
🌹jangan lupa kasih emak vote🌹
🌹igeh emak difollow : @redlily12e🌹
🌹emak sayang kalian, selamat membaca🌹
Suara ketukan pintu terdengar sebelum akhirnya Hans masuk. "Tuan, Steve telah ditemukan."
"Dimana dia?"
"Dia ada di salah satu apartemen di pinggir kota, Polisi sudah membawanya. Dia bekerja sama dengan Lia sebagai kekasihnya untuk mencelakai istri anda."
Seketika Sebastian terkejut. "Nana?"
"Eve menjaganya dengan baik."
"Dimana mereka sekarang?"
"Keduanya ada di kantor polisi."
"Kita harus ke sana."
Hans mengikuti perintah majikannya, dia mengikuti majikannya keluar. Sampai seorang sekretaris yang ada di luar ruangan Sebastian berkata, "Pertemuannya masih dua jam lagi, Tuan."
"Geser jadwalnya."
"Tap--"
"Lakukan," ucap Sebastian tanpa berhentu melangkah.
"Baik, Tuan."
Hans yang menyetir, dia melihat amarah Sebastian yang berada di ubun ubun.
"Apa yang mereka rencanakan?"
"Lia memasukan cairan kimia yang bisa membuat Nyonya mengalami kemandulan."
"Astaga, mereka benar benar keterlaluan. Istriku baik baik saja bukan?"
"Nyonya ada di rumah, dia tidak ingin keluar. Sepertinya Nyonya Masih belum percaya."
__ADS_1
Mendengar istrinya baik baik saja membuat Sebastian lebih baik. Dia terdiam sepanjang perjalanan sampai akhirnya sampai di kantor polisi.
Dan dia melihat ibu mertuanya juga di sana.
"Ibu?"
"Oh Tuhan, Nak. Jangan beri dia ampun, Ibu malu dengannya. Kau bisa menghukumnya seberat beratnya, jangan khawatirkan ibu."
"A--apa?"
"Asal supirmu mengantar Ibu dengan mobil itu, Ibu baik baik saja."
Sebastian paham, dia menyuruh Hans mengantarkannya pulang.
Sebastian melangkah mendekati pengacaranya yang sudah ada di sana.
"Bagaimana dia tahu secepat ini?"
"Lia menelpon sebelumnya."
"Apa dia benar dengan perkataannya?"
"Ibu juga menyuruh saya untuk menuntut seberat beratnya."
Kemudian Sebastian masuk ke dalam, petugas mengarahkannya ke ruang introgasi di mana Steve di sana dan Lia ada di sel.
Saat melewati Lia, wanita itu berteriak minta ampun pada Sebastian. Tapi Sebastian tidak menghiraukannya, dia masuk ke ruangan instrogasi ingin melihat apa yang sedang dibicarakan Steve dan petugas. Dia melihat lewat kaca di sana.
Sebastian sedikit kaget melihat Steve mengamuk di dalam sana. "Oh astaga, apa dia gila?"
"Kami sedang memanggil petugas kesehatan mental, sepertinya dia memiliki gangguan itu."
"Terkutuklah kalian," gumam Sebastian.
🌹🌹🌹
"Sayang, kau tidak akan melakukannya bukan? Tempat itu mengerikan," ucap Sebastian memperingatkan istrinya yang ingin menemui Lia.
Nana menarik napasnya dalam dan menatap Sebastian. Sebelumnya Rina datang dan mengatakan kalau dia ingin Lia dihukum.
"Aku ingin melihatnya."
__ADS_1
"Dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Mas tidak mengira aku akan memukulnya bukan? Aku hanya ingin melihatnya, bukan menghakiminya."
Sebenarnya, Sebastian khawatir kalau istrinya akan merasa kasihan dengan Lia dan mencabut tuntutan begitu saja.
Sebastian bukan tipe pemaaf, dia hanya ingin melindungi istrinya.
"Jangan khawatir, aku tidak akan membuatnya bahagia."
Sebastian menghela napas dalam, dia akhirnya bersedia mengantar sang istri menuju tempat dimana Lia ditahan.
Sesuai keinginannya juga, Sebastian akan meninggalkan Nana hanya bersama dengan Lia dan petugas.
"Apa kau yakin, Sayang?"
"Mas, tunggulah diluar."
Sebastian akhirnya keluar, bersamaan dengan Lia yang dibawa masuk petugas.
Lia terlihat sembab, dia habis menangis.
"Nana, aku mohon keluarkan aku dari sini. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji."
Nana terdiam.
"Aku tidak akan menemuimu lagi, tolong keluarkan aku dari sini."
"Inilah kenapa kau seharusnya berfikir sebelum bertindak."
Air mata Lia keluar seketika, dia sangat ketakutan. "Kau tidak akan membiarkanku di sini selamanya kan? Ayolah, Nana. Aku ini saudarimu."
"Apa kau merasa bersalah saat memasukan bahan kimia itu?"
"Tidak, maksudku ya… ya aku merasa bersalah. Keluarkan aku dari sini."
Nana menghela napas dalam melihat perubahan raut wajah Lia yang penuh kebohongan. "Aku terus saja memikirkanmu saat dalam perjalanan ke sini."
"Lihat, itu karena kau menyayangiku."
"Tidak, itu karena aku menginjak kotoran. Aku teringat padamu."
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be Continue