. Inilah yang dia lakukan sebagai wanita bersuami. Dan Nana sedikit tidak sabaran untuk segera hamil, mengingat Sebastian sangat menantikan hal itu.
“Tenang, semua ada waktunya,” ucap Nana pada dirinya sendiri.
Nana turun ke lantai bawah untuk memastikan makan malam siap.
“Eve, makan malamnya sudah siap?”
“Ya, Nyonya. Tadi ada Nona Lia datang.”
“Mau apa dia?”
__ADS_1
“Membawakan ini,” ucap Eve memberikan keranjang sayuran.
Dan saat Nana membukanya, dia cukup terkejut. “Ah, daun jambu mete,” ucapnya.
Nana sangat senang, dia selalu memakannya sebagai lalapan dengan sambal.
“Tolong cuci ini ya.”
Nana menjauh dari dapur dan menghubungi Lia untuk mengucapkan terima kasih.
“Hallo, Lia?”
“Hai, Nana? Kau mendapatkannya?”
“Terima kasih.”
“Ya, aku juga ingin minta maaf atas semua yang aku lakukan. Bisakah kita mulai berteman?”
Nana terdiam, tapi entah mengapa perkataan Lia terdengar sangat tulus. “Tentu saja.”
“Wah, terima kasih. Selamat malam.”
Dan Lia yang tidak menuntut meminta apa pun membuat Nana sedikit yakin kalau dia benar benar ingin berubah dan baik padanya.
“Sayang?”
“Mas? Aku udah siapin air anget.”
Sebastian tersenyum, dia merangkul pundak istrinya dan mengajaknya menaiki tangga bersama menuju kamar.
“Kau tau, Sayang?”
“Tidak.”
Sebastian berdehem mendengar jawaban itu. “Aromamu ini membuatku ketagihan, seperti daun kering di musim gugur.”
“Hah?”
“Wangi tubuhmu, bagaikan daun kering yang baru saja menyentuh tanah.”
Nana berfikir sembari berjalan. “Apa aku bau apek, Mas?”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE