
🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹
🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123🌹
🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN🌹
"Kita akan pindah ke Amerika, bagaimana pendapatmu, Sayang?"
Nana terdiam mendengar hal tersebut, dia mengadahkan kepalanya menatap Sebastian yang bertanya demikian. Tentu saja dia tidak akan siap, apalagi meninggalkan sang ayah yang kini sedang sakit. "Haruskah?"
Sebastian segera berlutut di hadapan Nana yang sedang menyisir sambil duduk di pinggir ranjang. Tangan Sebastian menggenggam tangan Nana kemudian berucap, "Aku harus menjalankan perusahaan inti di sana. Jika tidak pindah pun, aku bisa ke sana dan pulang ke sini sebulan sekali."
Nana terdiam, itu berarti suaminya akan meninggalkannya. "Mas harus sekali ke sana?"
Itu cara lain agar Sebastian memastikan semua harta orangtuanya akan jatuh ke tangannya. Dengan begitu, dia bisa mewariskan semuanya pada sang istri dan juga anaknya kelak.
Sebastian ingin merebut semua kekayaan mediang ibunya yang memang seharusnya untuknya sebelum nanti bayinya lahir. Supaya dia bisa tenang meskipun keadaan tubuhnya sedang tidak baik baik saja.
"Sayang?"
"Memangnya kapan Mas akan berangkat?"
"Nanti minggu depan bersama ayahku, kau ingin ikut tinggal di sana?"
"Aku tidak bisa meninggalkan ayahku di sini."
"Tidak apa, akan aku usahakan agar pulang setidaknya dua minggu sekali. Bagaimana?"
"Kenapa kau harus pergi? Apa perusahaan di sini mulai bangkrut?"
Sebastian mencium tangan istrinya itu. "Tidak ada perkembangan di sini, jadi akan lebih baik jika pusatnya aku yang kendalikan. Supaya cabangnya bisa bagus dan aku pantau."
Nana menghela napas dalam. "Ayo bicara sambil makan, aku lapar."
Sebastian mengangguk, dia langsung menggenggam tangan Nana untuk menuruni tangga.
__ADS_1
Sampai Nana mengerutkan keningnya melihat ada parcel berbagai permen di dalamnya.
"Dari siapa itu?"
"Nyonya Ambar, Tuan."
"Oma?" tanya Sebastian kaget. Dia takjub bukan kepalang, di dalamnya ada berbagai permen warna warni. "Sayang, bisakah kita membukanya? Ini untukmu."
"Buka saja," ucap Nana yang tidak terlalu tertarik dengan hal itu.
Berbeda dengan Sebastian yang membukanya, mengambil salah satunya kemudian memakannya.
Beberapa detik dia mengunyah permen yang dia pikir adalah permen jelly sebelum akhirnya memuntahkannya ke tangan sendiri.
"Ada apa?" tanya Nana kaget.
"Rasanya aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Apa?"
Tidak lama kemudian, Sebastian mendapatkan telpon dari Oma.
"Hallo, Oma? Kenapa permennya basi? Ini pahit."
"Dasar bule tua Bodoh, itu permen jamu untuk istrimu. Kenapa kau yang makan?!"
"Apa?"
🌹🌹🌹
Nana berdiri sendirian di balkon, mendapatkan sinar matahari yang hangat di sana. Dia berfikir tentang kepergian Sebastian. Dia tidak ingin jauh dari suaminya, tapi dia juga tidak ingin meninggalkan ayahnya yang sedang sakit.
Apalagi rumah ini terlalu besar, Nana agak risih berada di tempat yang luas dengan penuh kehampaan. Meskipun diselimuti kemewahan, Nana tidak merasa senang.
__ADS_1
Dia lebih bahagia di rumah yang kecil dan penuh kasih sayang.
Tiba tiba, sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Sebastian memeluknya dari belakang sambil mencium puncak kepalanya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Sebastian.
"Tidak banyak, hanya kepergianmu."
"Sayang, aku akan usahakan akan pulang setidaknya dua minggu sekali."
Nana menghela napas dalam. "Kapan ayahmu akan kembali?"
"Aku pikir lusa."
"Kau akan tinggal bersamanya?"
"Tidak, kami berada di kota yang berbeda. Itu lumayan jauh, jadi aku tidak akan sering bertemu dengannya ataupun anak angkatnya."
"Mas nanti di sana sendirian?"
"Kau bisa liburan sesekali ke sana, Sayang."
Nana menghela napas lagi dan kemudian memeluk Sebastian sambil mengangguk.
"Ini semua demi kebaikanmu dan anak kita, Sayang," ucap Sebastian memberikan ciuman di puncak kepala istrinya lagi.
Sampai Eve menghampiri. "Maaf mengganggu anda, Tuan. Ada berita buruk."
"Ada apa?" tanya Nana.
"Ini mengenai ayah anda, Nyonya."
🌹🌹🌹
To Be Continue
__ADS_1