Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Sarapan


__ADS_3

🌹🌹🌹🌹🌹🌹


"Sayang, kau tidak apa apa bukan?" Tanya Sebastian pada Nana yang banyak terdiam.


Nana mengangguk sebagai jawaban. 


"Ingin pergi ke suatu tempat dahulu?"


"Tidak, ayo langsung pulang saja," ucap Nana tanpa menatap suaminya. Dia masih memikirkan Lia yang melakukan hal itu padanya.


Dirinya sudah benar benar percaya pada Lia, tapi dia malah melakukan hal sekejam itu. Dan Nana saat ini sangat sensitive mengenai kandungan, apalagi dia tahu kalau Sebastian sangat menantikan kehadiran sang buah hati.


Nana marah pada dirinya sendiri, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Dan hal itu membuat dirinya terliht badmood, dia juga sensitive pada setiap gerak gerik di sekitarnya.


Seperti sekarang, Sebastian mencoba menggapai tissue tapi kesulitan. Nana membantunya, tapi dengan wajah yang seperti menahan marah.


"Terima kasih, Sa…..," ucapan Sebastian tertahan karena raut wajah Nana yang tidak bersahabat. "Apa yang kau pikirkan, Sayang?"


"Tidak ada," ucap Nana dengan dingin


"Ceritakan pada Mas, supaya merasa lebih baik."


Nana tahu ini hal yang tidak bisa dia bagi dengam siapa pun, jadi dia hanya terdiam saja.


Dan Sebastian yang tidak tahu apa apa itu hanya bertanya tanya, mencoba menerka apa yang ada di dalam pikiran istrinya.


"Masalah Lia? Dia akan dihukum sesuai apa yang dia lakukan. Ibu tirimu juga mengizinkannya, ayahmu baik baik saja."


Nana tetap diam.


Sampai Sebastian kembali berkata, "Ayahmu juga me--"


"Bukan begitu," ucap Nana dengan nada sedikit naik.


Dengan itu bertepatan dengan mobil yang berhenti. Nana keluar seketika dan berjalan cepat menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Meninggalkan Sebastian yang bertanya tanya di sana. Sementara itu, Nana menahan sesak di dadanya, dia menarik napas dalam merasakan perasaan kesal dan marah bercampur aduk.


Dia hanya marah pada dirinya sendiri, tapi tidak benar untuk melampiaskannya pada orang lain apalagi suaminya.


Jadi saat Sebastian masuk.


"Sayang?"


Nana segera melanglah pelan menuju suaminya dan memeluknya. "Maaf, Mas."


Sebastian tidak banyak bicara, dia hanya membalas pelukan sang istri dengan penuh ketenangan.


🌹🌹🌹


Pagi harinya, Nana bangun lebih awal supaya dia bisa memasakan sarapan untuk sang suami.


Dia masih merasa bersalah atas tindakannya sore kemarin. Jadi Nana menyiapkan sarapan sebelum kembali ke kamar atas untuk menyiapkan pakaian sang suami juga.


"Dari mana?" Tanya Sebastian yang baru bangun.


"Morning, gak biasaya nyapa."


"Gak mau?"


"Bukan gitu, Sayang. Kau sudah mandi?"


Nana mengangguk. "Mas mandi, hari ini harus sarapan di rumah. Aku udah siapin masakan buat mas sarapan."


Sebastian tersenyum, dia senang istrinya kembali ceria lagi. Dia masih belum tahu apa masalahnya.


Sambil menunggu Sebastian mandi, Nana menyiapkan semua kebutuhan sang suami.


Ketika Sebastian memakai baju, Nana membereskan ranjang.


Saat itu, Sebastian menerima pesan bahwa Lily mengalami keguguran. Tahu penyebabnya membuat Sebastian merasa sangat bersalah.

__ADS_1


"Kenapa, Mas?"


"Hah? Enggak."


"Gak mau pake baju itu?"


"Enggak," jawab Sebastian yang tidak ingin menceritakannya.


Dia tidak ingin membuat Nana semakin kesal dan sedih saat ini.


"Ayo, udah kan?" Tanya Nana.


Sebastian mengangguk.


Dan keduanya turun ke lantai bawah.


"Apa yang kau masak, Sayang?"


"Cumi cumi kecil, ini sangat bagus untuk kesehatan Mas."


"Benarkah? Wahhh…..," ucap Sebastian takjub dengan apa yang disiapkan sang istri.


Dia menusuk salah satunya.


"Cumi kecil ini bagus untuk kesehatan, Mas."


Kemudian Sebastian memakannya. "Cumi kecil?"


"Ini enak sekali."


"Cumi apa ini?" Tanya Sebastian lagi.


"Cumi mati."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2