
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹
🌹SLAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
“Ini sangat menyenangkan,” ucap Nana melihat bagaimana rumahnya begitu dekat dengan obyek wisata, sehingga dirinya tidak akan kebosanan.
Juga, rumah yang sekarang tidak terlalu menyendiri. Nana suka memiliki tetangga yang bisa dijadikan teman untuk bicara.
“Apakah tetangga kita sudah lama tinggal di sini?” tanya Nana.
“Oh, entahlah. Nanti aku akan melakukan survey pada mereka.”
Seketika Nana mencubit perut suaminya yang malah tertawa, kemudian berkata, “Bagaimana aku bisa tahu, Sayang. Aku baru datang bersamamu. Andai aku bisa membelah diri.”
“Tapi, Mas….,” ucapan Nana berhenti saat melihat orang yang menempati rumah di samping rumah Nana itu keluar dengan membawa koper. “Sepertinya rumah rumah ini mereka sewakan, ya?”
“Kau ingin menyewakan rumah juga, Sayang?” tanya Sebastian menggoda.
Yang ternyata, Nana membalasnya dengan perkataan, “Boleh juga, sebagai cuci mata.
Dan saat Sebastian paham apa yang ditatap istrinya, dia segera menutup mata istrinya supaya berhenti melihat para bule seksi itu keluar dari rumah. Apalagi yang pria tidak memakai baju.
“Dilarang menatap mereka seperti itu, kau milikku.”
Nana tertawa puas mendengarnya, dia melingkarkan tangannya di pinggang Sebastian.
Mereka pulang dengan berjalan kaki, dan meskipun ini sudah larut, tapi tidak menyeramkan mengingat jalanan selalu penuh. Bukan jalan umum, melainkan jalan setapak.
Dan saat memasuki rumah, Nana kaget melihat ada karangan bunga besar.
“Wah, sepertinya mereka tahu aku datang.”
“Siapa?”
__ADS_1
“Mereka yang bekerja tidak benar di perusahaan. Ck, mereka pikir aku tidak mengetahuinya dan akan tetap tutup mata akan hal ini.”
“Besok Mas akan bekerja?”
Sebastian mengangguk.
“Aku akan kebosanan, bolehkah aku melakukan sesuatu?”
“Selama kau menjaga anak kita, kau tahu aku bekerja untuknya, Sayang.”
Nana mengangguk berulang kali. “Aku hanya akan berbelanja, bukan naik gunung. Tenang saja.”
“Jadi, apa yang kau rencanakan?” tanya Sebastian. “Apa yang ingin kau buat, Sayang?”
“Akan aku pikirkan lagi besok. Aku malas berfikir sekarang, aku ingin tidur.”
Sebastian menutup pintu kamar mereka, “Baiklah, kemari dan tidur di…..,” ucapannya terhenti ketika melihat Nana yang sudah terlelap di atas ranjang.
🌹🌹🌹🌹🌹
Ingin mengambil udara segar, Nana turun dari ranjang tanpa disadari oleh Sebastian.
Dia keluar kamar dan menuju balkon terbuka untuk duduk sesaat di sana.
Ini sudah pukul dua malam, tapi disekitar Nana masih ramai. Apalagi dari lantai dua, dia bisa melihat bagaimana sungai itu menampung kapal pesiar yang masih berpesta.
Nana duduk di sofa di sana, sambil menghela napas dalam dan berkata pada udara malam, “Ayah, aku senang kau bahagia. Akupun begitu.”
Tangan Nana mengusap perutnya, dia benar benar berharap ayahnya ada di sini.
“Aku ingin egois, aku ingin menangisimu sepanjang waktu dan berharap waktu berputar kembali. Tapi aku tidak bisa berduka terlalu lama, ada seseorang yang mencintaiku, yang tidak ingin aku terpuruk.”
Ketika Nana menikmati kesendirian selama beberapa menit, dia baru bisa mendengar panggilan, “Nana Sayang?” disusul oleh suara seseorang membuka pintu pintu.
Nana tersenyum, dia benar benar tidak bisa hidup tanpa Sebastian. Maka dari itu, dia segera masuk ke dalam.
__ADS_1
“Mas, aku di sini.”
“Apa yang kau lakukan sendirian?”
“Aku terbangun dan ingin memastikan apakah diluar masih ramai.”
Sebastian membawa Nana ke pelukannya dengan halus. “Bangunkan aku jika kau terbangun. Jangan terbangun sendirian.”
“baiklah,” ucap Nana mengusap punggung suaminya dengan pelan. “Aku sedikit lapar.”
“Akan aku bangunkan Eve.”
“Aku ingin makan cemilan saja.”
“Baiklah, tunggu di sini.”
Nana melakukannya, dia duduk di ruangan televise yang memiliki jendela besar yang memperlihatkan langsung luasnya sungai.
Tidak beberapa lama, Sebastian datang dengan berbagai macam makanan.
“Mas, ini terlalu banyak.”
“Aku tidak tahu apa yang kau inginkan.”
“Astaga,” gumam Nana membantu Sebastian membawakannya. “Terima kasih.”
“Sama sama, Sayangku,” jawab Sebastian.
Sampai pria itu tidak sengaja menemukan cermin kecil saat hendak duduk, Sebastian memakainya untuk bercermin, kemudian bergumam pelan, “Oh, astaga, wajahku terlihat buruk.”
“Apa kau sedang membicarakan hal buruk tentang suamiku?!” teriak Nana tidak terima.
🌹🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1