
🌹KASIH EMAK DUKUNGAN YA GAIS. TEKAN LOVE🌹
🌹JANGAN LUPA FOLLOW: @RedLily123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA. I LOVE YOU. 🌹
“Namana halus yang lutu, Dad.”
Semua orang di ruangan itu berdebar-debar, menunggu ketidakpastian dari seorang bocah yang akan memberikan nama.
Nana, sang wanita yang baru saja melahirkan putra tampannya itu tidak bisa berhenti menatap tajam sang suami yang mengizinkan sang anak membuatnya. Dan Sebastian yang melihat tatapan tajam itu hanya bisa memalingkan wajah, mencari aman daripada mendapatkan neraka dunianya.
“Jadi… Joy mau memberi nama apa pada baby?” tanya Arnold yang ikut penasaran.
“Hmmm…., Joy cuka Donat,” gumamnya.
Seketika mata Nana terbelalak. Donat? Itu adalah hal yang mengerikan untuk didengarkan sekarang.
“Joy, kau tidak akan memberinya nama dengan makanan ‘kan?”
“No,” ucapnya menggeleng dengan wajah lucu.
“Joy ingin namana Daniel,” ucapnya dengan senyuman.
Daniel? Itu membuat Nana menghela napasnya lega. Nama itu normal, dan terdengar cukup bagus. Terinspirasi dari donat? Tidak masalah, suaminya telah menjanjikan hal itu pada anaknya. Menolak nama Joy sama saja mengajarkannya tentang ingkar janji.
“Bagaimana?” tanya Joy. “Lutu, Kan? Nti Joy main cama Daniel,” ucap Joy yang kini meminta turun.
Dan Sebastian melakukannya, dia menurunkan putrinya dan membiarkannya merangkak di atas ranjang menuju Mommy nya.
Joy yang manis memberikan kecupan di pipi sang Mommy sebelum beralih pada bayi itu sambil tersenyum. “Hallo, Daniel,” ucapnya dengan ceria.
Bahkan Nana ikut tersenyum.
__ADS_1
“Boleh kan, Mom? Namana Daniel?”
“Joy sayang pada Daniel?”
“Tayang, ntal bubulny makan beldua ya,” ucap bocah itu yang diterima dengan tawa di sana.
Arnold menahan tangis melihat interaksi keduanya, sungguh dia terharu melihat putranya kini memiliki keluarga yang sangat harmonis. Dia menepuk bahu sang anak sambil mengatakan, “Nikmati waktu kalian berdua,” ucapnya sebelum melangkah pergi dari sana.
Meninggalkan Sebastian dan keluarga kecilnya. Pria itu ikut bergabung bersama sang istri dan anak. mencium mereka satu persatu dengan penuh rasa bahagia.
“Daniel ya, Dad?”
“Iya, Sayang. namanya Daniel, sesuai keinginanmu,” ucap Sebastian mengalah pada akhirnya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Beberapa hari setelah hari kelahiran Daniel, Nana mulai bisa bangun dari tidurnya. Meski tidak sepenuhnya melakukan pekerjaan dari kebiasaannya, Nana merasa senang bisa bangun dari ranjang, dibantu oleh perawat, pengasuh untuk bayinya dan para pelayan di sini.
Nana masih ingat jelas, dia masih memiliki anak perempuan yang masih kecil.
“Nyonya, apa yang anda lakukan? Biar saya saja.”
“Tidak apa apa, aku yakin putriku merindukan masakan ibunya,” ucap Nana berusaha membuat salad buah kesukaan putrinya.
Kesempatan bagus, apalagi Daniel tengah tidur. Ditambah bayinya itu meminum asi yang sudah disiapkan, jadi Nana tidak perlu stay 24 jam untuk menyusuinya.
“Biarkan saya potong buahnya.”
“Astaga, tidak apa. Aku punya tangan,” ucap Nana yang mana membuat pelayan itu memilih melangkah mundur.
Nana berdehem, kembali focus pada apa yang tengah dia lakukan saat ini. dia menarik napasnya dalam dalam, sampai telpon di sakunya itu berbunyi.
“Hallo, Mas?” Nana mengangkatnya.
__ADS_1
“Sayang, aku pulang lebih awal. Ingin sesuatu?”
“Tidak, pulang saja. anak anak merindukanmu.”
“Yakin? Pudding untuk Joy atu salad buah?”
“Tidak perlu, aku membuatnya.”
“Kau membuatnya? Kau turun dari ranjang, Sayang?”
“Oh ayolah, Mas. aku baik baik saja. tidak apa apa, aku ingin melakukannya untuk Joy.”
“Baiklah, minta pelayan jika lelah. Aku akan segera pulang. Bye.”
“Bye.” Nana mematikan panggilan, dia menghela napasnya sebelum tersenyum. Saat ini, Sebastian sering melaporkan setiap kegiatannya, yang mana membuatnya begitu senang.
Bahkan Nana tidak sadar, jika mobil yang mengangkut anaknya itu telah pulang.
“Mommy, Joy puwang.”
“Astaga, anak Mommy mengagetkan.”
“Eh?’ Joy menghentikan langkahnya. “Mommy beldili?”
“Ya, Mommy membuatkan sesuatu untuk Joy. Ganti bajunya dan turun lagi nanti.”
“Cebental,” ucap Joy melangkah menuju kulkas untuk mengambil sesuatu. “Joy aus, eh! Au ini ah,” ucapnya membuka botol kemudian meminumnya.
Nana awalnya tersenyum, sampai dia sadar. “Eh, Joy! Itu susu untuk Daniel.”
“Huh?” gumam Joy kaget, dia menatap Nana dengan mata berkaca-kaca. “Ntal Joy jadi bayi agi, Mom? Ih nda au, pelut bayi kecil.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TO BE CONTINUE