Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Sensitive Nana


__ADS_3

🌹JANGAN LU[A KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK.🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY13.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


“Dia benar benar membuatku kesal,” ucap Nana mematikan telponnya.


“Apa anda baik baik saja, Nyonya?” tanya Eve. “Anda ingin melakukan sesuatu padanya?”


“Eve, berhenti menanyakan hal seperti itu. Itu terdengar aku adalah tokoh antagonis.”


“Baik, maafkan saya, Nyonya.”


“Ayo kembali memasak.”


Dan saat Nana hendak kembali memasak, dia mendengar seseorang memasuki rumah. Nana menghela napasnya dalam, dalam pikirannya itu adalah Rina yang mencoba untuk mengacaukan keadaan dan hatinya. 


Namun, saat Nana berjalan mendekat, ternyata itu adalah Arnold dan Michael.


“Papa,” ucap Nana yang merasa kaget.


“Apa kau menyangka aku orang lain?”


“Maafkan aku.”


“Aku menemui ibu tirimu di luar gerbang sana.”


Nana tampak terkejut. “Apa dia mengatakan sesuatu padamu?”


“Ya, dia meminta untuk memberikannya jatah setiap bulan. Atau dia akan menuntut.”


“Dia tidak akan bisa melakukannya,” gumam Nana dengan suara kecilnya.


“Tentu saja dia tidak bisa, kau harus tegas. Wanita itu benalu dalam hidup keluargamu. Jangan membuatku kembali berfikir kalau kau adalah wanita bodoh dan hanya bermodalkan tampang saja.”


“Ada apa datang ke sini?” tanya Nana yang ingin lepas dari pertanyaan itu.

__ADS_1


“Aku dan Mike akan kembali ke Amerika duluan, nanti jika kalian sudah pindahan, aku akan mengunjungi kalian.”


“Bukankah kita tinggal di kota berbeda?”


“Ya, itu sebabnya aku tidak akan sering datang karena membutuhkan waktu lama<’ ucap Sebastian kemudian memberikan tatapan pada anak yang sedang dia genggam tangannya. “Berikan salammu padanya.”


“See you later,” ucap Michael melambaikan tangannya,.


Yang mana membuat Nana berjongkok. “Sampai jumpa lagi di sana, anak tampan.”


Yang mana membuat Michael tersenyum. “Aku harap Sebastian menyukaiku seperti kau menyukaiku.”


“Oh, dia itu menyukaimu. Hanya saja tidak ingin ditunjukan.”


“Benarkah?”


“Sudahi pertemuan kalian, ayo pergi, Mike.”


“Sampai jumpa.”


“Bye,” ucap Nana.


“Baik, Papa.”


“Aku banyak berharap padamu.”


Nana mengangguk mendengarnya.


🌹🌹🌹🌹🌹


“Ini adalah malam terakhir kita di si I, Sayang. Kau paham bukan?” tanya Sebastian sambil membuka pakaiannya satu per satu. Dia baru saja pulang dari kantor, dan dia merasa diabaikan oleh Nana.


Setelah hanya menyisakan boxer saja, Sebastian segera memeluk istrinya dari belakang.


Dan Nana malah melepaskannya secara paksa.


“Mas, minggir dulu.”

__ADS_1


“Kok galak sih, Yank?”


“Jangan buang buang ini dimana mana, Mas. Kan ada tempatnya.”


“Nanti kan bisa diberesin sama pelayan.”


“Kamar dari dulu aku yang pegang ya, gak ada pelayan pelayan. Jadi….,” ucapan Nana menggantung saat dia memungut pakaian Sebastian dari lantai. “Ini tolong dibereskan.”


“Kotor juga gak papa, Sayang. Besok kita akan pindahan.”


“Oh iya, ini rumah gimana, Mas? Katanya mau dijual? Tapi sayang loh.”


Sebastian mendekat dan memeluk pinggang istrinya secara perlahan. “Jual aja ya, aku males ke sini lagi.”


“Kenapa? Emang kita gak akan ke sini lagi selamanya gitu?”


“Yak e sini kalau ada kunjungan aja, Sayang. Kalau menetap lama lama…., apalagi Ibu kamu tau kan tempat ini. mending aku cari yang baru aja, biar dia gak tau.”


“Dia ganggu kamu ya?”


Sebastian mengangguk.


“Datang ke kantor kamu?”


Sebastian kembali mengangguk.


“Terus? Kamu gimanain?”


“Aku gak ngapa ngapain kok, hanya buat dia ngomong sama pengacara aku.” Sebastian berhati hati bicara karena dia tidak ingin menyinggung topic Lia. “Gak papa ‘Kan?”


“Emangnya kenapa?”


“Udah gak sensitive?”


“Hah?” nana mengadah. “Gigi aku masih sensitive.”


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


TO BE CONTINUE


__ADS_2