Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Keinginan Nana


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK SEMUANYA.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN SEMUA. JANGAN LUPA AJAK YANG LAIN BACA CERITA RECEH EMAK INI YA.🌹


Arnold tertawa mendengar penjelasan Hans dan juga Nana, kini mereka bertiga berada di mini market rumah sakit yang buka 24 jam sedang membicarakan kondisi Sebastian dan alasan pria it uterus bekerja meskipun masih sakit seperti sekarang. 


Bahkan Arnold menyeka air matanya mengingat Sebastian yang mengira dirinya sekejam itu. “Ahahahahahahahaha, itu adalah hal terbodoh yang Sebastian pikirkan. Berapa IQ nya? Apakah IQ bisa turun? Ada apa dengannya? Seharusnya dia menikmati kehidupannya dan membuat banyak anak.”


“Perkataanmu membuatnya salah paham, Dad,” ucap Nana yang masih kesal, dia menggigit sedotan saat meminum jus pesanannya. Jujur sja Nana ingin sekali memukul kepala Arnold yang membuat suaminya menderita dengan perkataannya, dan sekarang pria itu malah tertawa dengan begitu bebasnya.


Hans berdehem melihat majikannya menahan amarah, dia mengalihkan pandangan pada Arnold untuk menanyakan, “Lalu bagaimana jika Nyonya Nana kembali melahirkan anak perempuan?”


“Oh, Hans…..” Arnold menyeka air mata tawanya. Dia minum untuk melembabkan tenggorokan. “Aku tidak sekejam itu, semua itu milik Sebastian. Aku akan menyekolahkan Mike ke sekolah khusus, dia harus membangun sendiri bisnisnya, itu alasan dia kembali tidak menyukai Mike?”


Nana mengangguk. “Aku pikir begitu, pantas saja dia selalu memandang Mike musuh.”


“Jika ini membuatnya tenang, maka aku akan mengalihkan perusahaan atas namanya saat ini juga,” ucap Arnold kini dengan suara beratnya, menandakan dia membicarakan hal yang serius, tatapannya beralih pada Hans. “Hanya saja dia harus mengurusnya, apakah tidak apa apa? Bukankah dia harus beristirahat? Kau tahu ada beberapa masalah di perusahaan heli itu.”


Hans yang tidak dapat menjawab itu menatap Nana. Dan jawaban perempuan itu menggeleng seketika. “Jika itu mengharuskan Sebastian bekerja lebih banyak, tidak perlu. Mungkin Daddy bisa memegangnya sampai saat ini, akupun akan mengurangi kegiatan Sebastian di luar rumah. Dia harus benar benar sembuh total.”


“Aku ingin menemuinya dan mengatakan kebenarannya, hahahaha. Ini masih sangat lucu,” ucap Arnold berdiri.


“Dad, tolong bawakan ini pada dia.”


“Kau tidak akan naik?”


“Aku masih ingin memakan cemilan di sini, Eve akan menemaniku.”


“Baiklah,” ucap Arnold menerima papper bag yang berisikan waffle pesanan Sebastian. “Hans, antar aku.”


Pria paruh baya itu beranjak untuk menemui putranya, dan Nana hanya bisa menggeleng di sana, kepalanya terasa pening setelah mendengar penjelasan Arnold. Bahwa dia akan tetap memberikan perusahaan itu kepada Sebastian apapun yang terjadi, yang dia ucapkan hanyalah ancaman.


Seperti pada saat Sebastian yang tidak kunjung menikah, itu membuat Arnold khawatir dan mengancamnya dengan tidak akan memberikan perusahaan jika tidak menikah. Dengan begitu Arnold akan merasa tenang jika sudah menikah. Karena Sebastian sudah mendapatkan keluarganya sendiri.


“Anda baik baik saja, Nyonya?” tanya Eve mendekat pada majikannya yang sedang melamun.


Nana menatap Eve sambil menggeleng. “Keluarga kaya memang rumit.”


Sementara itu, Arnold memasuki kamar Sebastian. Melihat putranya yang sedang berbaring miring membelakangi sambil memainkan ponsel.


“Kenapa kau sangat lama, Sayang? Ini sudah lewat tengah malam. Kemarilah, ini waktunya tidur.”


Arnold bergidik ngeri. “Siapa yang kau ajak tidur?”


Suara yang tidak asing membuat Sebastian membalikan badannya, apalagi dia telah mengatakan kalimat yang ditujukan untuk istrinya. “Kenapa Daddy di sini?”


“Pertanyaan macam apa itu,” gumam Arnold heran. “Ah…., Bas, ini waffle mu.”

__ADS_1


“Dimana Nana?”


“Dia di bawah, sedang menikmati malam.”


“Ini sudah larut, Dad. Hans! Apa kau diluar?! Suruh Nana naik ke sini!”


Arnold hanya tertawa, dia melangkah duduk di sofa sambil menampilkan wajah konyol yang….; menahan tawa menggelegar karena mengingat apa yang dilakukan putranya. 


“Anakmu perempuan?”


Sebastian menegang. “Ya…, aku bahkan bisa mendapatkan perusahaan milik Mommy tanpa mendapatkannya darimu. Aku akan membuat itu menjadi milikku dengan kekuatanku sendiri.”


