Gadis Desa Milik CEO

Gadis Desa Milik CEO
Teh Kehamilan


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA ANAK ANAK KESAYANGAN EMAK🌹


🌹IGEH EMAK JUGA DIFOLLOW DI : @REDLILY123.🌹


🌹SELAMAT MEMBACA, EMAK SAYANG KALIAN.🌹


Seperti biasanya, Nana selelu terlelap setelah dia naik pesawat. Sebastian yang selalu menggendongnya saat memasuki rumah baru mereka. Dia menarik napas panjang dan melangkah masuk.


“Ini rumah baru kita, Sayang. Tapi kau selalu tidur saat pertama kali kita datang ke sini.”


Rumah yang sekarang tidak seluas rumah sebelumnya, Sebastian sengaja supaya istrinya tidak merasakan ruangan kosong dan merasakan kesepian yang begitu mendalam. Rumah ini hanya terdiri empat kamar tidur di lantai dua, dan enam di bawah untuk pelayan di sini. Ditambah kolam renang. Untuk kali ini tidak ada kapal pesiar, mengingat mereka dekat dari pantai dan sungai, Sebastian memilih akan mengajak Nana sesekali ke sana supaya tidak bosan.


Dan saat menidrkan Nana di kasur, mata istrinya itu sedikit terbuka.


“Oh, hallo, Sayang.”


“Kita sudsh sampai?” tanya Nana sambil mengucek matanya.


Sebastian mengangguk. “Bagaimana pendapatmu?”


“Tentang apa?”


“Rumah ini?”


“Aku hanya ingin tidur,” ucapnya berguling membelakangi Sebastian dan kembali memejamkan mata. “Aku mual, tolong jangan ganggu.”


“Oh, oke,” ucap Sebastian memilih memastikan barang segera dimasukan.


Dia turun ke lantai bawah. 


“Tuan?”


“Iya, Eve?”

__ADS_1


“Untuk pembelajaran Nyonya, haruskan saya mulai mengagendakan untuk sekarang?” tanya Eve.


“Tidak, biarkan saja dia meminta apa yang dia inginkan. Dia bilang ingin menjual seblak.”


“Seblak?” tanya Eve terkejut. “Seblak kemasan?”


“Ya, dia bilang ingin memiliki rutinitas. Tapi, Eve, tolong bujuk dia untuk memulai bisnis yang tidak terlalu melelahkan, seperti jualan limun atau apa sehingga tidak banyak menumpahkan konsentrasi.”


“Baik, Tuan.”


Sebastian menuju ke kolam renang yang kini berada di bagian depan. Beda dari inforrmasi, ternyata dia sangat dekat dengan rumah orang lain. Hanya terhalang oleh benteng dan beberapa pohon. Namun Sebastian bisa mengagumi dan memberikan Hans bintang lima karena memilihkan tempat yang tepat.


“Ya, ini bagus. Disini ramai dan indah, dekat dengan tempat wisata, jadi kami bisa keluar kapan saja meskipun waktu kami hanya sedikit saja.”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Nana terbangun dan tidak mendapati suaminya, dia baru menyadari betapa megahnya rumah ini. “Wahh…., ini lebih indah,” gumamnya menumpahkan kekaguman.


“Tuhanku, terima kasih untuk semua ini. aku merasa di surge,” ungkap Nana yang tidak pernah menyangka dirinya akan mendapatkan hal hal seperti ini dalam hidupnya.


Saat sedang menuruni tangga, Nana dan Eve bertemu.


“Nyonya, saya hendak membawakan ini untuk anda.”


“Apa itu?”


“Teh herbal.”


“Terima kasih, Eve,” ucap Nana mengambilnya dari baki. Dia masih memegangnya, untuk meminumnya Nana masih mencari tempat yang tepat. “Dimana suamiku?”


“Tadi ada di halaman depan, Nyonya.”


“Baiklah.”

__ADS_1


“Sebaiknya anda minum teh itu, Nyonya. Supaya anda tenang dan rileks.”


“Aku akan meminumnya setelah menemukan tempat yang bagus, terima kasih, Eve.”


“Sama sama, Nyonya.”


Nana melangkah ke depan, dia mengangguk puas. “Ini lebih kecil dan simple, menakjubkan,” ucap Nana.


Dia masih mengedarkan pandangan mencari keberadaan suaminya.


Sampai Nana melihat seorang pria yang berlari mendatanginya.


“Sayang, jangan ke sini. Jangan ke sini, ada kecoa di sana. Oh astaga, Sayang. Ayo ke dalam.”


“Tenanglah, Mas. Tarik napas, minum teh ini supaya kau rileks.”


Tanpa basa basi, Sebastian yang pucat pasi meminumnya.


“Sudah mendingan?”


“Ayo ke dalam.”


“Oke,” ucap Nana menggenggam tangan Sebastian, sampai menemukan Eve dan berkata, “Ini cangkir kosongnya, terima kasih, Eve.”


“Saya akan membuat teh ini setiap sore, Nyonya. Ini bagus untuk kehamilan anda.”


“Baiklah,” jawab Nana.


“Teh kehamilan?” tanya Sebastian.


🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2