Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Racun


__ADS_3

🌹Jangan lupa kasih emak vote ya ghaisss, maaf telat banyak hajatan di sini.🌹


🌹Follow juga igeh emak di : @RedLily123.🌹


🌹Emak sayang kalian, selamat membaca ya.🌹


Sebastian bangun lebih awal, dia melihat wajah istrinya yang masih terlelap. Gemas dengan bibirnya yang tipis, Sebastian mengigit kecil pelan, tapi itu membuat mata Nana terbuka perlahan dan merengek sakit. Apalagi gigitan itu cukup lama.


“Ahhh sakit,” ucapnya kemudian membalikan badan membelakangi suaminya.


Yang mana malah membuat Sebastian gemas, dia memeluk istrinya dari belakang dan menciumi punggung telanjangnya.


Sampai terhenti karena suara perut Nana. Sebastian diam, dia bergerak melihat istrinya yang ternyata kembali memejamkan matanya. “Sayang, apa kau lapar?”


“Heem,” ucap Nana masih dengan mata terpejam.


“Masih ngantuk?”


“Ngantuk.”


“Yaudah, Mas Ganteng yang buatin sarapan ya.”


Saat itu mata Nana terbuka, dia terlentang menatap sang suami yang duduk di sampingnya. “Mas lapar? Biar aku aja yang masak.”


“No,” ucap Sebastian menahan Nana agar tidak bangun, dia memaksa tetap di ranjang.


“Permisi, Mas. Aku mau masak dulu,” ucap Nana yang mencoba berontak.


Tapi Sebastian malah menindihnya supaya istrinya tidak berkutik.


“Mas, permisi,” ucap Nana mencoba tenang.


“Diem di sini, biar aku yang masak oke? Kamu tidur aja lagi ya.”


Nana mencoba mengeluarkan pendapat, tapi Sebastian menyela perkataan istrinya, “Atau aku gerepe dulu.”

__ADS_1


“Grepe apa sih? Yaudah sana masak,” ucap Nana yang menolak kembali beraktivitas di atas ranjang.


Pasalnya semalaman saja membuatnya kenyang.


Sebastian tertawa, dia mencium ujung hidung istrinya sebelum memakai boxer.


“Mas, jangan pake itu doang.”


“Enggak lah,” jawab Sebastian menahan tawa, dia juga memakai kaosnya takut otot kesayangannya terciprati minyak. “Tunggu di sini ya, Sayang.”


Sebastian dengan semangatnya ke dapur, dia membuat telur mata sapi yang sangat sempurna. Merebus sayur sayuran hijau yang hanya ditambahi garam saja. sebastian ingin menerapkan gaya hidup sehat untuknya dan Nana supaya mereka berdua bisa berumur panjang dengan anak anak yang lucu.


Dan ketika Sebastian selesai, dia tidak sabar memanggil istrinya. Karena dalam rencananya, setelah makan mereka akan mandi bersama sambil melihat hutan yang indah.


Namun saat masuk ke kamar, “Sayang, makanannya sudah si⸻ Kok mandi sih?”


“Lah, emang kenapa?”


Sebastian mengerucutkan bibirnya, pasalnya dia merasa tidak percaya diri. Istrinya sudah sangat cantik, sementara dirinya belum mandi.


“Aku merasa insecure, Sayang.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


“Hans siapa, Nyonya? Maaf tapi bidang penyalur tenaga kerja yang menyuruh saya datang ke sini,” ucap pengasuh itu berdusta, karena memang pekerjaannya sekaligus mengawasi.


Lucille mengerutkan keningnya. “Kau yakin?”


“Iya, Nyonya.”


Membuat Lucille berdehem. “Awas saja kalau kau mencoba mengawasiku. Ahhh rasanya sunggul penuh kesialan, kenapa pengasuhku tiba tiba sakit. Michael!”


Anak kecil itu datang, dia mendengarkan bagaimana ibunya memperkenalkan pengasuh baru padanya. “Hallo, My name is Michael.”


“Hallo Michael, my name is Sifa.”

__ADS_1


“Nice to meet you, Sifa.”


“Nice to meet you too.”


Lucille mengangguk melihat anaknya mudah akrab. “Aku akan ke rumah sakit untuk melihat suamiku, jaga dia di sini.”


“Baik, Nyonya.”


“Hubungi aku jika ada apa apa.”


“Baik.”


Dan setelahnya, pengasuh itu ditinggalkan bersama dengan anaknya. Lucille keluar dari kamar hotel yang besar nan mewah ini.


Namun saat pengasuh itu sedang bermain bersama anak majikannya, terdengar suara bel dari pintu. Dan tidak mungkin itu adalah Lucille mengingat majikannya punya kodenya.


Saat melihat dari layar monitor, pengasuh itu terkejut melihat seorang pria asing. Namun, mungkin saja pria ini menyimpan informasi penting, jadi pengasuh itu membukanya.


“Hallo, Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?”


“Siapa kau?”


“Pengasuh Tuan Michael.”


“Oh, kau pengasuh anakku.”


“Maaf?” tanya pengasuh itu kebingungan.


“Lupakan saja, kemana Lucille?”


“Dia pergi ke rumah sakit.”


Pria itu menyeringai, membuat sang pengasuh merasa heran. “Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?”


“Oh iya, berikan ini pada Lucille. Bilang padanya ini adalah pencabut nyawa si tua Bangka.”

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


To Be Continue


__ADS_2