
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹
🌹FOLLOW JUGA IGEH EMAK DI : @REDLILY123.🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹
Seperti biasa, Nana selalu mabuk kendaraan khususnya angkutan udara. Membuatnya memejamkan mata sepanjang menuju pulang ke rumah.
Bahkan saat mobil berhenti, Nana tidak bangun. Membuat Sebastian otomatis menggendong istri tercintanya itu.
Nana yang kaget dirinya diangkat itu otomatis melingkarkan tangan di leher sang suami. “Mau kemana?”
“Ke kamar.”
“Gak mau buat bayi,” ucap Nana otomatis.
Membuat Sebastian tertawa. “Udah sini nyender, siapa juga yang mau ngajak bikin bayi,” ucap sang suami.
Nana mengerucutkan bibirnya dan kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
Saat merasakan tubuhnya mengenai kasur, baru Nana berguling merasakan kenikmatan dan mencurahkan kerinduannya akan hal ini. Nana sangat suka rebahan apalagi di rumah sendiri.
“Yank, buka dulu sepatunya,” ucap Sebastian.
Tapi Nana sudah kembali memejamkan matanya, dia bahkan malas bergerak.
Membuat sang suami mendekat dan membukakannya. Sebastian menurunkan AC dan membiarkan istrinya beristirahat.
Karena dia merasa bosan, Sebastian turun ke lantai bawah untuk memakan sesuatu. “Apa ada yang bisa dimakan?”
“Anda menginginkan sesuatu, Tuan?” tanya pelayan itu.
“Apa itu?” tanya Sebastian yang malah focus pada dedaunan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
Eve yang ada di sana menjawab, “Itu daun pakis, Tuan. Dari Nona Lia.”
“Astaga, dia selalu datang ke sini?”
__ADS_1
“Hanya beberapa kali untuk memberikan benih. Dan saat tahu Nona Nana akan kembali, dia memberikan ini.”
“Benar,” gumam Sebastian memainkan daun yang terasa asing olehnya. “Dia menyukai ini.”
“Anda menginginkan sesuatu, Tuan?”
“Ya, berikan aku waffle dan juga keripiki kentang. Dengan soda, bawa ke perpustakaan.”
“Baik, Tuan.”
“Daan, Eve.”
“Ya?” tanya pelayan itu.
“Tolong periksa Lia, aku merasa asing saat dia tiba tiba menjadi baik.”
“Baik, Tuan.”
Sebastian bergegas naik ke lantai dua menuju perpustakaan yang ada di sayap utara. Itu lumayan jauh dari kamar. Perpustakaan itu juga sering dipakai tempat oleh Sebastian untuk bekerja. Dan tanpa sepengetahuan Nana, Sebastian memainkan game di sana.
🌹🌹🌹🌹🌹
Nana membuka matanya, dia merasa lapar dan turun ke bawah untuk memberi makan perutnya.
“Selamat sore, Nyonya. Anda ingin sesuatu?”
“Apa yang sudah kau masak?”
“Saya baru saja membuat waffle,” ucap pelayan itu.
“Oh, apa itu?” tanya Nana dengan matanya yang berbinar melihat daun pakis yang sangat dia sukai. “Apa Lia ke sini?”
“Iya, Nyonya. Tadi dia ke sini memberikan ini.”
“Tolong masak ini ya.”
“Baik.”
__ADS_1
“Apa kau melihat suamiku?”
“Tuan ada diperpustakaan.”
“Oh, dia sedang bekerja,” gumam Nana yang selama ini selalu mengira seperti itu. “Kalau begitu aku akan berjalan jalan di taman.”
“Baik, Nyonya.”
Nana tidak ingin mengganggu suaminya, dia berjalan jalan di taman sambil memakan kerupuk udang yang sangat dia sukai.
Dalam langkahnya, Nana juga menarik napas dalam merasa kesepian. Dia juga menginginkan memiliki anak untuk sekarang ini.Â
Saat sedang berjalan di pinggir pagar gerbang, Nana melihat Lia yang baru saja turun dari ojeg. Membuat Nana segera keluar dari gerbang dan memanggil Lia.
“Lia?!”
“Hai, kau sudah pulang. Aku ingin memberikan ini, jamur ini baru saja aku petik.”
“Kau selalu membawakan ini, ayo ke dalam dulu.”
“Tidak,” ucap Lia dengan wajah penuh aktingnya. “Aku malu ada suamimu.”
“Kalau begitu besok kemari, bagaimana?”
Lia mengangguk. “Baiklah, jam berapa?”
“Siang saja, kau bekerja?”
“Aku bisa libur.”
“Oke, tolong bawa benih untuk talas, aku ingin menanamnya.”
“Serahkan semuanya padakku.”
🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE
__ADS_1