“Astaga, Bas. Daddy percaya sekarang kalau IQ bisa turun seiring berjalannya waktu.”


“Daddy hanya ingin mengejek? Kenapa tidak kembali saja dan melihat pesta apakah berjalan dengan lancar atau tidak.”


Dan seketika, Arnold tidak dapat menahan tawanya, “Hahahahaahahaha! Astaga, Bas!”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Nana kembali ke kamar inap suaminya setelah merasa ngantuk, dilihatnya dari kaca pintu kalau Arnold sedang mengusap kepala Sebastian di sana.


“Daddy belum pulan?”


“Kau mengusirku?” tanya Arnold melihat kedatangan Nana.


“Aku akan menginap di hotel, jangan khawatir,” ucap Arnold melangkah mengambil mantel pakaiannya di sofa. “Aku pergi, jika ada apa apa hubungi, termasuk penjelasannya lagi. Dan, Bas! Semangat membuat anak laki laki! Hahahaha!”


Sebastian menatap malas ayahnya yang pergi. Setelah pintu tertutup dan hanya meninggalkan Sebastian dan Nana, pria itu merentangkan tangannya.


“Bisa kau memberiku pelukan? Ayahku sangat menyebalkan, ternyata bukan itu maksudnya. Aku kira dia ingin cucu pertamanya itu laki laki, ternyata dia menyuruhku untuk membuatnya lagi. Bukankah itu menakjubkan, Sayang?”


Nana menghela napas dalam, dia masih berdiri mematung di sana, dalam artian belum datang dan masuk ke dalam dekapannya.


“Sayang…..” sebastian menggerak gerakan tangannya. “Kenapa tidak berhambur ke pelukanku? Kemarilah.”


Jujur saja, Nana masih sangat kesal dengan Sebastian dan Arnold. tapi dia belum bisa menuntaskannya, bagaimana caranya? Berbicara dengan tidak sopan pada suami dan mertuanya adalah perbuatan dosa.


Saat tangannya merambat memeluk perutnya sendiri, Nana memejamkan mata menanti sebuah ide.


“Sayang….., apa kau mulas?” tanya Sebastian khawatir.


“Mas…..,” ucap Nana saat sebuah ide datang. “Aku rasa Baby kita menginginkan sesuatu.”


“Apa yang diinginkannya, Sayang? Katakan padaku. Datanglah kemari dan beritahu aku apa yang kau inginkan.”


Nana mendekat, dia duduk menyamping di pangkuan Sebastian kemudian mengatakan apa yang sebenarnya dia inginkan.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Arnold baru sampai di hotel, dia membuka pintu kamar sambil menunggu telpon diangkat.


“Hallo? Bagaimana Mike? Apa dia terbangun?”


Ya, yang dihubungi oleh Arnold adalah pengasuh yang menjaga putranya.


“Tuan Muda tidak terbangun, dia tertidur pulas.”


“Kau sudah menyiapkan hadiah hadiah itu di kamarnya? Dia ingin membukanya sendiri.”


“Sesuai permintaan anda, Tuan.”


“Beberapa hari ke depan aku akan berada di sini melihat perkembangan putraku, jaga Mike dan pastikan dia tidak melewatkan satu pun dari les nya.”


“Baik, Tuan.”


Arnold melempa ponsel dan mantel secara bersamaan ke sofa, setelahnya dia meregangkan otot di atas kasur. Membayangkan putranya begitu kesulita karena ucapannya membuatnya menyesal, tentu saja dalam sisa hidupnya Arnold hanya ingin hidup damai bersama keluarganya.


Tapi tidak dipungkiri juga kalau dia dibuat tertawa karena anak kandungnya itu.


Saat hendak memejamkan mata, telpon kembali berbunyi, membuat Arnold mengangkatnya.


“Hallo? Ada apa, Hans?”


“Tuan? Bisakah anda kembali?”


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” Arnold memakai kembali mantelnya sambil menelpon.


“Bukan begitu, Nyonya Nana mengidam sesuatu, dan itu bersangkutan dengan anda.”


“Apa? Cucuku mengidam? Apa yang dia inginkan? Katakan padaku, bahkan perusahaan saja akan aku berikan saat ini juga jika dia benar benar menginginkannya sekarang,” ucap Arnold dengan sombongnya, tentu saja dia akan melakukan apapun untuk cucu pertamanya itu.


“Saya tidak tahu apa yang Nyonya inginkan, tapi dia ingin anda datang.”


“Baiklah aku akan kesana, katakan pada Nana akan aku berikan apapun padanya, apapun yang dia minta aku lakukan dan aku belikan, aku akan menjadi Kakek yang sangat baik dan perhatian,” ucap Arnold menatap jam di tangannya. Ini sudah pukul dua dini hari, tapi apapun untuk cucunya akan dia lakukan.


“Dan, Tuan…”


“Apa lagi?”


“Bisakah anda membeli palu dalam perjalanan kemari?”


“Palu?” tanya Arnold sambil terdiam, dia menelan ludahnya kasar.


Nana tidak akan melakukan apapun padanya bukan? tapi….., Nana adalah wanita kampung yang gagah. Dan palu? Astaga, Arnold bahkan dibuat gelisah karenanya. Apalagi dirinya menyesali mengatakan akan melakukan apapun untuk cucu yang ada di perut menantunya.


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2