
🌹Jangan lupa kasih emak vote, rating lima dan ulasan bagus ya sayang sayangnya emak.🌹
🌹Jangan lupa juga follow igeh emak di : @REDLILY123.🌹
🌹Emak sayang kalian, selamat membaca ya.🌹
Nana menatap sang suami yang terlelap terlihat damai. Semalam adalah waktu yang panjang, mereka baru kembali pukul dua malam setelah mengantarkan Arnold dan Michael ke Bandara. Anak itu masih tidak sadarkan diri, tapi Arnold membawanya dengan beberapa perawat dan dokter yang menjaganya sepanjang perjalanan.
Dan Lucille juga dibawa kembali ke Amerika di pesawat yang berbeda.
Sebastian sudah tidur, berbeda dengan Nana yang tidak bisa memejamkan matanya. Dia menatap bagaimana suaminya bahkan merasa gelisah dalam tidurnya. Membuat Nana mengusap keningnya yang berkerut.
Sepanjang malam, Nana berjaga untuk membuat tidur suaminya nyenyak. Inilah sisi Nana yang tidak diketahui banyak orang, Nana mungkin terlihat dingin dan berbicara begitu pedas, tapi dia memiliki kepedulian bagi orang yang sangat dia sayangi.
Setelah matahari mulai terbit, baru Nana berani meninggalkan suaminya. Dia sudah terbiasa tidak tidur semalaman karena ibu tirinya dulu, jadi kini dia tidak merasa ngantuk.
Nana turun ke lantai bawah untuk mempersiapkan sarapan.
“Selamat pagi, Nyonya.”
“Eh ayam,” ucap Nana yang latah, dia menoleh dan kaget melihat Eve yang ada di belakangnya. “Kenapa kau mengagetkan?” tanya Nana kesal.
“Maaf, Nyonya.”
Dia menarik napasnya dalam dan melihat sekeliling, semuanya sudah bersih dengan pelayan yang mengambil alih pekerjaan.
“Aku ingin memasak untuk suamiku, Eve.”
__ADS_1
“Anda bisa memintanya pada pelayan bagian dapur, mereka akan memasak apa yang anda minta.”
Nana berjalan menuju dapur, di sana ada beberapa pelayan yang sepertinya habis dari kebun dan sedang menyusun sayuran.
“Apa kita punya kebun?” tanya Nana yang membuat mereka kaget.
“Nyonya,” ucap mereka langsung berdiri lalu menyapa. “Iya, kami baru saja memanennya karena akan busuk jika tidak dilakukan. Apa anda ingin sesuatu yang lain, Nyonya?”
“Timun ya?” gumam Nana melihat hasil panen yang begitu banyak. “Kenapa ini begitu banyak? Apa suamiku juga Bandar timun?”
“Ya? Apa maskud anda, Nyonya?” tanya pelayan itu.
“Tidak,” jawab Nana dengan datar, dia menatap Eve dan memberinya isyarat untuk mendekat.
“Iya, Nyonya?”
“Tolong minta mereka untuk membiarkanku yang memasak.”
“Ah benar, aku kaya bukan?” gumam Nana melupakan fakta itu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Nana tahu suaminya tidak akan bekerja hari ini, tapi dia juga tahu kalau tidur sampai siang juga tidak baik. Maka darinya, Nana naik ke atas untuk membangunkan sang suami.
“Mas?” ucap Nana pelan sambil mengusap dada telanjang Sebastian.
Posisi tubuh yang membuat Nana menelan ludahnya kasar. “Mas, bangun udah siang.”
__ADS_1
“Hari ini aku kerja dari rumah,” ucap Sebastian merengek dan malah memunggungi sang istri.
“Iya, tapi ini udah jam tujuh lewat. Bangun napa, gak sehat tau tidur nyampe siang. Ayo keluar, kita hirup udara segar yuk.”
“Eungh….. malas, Yank.”
Nana menarik napas dalam, dia sudah mulai kesal apalagi saat Sebatian mencoba meraih tangannya untuk dibawa kembali berguling di atas ranjang.
Nana segera menghindar dengan menepuk tangan Sebastian yang mencari carinya.
PLAK!
“Aduh,” gumanya kembali memejamkan mata.
Nana dibuat kesal oleh tingkah sang suami, dia berdiri dan mengambil ponselnya. Nana melakukan pencarian di google. Nana mencari akibat jika tidur sampai siang.
Setelah salah satu artikel ditemukan, Nana berkata, “Mas, sekarang aku tahu.”
“Hmmm?” tanya Sebastian yang masih memejamkan matanya.
“kemungkinan penyebab kematian Mas adalah kanker hati.”
“Apa?!” sebastian bangun seketika.
Nana dengan polos memperlihatkan ponselnya. “Mereka berkata begitu jika seseorang bangun terlalu siang, atau tidur sehatian.”
“Sayang….,” rengek Sebastian mengikuti Nana yang memasuki kamar mandi.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
To BE Continue